<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727</id><updated>2012-02-16T05:37:35.702-08:00</updated><title type='text'>MELOMPAT LEBIH TINGGI DAN LEBIH JAUH</title><subtitle type='html'>KONTEMPLASI TANPA IMAJINASI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-1742835304857929208</id><published>2011-07-04T02:55:00.000-07:00</published><updated>2011-07-04T03:21:05.790-07:00</updated><title type='text'>KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA (Sebuah Pengantar)</title><content type='html'>Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi (Tubbs, Moss:1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antar budaya memiliki akarnya dalam bahasa (khususnya sosiolinguistik), sosiologi, antropologi budaya, dan psikologi. Dari keempat disiplin ilmu tersebut, psikologi menjadi disiplin acuan utama komunikasi lintas budaya, khususnya psikologi lintas budaya. Pertumbuhan komunikasi antar budaya dalam dunia bisnis memiliki tempat yang utama, terutama perusahaan – perusahaan yang melakukan ekspansi pasar ke luar negaranya notabene negara – negara yang ditujunya memiliki aneka ragam budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, makin banyak orang yang bepergian ke luar negeri dengan beragam kepentingan mulai dari melakukan perjalanan bisnis, liburan, mengikuti pendidikan lanjutan, baik yang sifatnya sementara maupun dengan tujuan untuk menetap selamanya.Satelit komunikasi telah membawa dunia menjadi semakin dekat, kita dapat menyaksikan beragam peristiwa yang terjadi dalam belahan dunia,baik melalui layar televisi, surat kabar, majalah, dan media on line. Melalui teknologi komunikasi dan informasi, jarak geografis bukan halangan lagi kita untuk melihat ragam peristiwa yang terjadi di belahan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McLuhan (dalam Infante et.al, 1990 : 371) menyatakan bahwa dunia saat ini telah menjadi “Global Village” yang mana kita mengetahui orang dan peristiwa yang terjadi di negara lain hampir sama seperti layaknya seorang warga negara dalam sebuah desa kecil yang menjadi tetangga negara – negara lainnya.Perubahan sosial adalah hal lain yang berpengaruh dalam komunikasi antar budaya adalah dengan makin banyaknya perayaan - perayaaan budaya sebuah etnis dalam sebuah negara. Perbedaan budaya dalam sebuah negara menciptakan keanekaragaman pengalaman, nilai, dan cara memandang dunia. Keanekaragaman tersebut menciptakan pola – pola komunikasi yang sama di antara anggota – anggota yang memiliki latar belakang sama dan mempengaruhi komunikasi di antara anggota – anggota daerah dan etnis yang berbeda.Perusahaan – perusahaan yang memiliki cabangnya di luar negeri, tentunya merupakan syarat mutlak bagi para karyawannya untuk memiliki bekal pengetahuan yang cukup mengenai situasi dan kondisi budaya yang akan dihadapinya (intercultural competence), salah – salah jika mereka gagal berkomunikasi dengan budaya yang dihadapinya, perusahaan hanya akan bertahan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Gudykunst and Kim (2003:17) mengkonsepkan fenmena komunikasi antar budaya sebagai “... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah transaksional, proses simbolik yang mencakup pertalian antar individu dari latar belakang budaya yang berbeda.” Kata kuncinya adalah proses. Dalam wacana orang Swedia istilah kulturmöte (literally cultural encounter) seringkali diartikan pada beberapa singgungan (atau pertentangan) antar budaya (seperti, dalam literatur, gaya komunikasi, gaya manajemen, adat istiadat, dan orientasi nilai). Namun demikian, beberapa pertemuan biasa dianalisis tanpa mempertimbangkan pada karakter prosesnya. Komunikasi antar budaya seharusnya, dapat dipandang dan dianalisa sebagai sebuah proses yang kompleks, bukan sekedar sebuah pertemuan. Lebih lanjut, komunikasi antar budaya, oleh beberapa ilmuwan sosial dilihat sebagai sebuah disiplin akademik – data dikatakan, satu cabang dari ilmu komunikasi, berlabuh dalam karakteristik ontologinya, epistemiologi dan asumsi – asumsi aksilogi. Pada saat yang bersamaan, komunikasi antar budaya adalah sebuah lingkup studi yang berhubungan dengan berbagai disi[lin ilmu lainnya (seperti psikologi, psikologi sosial, sosiologi, pendidikan, studi media, antropologi budaya dan manajemen). Bagi ilmu – ilmu tersebut, komunikasi antar budaya dipandang sebagai sebuah objek studi atau sebuah permasalahan dalam bidang disiplin ilmu – ilmu tersebut[1]. Damen[2] (1987: 23) mendefinisikan komunikasi komunikasi antar budaya sebagai “tindakan – tindakan komunikasi yang dilakukan oleh individu – individu yang diidentifikasikan dengan kelompok – kelompok yang menampilkan variasi antar kelompok dalam bentuk pertukaran sosial dan budaya. Pertukaran bentuk, ekspresi individu, adalah variabel – variabel utama dalam tujuan, tatakrama, cara, dan arti – arti yang mana proses komunikatif memberikan efek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antar budaya, Lustig and Koester’s menyatakan (2003: 49-51), adalah sebuah “proses simbolik yang mana orang dari dari budaya – budaya yang berbeda mneciptakan pertukaran arti – arti”. Hal tersebut terjadi “ketika perbedaan – perbedaan budaya yang besar dan penting menciptakan interpretasi dan harapan – harapan yang tidak sama mengenai bagaimana berkomunikasi secara baik”. Jandt (2004: 4) mengatakan komunikasi antar budaya tidak hanya komunkasi antar individu tapi juga di antara “kelompok – kelompok dengan identifikasi budaya yang tersebar’. Ringkasnya, komunikasi antar budaya menjelaskan interaksi antar individu dan kelompok – kelompok yang memiliki persepsi yang berbeda dalam perilaku komunikasi dan perbedaan dalam interpretasi. Beberapa studi mengenai komunikasi antar budaya menguji apa yang terjadi dalam kontak dan interaksi antar budaya ketika proses komunikasi mencakup orang – orang yang secara budaya tersebar (Samovar &amp; Porter 1997). Sebuah permasalahan yang sama dalam komunikasi antar budaya muncul “ketika orang – orang yang menjelaskan dirinya sebagai kelompok yang berbangsa dan beretnis sama tidak mau melakukan pertukaran ide – ide mengenai bagaimana menunjukkan identitas mereka dan tidak menyetujui tentang norma – norma untuk interaksi” (Collier 1997: 43). Untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif, individu seharusnya mengembangkan kompetensi antar budaya; merujuk pada keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif Jandt (1998, 2004) mengidentifikasikan empat keterampilan sebagai bagian dari kompetensi antar budaya, yaitu personality strength, communication skills, psychological adjustment and cultural awareness. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat diragukan bahwa kompetensi antar budaya adalah sebuah hal yang sangat penting saat ini. Pendatang sementara secara kolektif disebut sebagai sojourners atau biasa kita kenal dengan istilah ekspatriat, yaitu sekelompok orang asing (stranger) yang tinggal dalam sebuah negara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan negara tempat mereka berasal.Oberg (1960) menggunakan istilah sojourners untuk mengindikasikan kesulitan – kesulitan yang muncul dari pembukaan lingkungan yang tidak dikenal. Kesulitan yang dialami oleh sojourners tidak sama. Beberapa variabel utama mencakup jarak antara budaya tempat mereka berasal dengan budaya tempat pribumi, jenis keterlibatan, lamanya kontak, dan status pendatang dalam sebuah negara (cf. Bochner, 1982)Berdasarkan hasil beberapa penelitian mengatakan bahwa tinggal di negara orang lain tidak secara otomatis menggiring pada sikap positif terhadap negara tersebut. Bukti dalam penelitian seringkali muncul yang negatifnya dibandingkan dengan yang positifnya selama tinggal di negara orang lain, setidaknya di kalangan pelajar (Stroeb, Lenkert, &amp; Jonas, 1988) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Komunikasi Antar Budaya adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktik komunikasi&lt;br /&gt;•  Mengkomunikasi antar orang yang berbeda budaya&lt;br /&gt;• Mengidentifikasikan kesulitan – kesulitan yang muncul dalam komunikasi &lt;br /&gt;• Membantu mengatasi masalah komunikasiyang disebabkan oleh perbedaan budaya &lt;br /&gt;• Meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi &lt;br /&gt;• Menjadikan kita mampu berkomunikasi secara efektif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan mengapa perlunya komunikasi antar budaya, antara lain: a) membuka diri memperluas pergaulan; b) meningkatkan kesadaran diri; c) etika/etis; d) mendorong perdamaian dan meredam konflik; e) demografis; f) ekonomi; g) menghadapi teknologi komunikasi; dan h) menghadapi era globalisasi. (Alo Liliweri, 2003). Komunikasi antar budaya menurut Samovar dan Porter merupakan komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya suku bangsa, etnik, dan ras, atau kelas sosial. Komunikasi antar budaya ini dapat dilakukan dengan negosiasi, pertukaran simbol, sebagai pembimbing perilaku budaya, untuk menujukkan fungsi sebuah kelompok. Dengan pemahaman mengenai komunikasi antar budaya dan bagaimana komunikasi dapat dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana komunikasi dapat mewujudkan perdamaian dan meredam konflik di tengah-tengah masyarakat. Dengan komunikasi yang intens kita dapat memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman, komunikasi dapat mengurangi eskalasi konflik sosial. Menurut Charles E Snare bahwa usaha meredam konflik dan mendorong terciptanya perdamaian tergantung bagaimana cara kita mendefinisikan situasi orang lain agar kita dapat mencapai perdamaian dan kerjasama. Dalam berbagai kasus politik E Snare mengatakan “Kita perlu mengerti bagaimana letak bingkai rujukan para aktor politik dan darimana pikiran mereka berasal”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas dengan mempelajari komunikasi antar budaya berarti kita mempelajari (termasuk membanding) kebiasaan-kebiasaan setiap etnis, adat, agama, geografis dan kelas sosial di masyarakat kita. Dengan pemahaman tersebut kita mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan tersebut dengan komunikasi antar budaya, guna menyelesaikan konflik melalui dialog yang baik antara lain dengan identifikasi perspektif budaya.&lt;br /&gt;Hakikat Komunikasi Antarbudaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Enkulturasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga ke-agamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akulturasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran emudian berdiam di AS (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fungsi-Fungsi Komunikasi Antarbudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fungsi Pribadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komuniasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.&lt;br /&gt;•Menyatakan Identitas Sosial&lt;br /&gt; Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu  &lt;br /&gt; yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial perlikau itu dinyatakan melalui  &lt;br /&gt; tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah &lt;br /&gt; dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul &lt;br /&gt; suku bangsa, agama, , maupun tingkat pendidikan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Menyatakan Integrasi Sosial&lt;br /&gt;  Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, &lt;br /&gt;  antar kelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap &lt;br /&gt;  unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna &lt;br /&gt;  yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus &lt;br /&gt;  komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan &lt;br /&gt;  komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip &lt;br /&gt;  utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya &lt;br /&gt;  memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan &lt;br /&gt;  sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat &lt;br /&gt;  meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Menambah Pengetahuan&lt;br /&gt;  Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan  &lt;br /&gt;  bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Melepaskan Diri atau Jalan Keluar&lt;br /&gt;  Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau  &lt;br /&gt;  mencari jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi  &lt;br /&gt;  seperti itu kita namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang  &lt;br /&gt;  komplementer dan hubungan yang simetris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hubungan komplementer selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perlaku yang  &lt;br /&gt;  berbeda. Perilaku seseorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari &lt;br /&gt;  yang lain. Dalam hubungan komplementer, perbedaan di antara dua pihak   &lt;br /&gt;  dimaksimumkan. Sebaliknya hubungan yang simetris dilakukan oleh dua orang yang  &lt;br /&gt;  saling bercermin pada perilaku lainnya. Perilaku satu orang tercermin pada  &lt;br /&gt;  perilaku yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fungsi Sosial&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;• Pengawasan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Funsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;•Menjembatani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;• Sosialisasi Nilai&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;• Menghibur&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depan Honolulu Zaw, Honolulu hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prinsip-Prinsip Komunkasi Antarbudaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•( terdapatnya golongan ningrat sebagai budaya yang tertinggi))&lt;br /&gt;  hal ini terlihat dari adanya ketimpangan pemlihan calon gubernur yang &lt;br /&gt;  mengharuskan  dari keturunan darah biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Relativitas Bahasa&lt;br /&gt;  Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perlkau paling banyak  &lt;br /&gt;  disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan  &lt;br /&gt;  disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi  &lt;br /&gt;  proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam  &lt;br /&gt;  hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan &lt;br /&gt;  bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara &lt;br /&gt;  mereka memandang dan berpikir tentang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bahasa Sebagai Cermin Budaya&lt;br /&gt;  Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan  &lt;br /&gt;  komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar &lt;br /&gt;  perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin  &lt;br /&gt;  sulit komunikasi dilakukan.Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih &lt;br /&gt;  banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar &lt;br /&gt;  kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong &lt;br /&gt;  kompas (bypassing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mengurangi Ketidak-pastian&lt;br /&gt;  Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas  &lt;br /&gt;  dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian &lt;br /&gt;  ini sehingga kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan &lt;br /&gt;  perilaku orang lain. Karena letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, &lt;br /&gt;  diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk &lt;br /&gt;  berkomunikasi secara lebih bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya[5]&lt;br /&gt;  Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para  &lt;br /&gt;  partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. &lt;br /&gt;  Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah &lt;br /&gt;  kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. &lt;br /&gt;  Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang &lt;br /&gt;  percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Interaksi Awal dan Perbedaan Antarbudaya&lt;br /&gt;  Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur  &lt;br /&gt;  berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun &lt;br /&gt;  kita selalu menghadapi kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain, &lt;br /&gt;  kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;• Memaksimalkan Hasil Interaksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Dalam komunikasi antarbudaya - seperti dalam semua komunikasi - kita berusaha &lt;br /&gt;  memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank &lt;br /&gt;  (1989) mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai &lt;br /&gt;  contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan &lt;br /&gt;  memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin &lt;br /&gt;  menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan &lt;br /&gt;  sekelas yang banyak kemiripannya dengan anda ketimbang orang yang sangat berbeda.&lt;br /&gt;  Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan &lt;br /&gt;  meningkatkan komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai &lt;br /&gt;  menarik diri dan mengurangi komunikasi.&lt;br /&gt;  Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan &lt;br /&gt;  hasil positif. dalam komunikasi, anda mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, &lt;br /&gt;  pilihan topik, posisisi yang anda ambil, perilaku nonverbal yang anda tunjukkan, &lt;br /&gt;  dan sebagainya.[5] Anda kemudian melakukan apa yang menurut anda akan memberikan &lt;br /&gt;  hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang menurut anda akan memberikan &lt;br /&gt;  hasil negatif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Rujukan&lt;br /&gt;Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Human Communication :Konteks-konteks Komunikasi. 1996. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal. 236-238&lt;br /&gt;Andrik Purwasito. Komunikasi Multikultural. 2003. Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 123&lt;br /&gt;Fred E. Jandt. Intercultural Communication, An Introduction. 1998. London. Sage Publication. Hal. 36&lt;br /&gt;Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 2003. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal. 11-12,36-42&lt;br /&gt;Joseph A. Devito. Komunikasi Antarmanusia. Kuliah Dasar. Jakarta. Professional Books. Hal. 479-488&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-1742835304857929208?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/1742835304857929208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=1742835304857929208&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/1742835304857929208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/1742835304857929208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2011/07/komunikasi-antar-budaya-sebuah.html' title='KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA (Sebuah Pengantar)'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-5235651662543759973</id><published>2011-05-31T06:44:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T06:45:07.682-07:00</updated><title type='text'>31 Mei 2009 - 31 Mei 2011</title><content type='html'>Sekedar mengetahui saja, kali ini sy benar2 merasa merindukanmu...hari ini tepat 3 tahun semenjak kt pertama kali berjumpa pd sbuah Mall, saat yg paling mendebarkan skaligus membahagiakan dalam hidup ku...tidak butuh lama utk bisa mencintaimu..dan sampai detik ini, tak pernah sedetik pun hatiku meninggalkanmu,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 3 tahun kebersamaan kita, melewati berbagai macam hal, segala perih, segala tawa, segala sedu sedan dan sakit hati yg menikam nikam, dan bahagia yang membuncah.. Smua itu Membuat saya berpikir, kalau-kalau kita adalah pasangan sejati...dan telah termaktub di langit bahwa kita tlah ditakdirkan berjodoh... Tapi, saya keliru. Kamu skrg menjadi  bagian masa lalu yang tidak bisa saya hapus dari ingatanku, Saya tidak bisa melepas apa yang saya sebut 'kangen'. Kadang, perasaan mencintai seperti kebetulan yang tidak direncanakan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-5235651662543759973?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/5235651662543759973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=5235651662543759973&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/5235651662543759973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/5235651662543759973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2011/05/31-mei-2009-31-mei-2011.html' title='31 Mei 2009 - 31 Mei 2011'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-6034168504909293943</id><published>2011-05-31T03:31:00.001-07:00</published><updated>2011-05-31T03:40:31.380-07:00</updated><title type='text'>Hey aku datang lagi</title><content type='html'>Rasanya sudah lama tidak pernah berkunjung ke tempat ini. serasa mendatangi rumah tua yang tidak pernah ter-urus lagi. sebenarnya banyak hal yang ingin saya ceritakan kepada dunia, tapi entahlah jemari ini serasa tidak mau bekerja sama dengan otak. mungkin aku terlalu apatis menjalani kisah hidupku sehingga merasa tidak ada yang menarik untuk diceritakan. segalanya berjalan begitu saja tanpa ada lompatan-lompatan katak. selesai S2, bekerja, dan merencanakan pernikahan. sayangnya rencana yang terakhir itu harus buyar. yaah dia memutuskan untuk menerima pilihan orang tuanya tepat 2 bulan sebelum aku menemui orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini memang sungguh kehilangan yang keterlaluan. sekian lama aku memperjuangkannya, tidak peduli terhinakan, tertikam dari belakang namun aku tetap memutuskan berdiri di sampingya. hari ini 31 Mei 2o11 tepat 3 tahun lalu kali pertamanya kami bertemu di sebuah Mall makassar. saat pertama kali melihatnya satu-satunya pikiran yang terlintas dibenakku "perempuan inilah yang akan mendampingiku kelak, menghabiskan hari-hari di sebuah rumah di atas bukit yang dibawahnya ada sungai jernih yang mengalir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAH SEKARANG DIA TELAH MENJADI ADIKKU, PADAHAL 3 TAHUN LALU SAYA KIRA DIA AKAN MENJADI ISTRIKU....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-6034168504909293943?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/6034168504909293943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/6034168504909293943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2011/05/hey-aku-datang-lagi.html' title='Hey aku datang lagi'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-2718769993721850028</id><published>2009-10-25T05:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T05:03:06.128-07:00</updated><title type='text'>Pesan menurut Tradisi Sosiopsikologis</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUSER%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:457338938; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1120578288 279090236 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Wingdings; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @list l1 	{mso-list-id:637882855; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-541418848 -1646495144 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Wingdings; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @list l2 	{mso-list-id:725030574; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-837675032 1647862718 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l3 	{mso-list-id:1104689431; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1129837004 -1640712396 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in;} @list l4 	{mso-list-id:1761176401; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1611097932 -1064787848 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in;} @list l5 	{mso-list-id:1982879226; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-570791126 2031914542 -1817400260 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in;} @list l5:level2 	{mso-level-tab-stop:1.25in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:1.25in; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Ruang lingkup Pesan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Bagaimana menggunakan bahasa- kata dan kalimat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Bagaimana menyampaikannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Petunjuk nonverbal dan perilaku apa saja yang menyertainya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Fokus Sosiopsikologis:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Komunikator individual dalam mengelola pesan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Berorientasi kognitif dalam menjelaskan bagaimana individu mengeintegrasikan informasi dan merencanakan pesan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Pilihan dan strategi individu dalam mencapai tujuan pesan, dan perbedaan pada tiap individu dalam merencanakan pesan dan disainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Teori dan Model:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;(1) &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Teori Action Assembly&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, (2) &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Model Strategy Choice&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, (3) &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Model Message Design&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dan (4) &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Teori Semantic Meaning&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Teori &lt;i style=""&gt;Action Assembly&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;John Greene:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Menyelidiki cara kita mengorganisasikan pengetahuan di pikiran kita dan menggunakannya untuk membentuk pesan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Pesan dibentuk berdasarkan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;(a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Content Knowledge&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Kita tahu sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;(b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Procedural Knowledge&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Kita tahu bagaimana melakukan sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Penjelasan: Kumpulan pengetahuan tentang perilaku, konsekuesi, dan situasi yang saling terkait yang kita rangkai di pikiran menjadi prosedur kita berperilaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Procedural Records&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Pengetahuan2 yang sering kita aktifkan secara bersama-sama yang kemudian terekam kuat di pikiran kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Selecting&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Kita melakukan seleksi terhadap rekaman sejumlah prosedur perilaku dan memilih beberapa yang paling cocok untuk diterapkan dalam situasi tertentu supaya konsekuensi yang kita harapkan terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Unitized Assemblies&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Perilaku yang terprogram, yang sudah menjadi kebiasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Output Representation&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Rencana yang timbul di pikiran kita mengenai tindakan yang akan kita ambil ketika menghadapi situasi tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Coalition&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Sejumlah prosedur yang berbeda terpicu muncul di pikiran, kemudian saling berkoalisi menyusun rencana2 dalam bentuk &lt;i style=""&gt;Output Representation&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Decay&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Rencana yang yang kurang relevan akan tersingkir dengan sendirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Model2 &lt;i style=""&gt;Strategy Choice&lt;/i&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Compliance Gaining&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Mendapatkan kepatuhan orang lain.Tujuan komunikasi umumnya adalah agar orang lain mengikuti keinginan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Gerald Marwell dan David Schmitt:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Pendekatan teori pertukaran. Kepatuhan didapat setelah pencari kepatuhan menukarkannya dengan sesuatu yang lain yang ia tawarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Model ini berorientasi kekuasaan atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berdasarkan sumber daya yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Lima Straregi umum atau taktik memperoleh kepatuhan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Rewarding&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (termasuk Promising)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Punishing&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (termasuk Threatening)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Expertise&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (termasuk memberitahu adanya &lt;i style=""&gt;Reward&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Impersonal Commitments&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (termasuk tuntutan moral)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Personal Commitments&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (seperti mengingatkan utang)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Lawrence Wheeless,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Robert Barraclough, dan Robert Stewart:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kekuasaan merupakan akses kepada sumber2 yang berpengaruh. Besarnya kekuasaan kita adalah sebanyak kekuasaan yang menurut persepsi orang lain kita miliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Tiga tipe umum kekuasaan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kemampuan yang dipersepsikan dapat memanipulasi konsekuensi suatu perbuatan. Misalnya, &lt;i style=""&gt;punishment and reward&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kemampuan yang dipersepsikan dapat menentukan posisi seseorang dalam hubungannya dengan orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kemampuan yang dipersepsikan dapat memutuskan nilai yang harus diberlakukan atau kewajiban yang perlu dikerjakan..&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Constructivism&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Jesse Delia: Individu menginterpretasi dan bertindak menurut kategori2 konseptual di pikiran. Realitas mengemuka setelah disaring melalui cara tiap orang melihat sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Sebagian didasarkan pada Teori &lt;i style=""&gt;Personal Constructs&lt;/i&gt; George Kelly:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kita memahami pengalaman dengan mengelompokkan kejadian menurut kesamaan dan membuat pembedaan antar sesuatu hal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Perbedaan dibuat di dalam sistem kognisi individu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Dengan mengklasifikasi pengalaman ke dalam kategori2, individu memberi makna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Konstruk diorganisasikan ke dalam skema interpretatif- yang berkembang mengikuti kedewasaan seseorang dan interaksinya dengan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Cognitive Differentiation&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Banyaknya konstruk yang kita pakai untuk membahas topik tertentu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Delia:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Pesan bervariasi menurut tingkat kompleksitasnya. Pesan yang kompleks berisi tujuan2 yang terpisah untuk dicapai secara bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Perceptive Taking&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Kemampuan seseorang membuat pesannya dimengerti karena kompleksitas kognitif yang dimilikinya untuk mengerti perspektif orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Person-Centered Communication&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Menyesuaikan komunikasi seseorang dengan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Politeness Strategies&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kesantunan atau menyelamatkan muka orang lain, sering menjadi salah satu tujuan yang kita ingin capai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Penelope Brown dan Steven Levinson:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Setiap hari kita merancang pesan yang menyelamatkan wajah sekaligus mencapai tujuan lainnya. Karena itu, kesantunan adalah nilai yang universal yang terdapat di semua budaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Face Needs&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Setiap orang butuh dihargai dan dilindungi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Positive Face&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Hasrat untuk dihargai dan diakui, disukai dan dihormati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Negative Face&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Hasrat untuk bebas dari beban dan gangguan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Face-Threatening Acts (FTAs)&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Kita melakukan aksi mengancam ini setiap saat kita merasa perilaku kita berpotensi gagal memenuhi Face Needs.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Model2 &lt;i style=""&gt;Message Design&lt;/i&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Planning Theory&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Charles Berger:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Proses yang ditempuh individu dalam merencanakan perilaku komunikasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Rencana2 adalah representasi kognitif yang hirarkis atas rangkaian aksi yang mempunyai tujuan. Atau dengan kata lain, langkah2 yang kita bayangkan untuk mencapai tujuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Social Goals&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Komunikasi menjadi penting untuk memenuhi tujuan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Metagoals.&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; Tujuan2 yang merupakan bagian dari proses perencanaan itu sendiri; sebagai panduan bagi rencana yang kita buat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Canned Plans&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Rencana yang tersimpan di memori jangka panjang kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Working Memory&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Tempat kita dapat menggunakan beberapa bagian dari rencana, pengetahuan, dan pemikiran kreatif lama kita sebagai cara untuk mendekati masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Specific Domain Knowledge&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Informasi tentang topik rencana kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;General Domain Knowledge&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Informasi tentang bagaimana mengkomunikasikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Low-Level Plan Hierarchy Alterations&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Mencoba aksi lain yang spesifik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Kelayakan sosial adalah metagoal yang penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Action Fluidity&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Kenyamanan dalam melaksanakan rencana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Message Design Logic &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Barbara O’Keefe:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Pikiran tiap orang berbeda mengenai komunikasi dan pesan, dan merekapun memakai logika yang berbeda dalam memutuskan apa yang mereka katakan kepada orang lain dalam situasi yang mereka hadapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Istilah logika disain pesan menggambarkan proses di balik pesan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Expressive Logic&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Komunikasi sebagai alat ekspresi diriuntuk mengkomunikasikan perasaan dan pikiran. Maka pesannya terbuka dan bersifat reaktif. &lt;i style=""&gt;Self-centered&lt;/i&gt;, bukannya &lt;i style=""&gt;person-centered&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Conventional Logic&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Komunikasi sebagai permainan yang dimainkan dengan mengikuti aturan. Sebagai alat ekspresi diri yang tunduk kepada aturan dan norma2, termasuk hak dan kewajiban tiap orang yang terlibat. Pesannya santun, pantas, sesuai aturan yang tiap orang sudah ketahui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Rethorical Logic&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Komunikasi sebagai cara mengubah aturan melalui negosiasi. Pesannya didisain fleksibel, penuh ide, dan person-centered. Persuasi dan kesopanan menjadi tujuan yang harus sama2 dicapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Message Diversity&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Situasi yang membuat pesan bisa berbeda atau sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Semantic Meaning Theory&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Interpretasi adalah istilah untuk cara kita memahami pengalaman kita. Untuk itu, makna dipelajari, dan karenanya berhubungan dengan pikiran dan perilaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Charles Osgood:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Learning Theory&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;: Hubungan Stimuli – Respon berpengaruh dalam menciptakan makna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Urutan proses S – R: (1) Stimuli Fisik, (2) Respon Internal, (3) Stimuli Internal, (4) Respon Keluar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Connotative&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Makna yang bersifat internal dan unik menurut pengalaman pribadi individu terhadap stimuli alami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Makna juga merupakan hasil dari dipelajarinya hubungan antar tanda. Berlangsung secara abstrak, tanpa kontak fisik dengan stimuli aslinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Semantic Differentials&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Metode pengukuran makna dengan memakai kata2 sifat untuk mengekspresikan konotasi kita terhadap stimuli, termasuk tanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Factor Analysis&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Teknik statistik untuk mencari dimensi dasar makna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;n&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Semantic Space Theory&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;. Makna kita terhadap tanda terdapat di alam metaforis tiga dimensi berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Evaluation &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;(baik atau buruk)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Activity&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (aktif atau tidak aktif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 16pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;Potency&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt; (kuat atau lemah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-2718769993721850028?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/2718769993721850028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/2718769993721850028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2009/10/pesan-menurut-tradisi-sosiopsikologis.html' title='Pesan menurut Tradisi Sosiopsikologis'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-4092522425094163741</id><published>2008-12-26T10:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T10:46:57.925-08:00</updated><title type='text'>“PERSELINGKUHAN ANTARA LEMBAGA SURVEI DAN KONSULTAN POLITIK”</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUmjq_AqOI/AAAAAAAAAP4/cmbEQwQhbvg/s1600-h/cgan1061l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284172132064995554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 319px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUmjq_AqOI/AAAAAAAAAP4/cmbEQwQhbvg/s320/cgan1061l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Employees of the Center must avoid conflicts of interest or the appearance of conflicts of interest. They should never engage in any activity that might compromise or appear to compromise the Center's credibility or its reputation for independence or impartiality. All employees are required to seek prior approval from a supervisor before engaging in any activity that may be deemed a potential conflict of interest, including membership in groups, boards and associations that may call into question the Center's credibility or its reputation for impartiality. (Pew Research Center Code of Ethics on Conflicts of Interest)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Iklan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 16 Desember 2008 yang menegaskan bahwa “Di Negara Demokrasi Lembaga Survei (Peneliti/Pollster) dapat merangkap sebagai Konsultan Politik” sungguh sangat provokatif. Siapa sebenarnya yang ingin diprovokasi? Para calon klien? Para pesaing? Atau lembaga semacam KPU dan pemerintah?&lt;br /&gt;Setelah saya membuka dua situs Pew Research Center dan Rasmussen, jelas kiranya bahwa Komunikasi Politik hanya atau terutama mengakui Pollster ini dibanding Campaign Pollster semacam LSI milik Denny J.A. Begitu banyak macam poling yang telah dilakukan Pew Research Center dan Rasmussen yang menurut saya sangat independen, atas inisiatif sendiri, dan bukan pesanan partai atau kandidat. Rasmussen terakhir (22/12) membuat poling tentang dinasti politik di AS, di mana 47% mengaku khawatir. Sementara Pew Research Center mensurvei tingkat kepercayaan publik atas transisi dari Bush ke Obama (23/12). Penjelasan tentang kebijakan Obama (72% disetujui), Pemilihan kabinet (71% disetujui), Banyaknya orang-orang di zaman Clinton (63% bagus).&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui, di negeri-negeri yang menganut sistem demokratis, metode survei digunakan untuk mengetahui pendapat publik. Atas dasar asumsi, pendapat publik amat penting bagi pembuat kebijakan, berbagai teknik canggih telah dikembangkan para ilmuwan politik. Studi tentang pendapat umum di Amerika Serikat (AS) telah mengalami perkembangan pesat sejak 1950-an, terutama untuk mengetahui sikap dan preferensi politik masyarakat umum. Pada era 1970-an, metode ini kian populer untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan publik terhadap pendapat umum atau sebaliknya, bagaimana pendapat umum memengaruhi kebijakan publik.&lt;br /&gt;Selain munculnya lembaga pengumpul jajak pendapat, marak pula kehadiran konsultan politik. Seorang konsultan politik adalah seorang profesional kampanye yang terlibat dalam pemberian nasihat dan jasa-jasa kepada para kontestan pemilu, baik berupa jajak pendapat, produksi, dan penciptaan media. Di sinilah kadang konflik interes terjadi, bisa seorang pollster sekaligus konsultan politik.&lt;br /&gt;Fenomena konsultan politik seperti di AS ini juga telah merambah ke tanah air, terutama sejak diterapkannya sistem pemilihan presiden secara langsung pada 2004. Setelah itu, sejak 2005 ketika pemilihan kepala daerah juga dilakukan secara langsung, ‘industri’ tim sukses dan survei ini kian marak.&lt;br /&gt;Konsultan politik harus bersikap profesional dan bersikap jujur tentang aneka kelemahan dari survei yang dilakukan atau dilakukan pihak lain. Mereka juga harus mau bersikap jujur untuk memberitahukan siapa yang mensponsorisurvei dan jajak pendapat yang mereka lakukan. Di AS misalnya, salah satu kode etik yang disepakati melalui Asosiasi Amerika untuk Penelitian Pendapat Publik (American Association for Public Opinion Reserarch) telah mencantumkan keharusan bagi lembaga yang melakukan penelitian pendapat publik. Konsultan politik yang profesional adalah yang mampu mengantarkan kliennya ke tujuan dengan cara-cara yang cerdas, bermartabat, dan efisien.&lt;br /&gt;Kembali soal iklan LSI di atas, tampaknya ini merupakan bagian dari upaya Denny J.A. ingin menguasai pasar pollster dan konsultan politik di Indonesia untuk mencapai rekor dunia. Entah apanya yang paling di dunia.&lt;br /&gt;Dalam setahun terakhir ini banyak survei politik dilakukan lembaga yang sudah dikenal masyarakat seperti Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Indo Barometer. Siapakah mereka itu?&lt;br /&gt;Uniknya, ketiga lembaga ini dahulu berasal dari satu institusi yang sama di bawah Denny JA, yaitu Lembaga Survei Indonesia. Dalam perjalanannya, Syaiful Mujani mengundurkan diri dari LSI dan membentuk LSI baru dengan nama yang sama yaitu Lembaga Survei Indonesia, sedangkan Denny JA dan M. Qodari tetap di LSI dengan nama baru Lingkaran Survei Indonesia, baru kemudian M. Qodari pecah kongsi dengan Denny J.A dan kemudian membentuk Indo Barometer.&lt;br /&gt;LSI Syaiful Mujani dan Indo Barometer M Qodari tampaknya memilih di jalur yang memisahkan antara pollster dengan konsultan politik. Hali itu diyakini akan lebih menghasilkan survei yang akurat dan kredibel. Sementara Denny J.A berpendapat lain. Sah-saja bila lembaga survei bergerak sekaligus konsultan politik partai, kandidat Presiden atau berbagai kandidat dalam Pilkada. Di AS pun sejak 1970-an konsultan politik yang sekaligus melakukan survei tumbuh bak jamur di musim hujan, yang berdampak negatif bagi fungsi mesin partai karena digantikan para konsultan politik profesional.&lt;br /&gt;Nah bagaimana dengan kita? Saya jelas mendukung sikap seperti LSI Syaiful Mujani dan Indo Barometer M. Qodari. Bagaimana pun, demi profesionalitas, kita harus memisahkan antara pekerjaan pollster dengan konsultan politik. Jika kita bekerja dengan kode etik yang jelas, seperti dokter, pengacara atau wartawan, maka profesionalitas kita juga akan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Yogyakarta, 23 Desember 2008&lt;br /&gt;TRI AGUS SUSANTO&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-4092522425094163741?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/4092522425094163741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/4092522425094163741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/perselingkuhan-antara-lembaga-survei.html' title='“PERSELINGKUHAN ANTARA LEMBAGA SURVEI DAN KONSULTAN POLITIK”'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUmjq_AqOI/AAAAAAAAAP4/cmbEQwQhbvg/s72-c/cgan1061l.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-7746441651749150390</id><published>2008-12-21T00:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T08:18:25.024-08:00</updated><title type='text'>SEPENGGAL KISAH DAN KASIH YANG LALU "It's About Love, Hate, And Everything Between"</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ini adalah kisahku yang terjadi sekitar satu tahun yang lalu...untuk menjaga privacy orang - orang terlibat di dalamnya maka semua nama tempat (kecuali Kota) dan pelaku adalah bukan nama sebenarnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jakarta 25 April 2007&lt;br /&gt;21:00 wib.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU37NJl02ZI/AAAAAAAAAIA/1SujgNv2ZGI/s1600-h/fio.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282154141306902930" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 158px; height: 264px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU37NJl02ZI/AAAAAAAAAIA/1SujgNv2ZGI/s200/fio.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;Sudah 2 bulan ini aku melakukan pe-de kate terhadap SY meski selama 2 bulan itu pula di tempat AG pada bulan agustus tahun lalu saya merasa seperti tersentak seolah ada ribuan kilo volt listrik yang mengalir di segenap tubuhku…I fall in love in the first sight. Akhirnya dengan segala usaha dan upaya akhirnya aku bisa memperoleh no HP nya itupun 3 bulan kemudian baru AG mau ngasih setelah sebelumnya 3 kali permintaanku ditolak. Namun berkat startegi memeras dan memelas akhirnya aku bisa dapat no HP nya. Pada awalanya ketika pertama kali aku sms dia ajak kenalan, tanggapannya begitu dingin namun seiring dengan waktu, sikapnya mulai melunak dan mulai membuka diri. Selama bulan ini kami hanya berhubungan lewat SMS, menelponpun aku belum begitu berani, ada macam – macam ketakutan yang mengahntui, takut kagok lah, takut tiba tiba gak bisa ngemeng, takut pulsa membengkak, takut ini, takut itu dan sejuta ketakutan lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;26 April 2007&lt;br /&gt;21:00 wib &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hi…teman aku SY ..aku ganti nomor yah jadi no hp ku yang kemarin gak aku pake lagi, jadi kalo mau hubungi aku ke nomor ini aja yah thanks…&lt;br /&gt;From : +6281387611XXX&lt;br /&gt;20:08 26/04-07 &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU38kbFmCgI/AAAAAAAAAII/mG811BZKH_8/s1600-h/sms.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282155640652171778" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 196px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU38kbFmCgI/AAAAAAAAAII/mG811BZKH_8/s200/sms.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sebait sms dari SY yang mengkabarkan dirinya telah berganti nomor, dari Im3 menjadi simpati Telkomsel …seru neh kalo gini jadinya aku bisa lebih mudah dan murah kalau ingin meneleponnya karena berasal dari operator yang sama jadi bisa memanfaatkan fasilitas TTM (telpon tengah malam) salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh simpati sehingga menelepon pada jam jam tertentu asalkan dari operator yang sama bisa jauh lebih murah. …&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I JUST CALL TO SAY I LOVE U…&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;29 April 2007&lt;br /&gt;23:30 wib&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3-oAsDcDI/AAAAAAAAAIY/_C__tPmL7Ws/s1600-h/berjajar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282157901308457010" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 198px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3-oAsDcDI/AAAAAAAAAIY/_C__tPmL7Ws/s200/berjajar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku selalu mendambakan hidup yang tenang di tempat yang sunyi dan berbuat bagi sesama. Mengerjakan sesuatu yang bermanfaat kemudian mengisi waktu luang dengan mendengarkan music dari alam. Dan puncak dari semua kebahagiaan itu adalah hidup di samping SY dan membentuk keluarga ang bahagia.&lt;br /&gt;Aku ingin cinta yang mengendalikan hidup bukan hidup yang mengendalikan cinta. Aku ingin menyusun hidupku menjadi sebuah kisah cinta yang bahagia, sekali aku mencinta aku harus mendapatkannya&lt;br /&gt;NEVER SURRENDER&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;2 Mei 2007&lt;br /&gt;Jakarta 23:00 wib &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3_aieVmAI/AAAAAAAAAIg/L__ovISnV88/s1600-h/demimasadepan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282158769371191298" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 170px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3_aieVmAI/AAAAAAAAAIg/L__ovISnV88/s200/demimasadepan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Segala sesuatunya menjadi serba tidak jelas, keadaan kantor lagi muram, para direksi tidak berani angkat bicara mengenai apa sebenarnya yang dialami oleh perusahaan yang tahun lalu sempat Berjaya ini, apakah dia akan bangkrut ataun hanya sekedar guncangan sesat saja namun dengan bagaimanapun dalam keadaan seperti ini aku harus segera menginstruksikan kepada para bawahan di Divisi ku untuk mulai mengencangkan ikat pinggang, berjaga jaga apabila sewaktu waktu akan ada yang dirumahkan atau di PHK dan masih banyak kemungkinan buruk lainnya, aku sendiri mulai melempar lamaran ke mana mana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;03 mei 2007&lt;br /&gt;22:00 wib&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;LONELY IM MR. LONELY I HAVE NO BODY…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;04 Mei 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;TAK PERLU RISAU ANAK MUDA, HIDUP TAK SEKEJAM YANG KAU BAYANGKAN&lt;br /&gt;-Kata seorang teman bernama FM”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;06 Mei 2007&lt;br /&gt;13:00 Wib&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU4AWDLFOrI/AAAAAAAAAIo/qkFCyFTqiVE/s1600-h/pramugari.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282159791761078962" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 144px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU4AWDLFOrI/AAAAAAAAAIo/qkFCyFTqiVE/s200/pramugari.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku menelepon SY, dia lagi berada di Surabaya, pembicaraan berjalan agak kaku, ku kira baik aku sendiri maupun dia kurang menikmati percakapan. Mungkin karena factor kami belum pernah bertemu saja sehingga kurang akrab, atau mungkin factor aku nya yang terlalu terbebani, yah terbebani oleh sejuta perasaan yang tidak menentu, antara ingin mengatakan atau tidak, yah aku sangat ingin mengatakan kalau aku begitu menginginkannya namun sangat tidak mungkin dengan kondisi kami saat ini, bisa saja saya dikatakan gila kalau mengatakan itu secepat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;22 Mei 2007&lt;br /&gt;Jakarta 23 : 00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;I feel alone and Despera&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7flHI17sI/AAAAAAAAAJI/IVZZRcIQIU8/s1600-h/heart.jpg"&gt;&lt;/a&gt;te…&lt;br /&gt;…ada ruang hampa di hati berharap terisi…&lt;br /&gt;Ternyata seoarang lelaki tegarpun tak kuasa bertahan menanggung sepi..&lt;br /&gt;Betapa kubutuh wanita setia bersandar di dada..&lt;br /&gt;(Ruang Hampa :”Katon Bagaskara” ) &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7flHI17sI/AAAAAAAAAJI/IVZZRcIQIU8/s1600-h/heart.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7jgXVB0EI/AAAAAAAAAJo/Z9a1P8YGSv4/s1600-h/revolvere-cinta.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282409558109704258" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 162px; height: 200px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7jgXVB0EI/AAAAAAAAAJo/Z9a1P8YGSv4/s200/revolvere-cinta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku merasa seperti ada yang kurang dari diriku aku butuh seorang perempuan yang bersedia menerimaku apa adanya bukan ada apanya..Perempuan yang ketika aku memandangnya aku menemukan kedamaian darinya…Perempuan yang selalu membuat rindu untuk pulang setelah bepergian..Perempuan yang bukan hanya bersedia menampung spermaku, tapi juga mau menampung segala keluh kesahku..Perempuan yang tidak hanya mau melahirkan anak2ku namun ia juga mau menajdi madrasah bagi mereka..Perempuan yang baik bagiku dan aku baik baginya…Perempuan yang bisa terus memaksaku untuk memperbaiki hidup..Perempuan yang dengannya, dapat berlari bersama menuju Tuhan dan menyentuh wajah Ilahi..Aku berharap hal tersebut ada pada SY paling tidak beberapa point saja deh &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;23 MEI 2007&lt;br /&gt;Jakarta 21: WIB&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cuman satu hal yang membuatku senang hari ini yaitu mengobrol 10 menit via telepon dengan SY..selebihnya kejadian hari ini benar benar membuatku ingin berteriak I HATE MY SELF… Bagaimana tidak, setelah mengoprek komputerku di kantor tiba tiba saja Hardis ku mati total sehingga lenyaplah file file penting di dalamnya, sepertiny ada kesalahan prosedur sewaktu aku hendak mengawinkan hardisk.&lt;br /&gt;Kejadian lain yang membuat jengkel adalah begitu sampe di rumah ternyata kunci yang yang juga bisa berfungsi sebagai obeng ketinggalan di dalam CPU computer, mau tidak mau aku untuk bisa masuk ke halaman rumah aku harus memanjat pagar yang tinggi (untung saja tidak ada yang teriak maling) dan duduk di teras yang gelap berbagi darah dengan nyamuk sembari menunggu orang orang pada pulang membawa kunci, untunglah SY mau menemaniku lewat sms jadinya kedongkolan ku bisa sedikit diminimalisir..&lt;br /&gt;I CAN WAIT FORVER IF U SAY U’LL BE THERE TO (Air Suply)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;29 mei 2007&lt;br /&gt;Jakarta 19:00 WIB &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7j5wCo8dI/AAAAAAAAAJw/KuGUGsWP_Os/s1600-h/money_tree_color.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282409994240192978" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 186px; height: 156px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7j5wCo8dI/AAAAAAAAAJw/KuGUGsWP_Os/s200/money_tree_color.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tuhan Maha Baik, dia selalu tahu apa yang dibtuhkan buat hambanya, padahal aku sebenarnya sudah benar benar terpojok dalam urusan financial, yang diakibatkan gaji berbulan bulan belum dibayar..namun selalu ada kemudahan di tengah kesulitan, setelah lama tidak pernah berhubungan dengan Om Agus tiba tiba saja dia menelpon dan menawarkan untuk turut serta terlibat dalam project pembuatan Iklan TVC Taman Buah Mekarsari dengan Kontrak per-hari yang cukup lumayan buat orang yang lagi linglung mencari sumber pundi pundi baru seperti diriku ini… &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;3 Juni 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7harAWFTI/AAAAAAAAAJg/20ew6PKl4B8/s1600-h/heart.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282407261289190706" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 209px; height: 284px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7harAWFTI/AAAAAAAAAJg/20ew6PKl4B8/s200/heart.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Saya udah coba buat ngertiin semua…tapi tetap saja gak bisa..dan sekarang saya mesti bilang ke kamu kalau itu dah nyakitin saya..saya mau nangis karena itu semua…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;From : Rara&lt;br /&gt;22 : 15 03/ 06-07&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Ra..maafkanlah kalau kamu memang sempat kuajak terbang tinggi dan membiarkanmu terhempas sendirian tak ada maksud seperti itu…dari kemarin aku tuh feel nothing ke kamu..dan gak ada bedanya dengan sekarang..please don’t make me feel like a fool..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sent To : Rara&lt;br /&gt;Sending date 3/06/2007 status delivered&lt;br /&gt;Delivery Time 3/06/2007 22:45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Juni 2007&lt;br /&gt;Kantor Jakarta 15:00 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7kYs3Ld7I/AAAAAAAAAJ4/jQSdeCEz9zk/s1600-h/mengapa-hars-cesar.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282410525962762162" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 130px; height: 110px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7kYs3Ld7I/AAAAAAAAAJ4/jQSdeCEz9zk/s320/mengapa-hars-cesar.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Okt datang ke kantor dengan wajah panic, ia sedang kesulitan mencari pinjaman dana untuk biaya cesar istrinya, yang nota bene masih kurang 3 juta, tanpa pikir panjang lagi ku keluarkan semua uang yang ada di dalam kantongku yang baru saja kuterima dari mas Agus padahal sebenarnya itu adalah biaya hidupku selama sebulan. Tapi mau bagaimana lagi, saya rasa dia lebih membutuhkannya toh saya bisa mencari lagi atau berutang ala kadarnya kepada teman. Saya cuman berusaha untuk ber-empaty bisa saja apa yang dialami oleh Okt bisa saja suatu hari juga akan kualami dan bagaimana rasanya jika di saat saat tersebut orang orang yang kita anggap dekat tidak member pertolongan, saya dengan Okt sebenarnya tidak begitu dekat, hanya kenal namun jarang melewati berbagai hal secara bersama sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6 Juni 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;NO BODY KNOWS MY SORROW&lt;br /&gt;TO SY I GIVE OF MY LOVE TO HER&lt;br /&gt;SHE DOES’NT KNOW IF I LOVE HER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;13 Juni 2007&lt;br /&gt;12:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7mBJ56GNI/AAAAAAAAAKI/LwUWRq5fZAg/s1600-h/mata.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282412320465230034" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 129px; height: 136px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7mBJ56GNI/AAAAAAAAAKI/LwUWRq5fZAg/s320/mata.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Bagaimana harus kuungkap pengakuan ini “ AKU JATUH CINTA BERULANG KALI PADA MATAMU” Danau Di tepi hutan di negeri ajaib Tapi cinta bukan sekotak popok kertas atau 99 sayap burung Avatar yang terbakar…cinta barangkali kegagapanku untuk mengakui “AKU CINTA BERULANG KALI PADA MATAMU” sebuah Telaga di dalam Hutan tempat bertemu semua musim… &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya kuungkap sebait kata cinta yang cukup manis menurutku kepada SY…kata cinta yang kurangkai sedemikian lama…meski hanya lewat sms tapi itu sudah lebih bagi orang yang tidak berani berkata cinta sepertiku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;16:00 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SY menjawab lewat SMS bahwa dia belum bisa memutuskan saat ini…dia memintaku untuk bersabar … &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7mx93Dr4I/AAAAAAAAAKQ/3ZO-3Sbgmig/s1600-h/galery_7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282413159045640066" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 320px; height: 320px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7mx93Dr4I/AAAAAAAAAKQ/3ZO-3Sbgmig/s320/galery_7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;21:00 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku menelponnya tidak dijawab kemudian dia balik menelpon …ada yang lain dari nada bicaranya..hmmmm Night So Bright…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;22:00 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SG Office Boy di kantorku yang mantan mafia, mengajakku untuk ke tempat Dugem katanya mau dikenalkan dengan salah satu relasi TW&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;23:00 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;AZ menelepon minta kunci ternyata dia lupa membawa kunci..jadinya aku harus segera balik ke rumah,,.capeek deehh…&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7ni-9ZulI/AAAAAAAAAKY/NvT4veBxI2M/s1600-h/club1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282414001154275922" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 285px; height: 251px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7ni-9ZulI/AAAAAAAAAKY/NvT4veBxI2M/s320/club1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;23:30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai rumah menyerahkan kunci dan balik lagi ke tempat Dugem..untunglah aku masih bisa bertahan untuk tidak melakukan hal yang aneh aneh..ini kali pertamanya semenjak satu tahun terakhir aku menghentikan kegiatan seperti ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;02:00 WIB 14 juni 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;aku merasa sangat terasing di tengah keramaian, anak-anak lagi pada tinggi…akhirnya kuputuskan saja tidur di Sofa VIP Room yang kami sewa, ..dengan diiringi dentuman musik yang menghentakkan telinga, aku terlelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;03:30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7obW9HTwI/AAAAAAAAAKg/QgHCbeBjztQ/s1600-h/16921large.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282414969668194050" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 153px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7obW9HTwI/AAAAAAAAAKg/QgHCbeBjztQ/s200/16921large.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku terbangun dari tidur, karena merasa sangat sesak dan susah bergerak seolah ada yang sedang menindihku…ternyata seorang perempuan asing yang memiliki paras tidak bisa dikatakan jelek,..sedang tertidur telungkup di atasku yang tidur terlentang, entah sejak kapan ia berada di atasku, yang jelas bajuku dipenuhi muntahannya yang berbau alkohol. Kudorong tubuhnya pelan-pelan dan membaringkannya di sofa tempatku tadi…sempat terpikir untuk mengambil kesempatan tapi cepat cepat pikiran nakal itu kutepis..dan segera memutuskan untuk pulang saja, tanpa pamit dengan yang lain sebab percuma saja mereka lagi pada tidak sadar…dalam perjalanan pulang pemandangan penyapu jalanan, para penjaja sayur, yg sudah beranjak mengais rejeki. hal itu membuatku serasa di tampar bagaimana tidak ada orang yang susah payah mengumpulkan rupiah ..sementara aku menghamburkannya dalam semalam yang jumlahnya bisa saja melebihi hasil kerja mereka dalam sebulan. …keadaan kontras tersebut membuatku berkomitmen dalam hati bahwa ini kali terakhir aku mengunjungi dunia gemerlap …WHAT THE HELL I’M DOING THERE…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;26 Juni 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7pFe8x4qI/AAAAAAAAAKo/MkvEik2FIWA/s1600-h/stratos_parachute_3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282415693368779426" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 162px; height: 150px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU7pFe8x4qI/AAAAAAAAAKo/MkvEik2FIWA/s320/stratos_parachute_3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Aku mulai jengah dengan semuanya..dengan segala rutinitasku, mulai muak, dan jenuh…hidup dalam kepura-pura-an, menampilkan diri seolah sebagai sosok orang kaya agar klien percaya, dan aku sudah sangat bosan dengan itu, aku sudah capek membohongi diri sendiri, dan orang lain. Untunglah dengan SY selama ini aku selalu jujur dan terbuka apa adanya, dan itu yang membuatku sedikit nyaman ketika berkomunikasi dengannya tidak ada kepalsuan yang kusembunyikan dalam diriku.&lt;br /&gt;Aku mungkin perlu warna baru dalam hidupku, sebuah warna pelangi bukan warna hitam, putih dan abu abu seperti warna hidupku selama ini…WHAT IS COLOR YOUR PARACHUTE &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;04 Juli 2007&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwVSh8vgI/AAAAAAAAAKw/hgFHwyUmfSw/s1600-h/275px-Sentani_airport2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282986611447741954" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 275px; height: 160px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwVSh8vgI/AAAAAAAAAKw/hgFHwyUmfSw/s320/275px-Sentani_airport2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SY mengabarkan kalau dia akan ke Jayapura sebagai crew pada Penerbangan Perdana LA menuju ibu Kota Provinsi Hitam itu. Sebenarnya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan tapi buat jaga jaga tidak masalah aku menghubungi orang-orangku di sana untuk memastikan keamanannya selain itu mereka juga bisa berfungsi sebagai Guide yang mengantarnya kemanapun dia mau…dia harus menyaksikan keindahan pulau eksotis tersebut, bagaiamanapun &lt;em&gt;I Just want to make her Happy… &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;08 Juli 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwVcweB8I/AAAAAAAAAK4/c-nQwxsUj3c/s1600-h/doa.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282986614192998338" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 320px; height: 357px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwVcweB8I/AAAAAAAAAK4/c-nQwxsUj3c/s320/doa.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku tidak akan melarangmu ke manapun engkau mau pergi kecuali ke neraka…asal kasi kabar kamu di mana..biar aku di sini bisa mendoakan keselamatanmu…&lt;br /&gt;Karena aku mencintaimu maka aku akan tidak pernah selesai mendoakan keselamatanmu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku sedang mengkhawatirkan SY kabar terakhir semenjak di jayapura tidak pernah terdengar lagi…Ponsel nya tidak aktif membuatku berpikiran yang tidak tidak…Ke mana dia ? apa yang terjadi padanya ?&lt;br /&gt;Ah mungkin aku yang terlalu paranoid…mungkin karena terlalu merindukannya..aku tahu dia bisa menjaga dirinya…tapi tak ada salahnya kalau aku mengkhawatirkannya…karena aku menyanganginya…aku tidak mau terjadi apa apa padanya dan aku berjanji akan membuat perhitungan dengan siapapun yang membuat hidupnya tidak nyaman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU CEMAS KEHILANGAN DIA…&lt;br /&gt;AKU CEMAS PADA KECEMASANKU…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;17 Juli 2007&lt;br /&gt;12:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDyRzxMkDI/AAAAAAAAALg/DbuoC7qMq1I/s1600-h/resign.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282988750673842226" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 245px; height: 250px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDyRzxMkDI/AAAAAAAAALg/DbuoC7qMq1I/s320/resign.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini aku menyatakan resign dari pekerjaanku…aku sudah tidak tahan lagi berada dalam suasana saling mencurigai dan saling menjatuhkan..belum lagi suara suara miring tentangku yang kadang membuat kuping ini panas..so untuk kebaikan semua ada baiknya saya yang pergi…meski tidak tau akan ke mana yang ku tahu hanya aku harus pergi…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;22:30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDy6DXE9fI/AAAAAAAAALo/NjJ3WoeXCxY/s1600-h/AQCHFA2CA78Q9JICA1RPD26CALH02KTCA1QPYNLCAPH9CWNCARP6B2BCA0EDEBVCA8S80LLCAY049W1CA8QQTCECA0XDTE3CAQ5UJMXCAVB36KDCAV7I8Y8CAXF6I4DCAHQHLD0CANMB0LQCAIEP4WB.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282989442054026738" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 95px; height: 143px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDy6DXE9fI/AAAAAAAAALo/NjJ3WoeXCxY/s320/AQCHFA2CA78Q9JICA1RPD26CALH02KTCA1QPYNLCAPH9CWNCARP6B2BCA0EDEBVCA8S80LLCAY049W1CA8QQTCECA0XDTE3CAQ5UJMXCAVB36KDCAV7I8Y8CAXF6I4DCAHQHLD0CANMB0LQCAIEP4WB.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Hari ini aku merasa begitu damai sekali…seperti terlahir kembali dan tanpa beban di kepala..aku merasa seperti seorang pria yang memutuskan untuk bercerai setelah sekian lama menjalani pernikahan yang tidak bahagia…ternyata aku tau sumber ketidak tenanganku selama ini adalah kantor itu..pekerjaan itu…jauh di lubuk hati ada perasaan khawatir juga sebenarnya akan menjadi pengangguran tapi tak apalah saya akan mulai berusaha lebih keras lagi untuk mencari pekerjaan…ingin rasanya SY berada di sisiku di saat saat seperti ini…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;20 Juli 2007&lt;br /&gt;Ciamis 06:00 WIB&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDxli_VPTI/AAAAAAAAALY/AnjelSYa-V4/s1600-h/wedding+derry.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282987990255484210" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 320px; height: 240px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDxli_VPTI/AAAAAAAAALY/AnjelSYa-V4/s320/wedding+derry.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perjalanan selama 5 jam akhirnya aku tiba juga di Ciamis…sejak pertama tiba di sini aku langsung suak dengan kota ini, bersih, tertapa rapi dan iklimnya relatif sejuk. Sejenak aku melupakan segala permasalahn yang menderaku di jakarta yang membuatku malas memikirkannya.&lt;br /&gt;Besok JBK akan melangsungkannya pernikahannya di kota ini dengan seorang gadi yang baru sebulan dikenalnya, ketika ia terjatuh dari motor di kota ini, dan gadis itu yang membawanya ke rumahnya dan merawat lukanya. Agak unik memang seperti cerita di film.&lt;br /&gt;Jodoh memang agak sukar ditolak kapa&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwXCk4x6I/AAAAAAAAALA/V2J3Lwk_6Nk/s1600-h/wedding+derry.jpg"&gt;&lt;/a&gt;n dan darimana datangnya, terkadang kita telah berhubungan dengan orang dalama waktu yang cukup lama, tapi kenyataan biasa bicara lain, tidak berakhir pada pernikahan tapi perpisahan. Namun terkadang kita hanya bertemu dengan seseorang dan ternyata dia adalah jodoh kita. Mungkin chemistrinya ketemu.&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya yang terpenting bukanlah kuantitas hubungan atau seberapa lama dan seberapa intens kita berhubungan dengan orang tapi pada kualitas hubungan yakni bagaimana kita memaknai suatu hubungan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab ke-khalifaan.&lt;br /&gt;JBK akan memasuki kehidupan yang baru besok, dia memasukinya tanpa rasa ragu dan khawatir sama sekali. Itulah yang membuatku ingin mengucapkan SELAMAT BERBAHAGIA JENDERAL…&lt;br /&gt;SY.... LAGI SAKIT DI MAKASSAR... MUDAH-MUDAHAN IA TAK APA APA… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;23 Juli 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwXO_wYLI/AAAAAAAAALI/Tz5oomma7k0/s1600-h/003930-tasbih-prayer-beads-heena-green.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282986644858757298" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 250px; height: 250px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVDwXO_wYLI/AAAAAAAAALI/Tz5oomma7k0/s320/003930-tasbih-prayer-beads-heena-green.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;Meninggalkan ciamis kembali ke jakarta dengan berat hati. Bukan apa – apa di jakarta se-juta masalah telah menantiku. Mulai dari statusku sebagai pengangguran, tunggakan gaji 5 bulan yang belum dibayar eks kantor tempatku berkerja, ditambah lagi kondisi keuangan yang benar-benar mengalami krisis. Belum lagi satu satunya sepatu milikku ketinggalan entah di mana yang membuat sangat sulit untuk berpenampilan sepantasnya.&lt;br /&gt;Besok SY akan ber-ulang tahun yang ke 24, usia kami terpaut 3 tahun 3 bulan, jika disusun menjadi sebuah kombinasi angka yang menarik 33, seperti jumlah zikir, angka yang cukup cantik bukan ?&lt;br /&gt;Sore ini aku berencana ke rumahnya, ingin membawakannya kado ultah yang kubeli di Ternate 4 bulan yang lalu yang memang aku persiapkan untuk moment seperti ini. Sebuah kalung, cincin, gelang yang sebagian besar terbuat dari besi putih asli.&lt;br /&gt;Dan dengan sebuah mobil pinjaman dan minta tolong bantuan temanku GD berangkatlah kami menuju rumahnya. di rumahnya aku cuman ketemu ibunya seorang perempuan peranakan Arab..Hmmm seperti itu rupanya calon ibu mertuaku, berarti mulai besok aku harus mulai belajar gambus neh he he he…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;24 Juli 2007&lt;br /&gt;00:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTs0GrRtcI/AAAAAAAAAMw/fKy-znhv4CI/s1600-h/kartu-andri-rian.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 238px; height: 313px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTs0GrRtcI/AAAAAAAAAMw/fKy-znhv4CI/s320/kartu-andri-rian.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284108642701915586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;S&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Y…apalagi yang patut disyukuri…selain dalam putaran waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;engkau masih mampu bertahan dan memelihara terang di batinmu..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rumput-rumpat kian meninggi,… bunga-bunga bermekaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;seiring dengan kedewasaanmu …Masih kurangkah itu Sy ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selamat ulang Tahun…selamat meraih harimu bahagia,…semoga menajdi perempuan yang paling bahagia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hari ini kamis 24 juli 2007 SY berulang tahun..dia lagi di manado nge-round..katanya besok ia akan diajak temannya ke Bunaken untuk merayakan ULTAHnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku mencintainya...dan semoga ia mencintaiku…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;26 Juli 2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada harapan di tengah kepungan gelap..selamat kanda lulus di UI..sebuah pesan singkat dari Topan juniorku waktu di Unhas dulu masuk ke HP ku pagi ini…tentu alam keadaan tanpa status dan kesibukan sama sekali seperti sekarang ini berita tersebut bagikan oase di tengah gurun. yang jadi permasalahan sekarang adalah bagaimana caranya aku mendapatkan uang 14 juta sebagai biaya masuk dalam tempo waktu 3 hari ini ? jalan satu-satunya adalah minta ke orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;27 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku lelah, aku butuh tempat untuk bersandar,….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebuah sudut hati&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTs0GMCstI/AAAAAAAAAM4/gQoj6Xq027c/s1600-h/2926161336_622fbd782b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTs0GMCstI/AAAAAAAAAM4/gQoj6Xq027c/s320/2926161336_622fbd782b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284108642570908370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang mampu menenangkan jiwa yang tak tenang…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mudah sekali naik pitam,..mudah marah apabila ada sesuatu yang tidak berjalan seperti apa yang kumau. Mungkin karena akibat pengaruh sudah hampir seminggu ini aku kurang tidur, sehingga hawa tubuhku menjadi panas..dan membuat emosiku tidak stabil dan kadang jadi beringas, dan kadang pula menjadi sangat melankolis…di saat saat tertentu kata-kata yang keluar dari mulutku sangat menyakitkan di hati apabila didengarkan.&lt;br /&gt;Aku memang mengalami kelelahan yang luar biasa, lelah lahir dan batin. Rencananya hari ini aku mau ke ANYER ikut rombongan LMG untuk pemotretan model lady in the air yang mana SY juga terdapat di dalamnya (usahaku selama ini untuk memasukkan sebagai model lady in the air berhasil juga). Aku sudah make appointment dengan Bang GW, untuk ketemu setelah jumat lalu bersama sama menuju Anyer. Tapi entah kenapa mungkin HP ku sempat gak aktif akhirnya terjadi miss kordinasi sehingga aku pun ketinggalan. Keadaan tersebut membuatku benar benar marah terhadap diri sendiri, yang tidak bisa membuat semuanya berjalan sesuai dengan scenario.&lt;br /&gt;Aku menjadi uring-uringan terus terang aku sangat membenci keadaan seperti ini; ingin rasanya berteriak sekeras kerasnya kepada langit WHYYYYYYYYYYYYYYY……&lt;br /&gt;I HATE MY SELF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;28 Juli 2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTs0QXKnOI/AAAAAAAAANA/jPDvcpx6TpU/s1600-h/333121051_6777823606.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 201px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTs0QXKnOI/AAAAAAAAANA/jPDvcpx6TpU/s320/333121051_6777823606.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284108645301918946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Oooh…betapa ku mencinta tuk membenci….membencimuuuu&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa yang terjadiii, antara aku dan kau…&lt;br /&gt;Yang kutau pasti kubenci untuk mencintaimu….&lt;br /&gt;(naïf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;sebait nada apatis yang dinyanyikan oleh kelompok vocal naïf, tersebut terus menerus mengiang di telingaku siang ini. Mungkin itu pengaruh lengkingan putus ada David sang vokalis naïf yang pertama kali kudengarkan melalui Hadset HP ku yang juga bisa berfungsi sebagai radio. ketika mendapati diriku tertidur di atas atas gedung MUSIC CITY FM, dengan sebagian tubuh basah oleh embun.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tidak punya niat untuk tidur di atap gedung itu, aku hanya ingin menentramkan hati yang gundah gulana dengan cara berbaring di atap gedung dan memandagi wajah purnama, membuatku seolah sedang memandang dirinya (SY), dan ternyata tanpa sengaja aku tertidur di atas sana.&lt;br /&gt;Semalam aku merasa bukan diriku, aku merasa seperti orang yang telah menelan 10 butir LSD. Hal hal kecil saja membuatku mudah marah dan mengasihani diri sendiri. Dan sampai saat ini aku masih saja gelisah, uring-uringan dan paranoid. Aku merasa seperti sedang putus asa, sedang tersudut dan entah kata kata mengasihani diri apalagi yang pantas aku nisbahkan pada diriku saat ini.&lt;br /&gt;Yang jelas di dalam diriku ada sejuta perasaan tidak enak, yang kalau dibiarkan berlarut-larut bisa saja akan menimbulkan efek bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTuGllBRkI/AAAAAAAAANI/7dNIBjYIXNs/s1600-h/lsd_powder_capsules_thumb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 158px; height: 91px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTuGllBRkI/AAAAAAAAANI/7dNIBjYIXNs/s320/lsd_powder_capsules_thumb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284110059746444866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin aku butuh semacam pelarian, sebotol vodka misalnya…tapi ah aku sudah berjalan 7 tahun yang lalu kalau tidak akan menyentuh barang sialan itu lagi.&lt;br /&gt;Mungkin dengan berpergian keluar kota sebagai “back packer” akan bisa meredam emosi yang sedang mendera. Tapi ke mana ? aku lagi tidak punya banyak uang saat ini. mungkin ada baiknya aku menyusul SY ke Anyer, tapi tempat persisnya di Anyer di mana yah ? aku lupa menanyakannya sewaktu meneleponnya semalam. Tapi tak apa aku akan mencari tahu, di mana tempatnya dan akan berusaha ke sana dengan cara apapun juga,..mungkin segala kegelisahan ini diakibatkan oleh perasaan yang menggebu gebu ingin bertemu dengannya tapi tidak jadi..perasaan ingin bersamanya meski hanya beberapa saat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMMM LOVE IS SWEAT TOURMENT (Cinta adalah siksaan yang menyenangkan)…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;20 : 00 WIB&lt;br /&gt;Tanjung Lesung Anyer&lt;br /&gt;Loby Hotel BV&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;                   &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTuG7ArEkI/AAAAAAAAANg/YI1vIHudVaY/s1600-h/TAnjung+Lesung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 186px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTuG7ArEkI/AAAAAAAAANg/YI1vIHudVaY/s320/TAnjung+Lesung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284110065499574850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                                                             Setelah melalui perjalanan panjang dan cukup melelahkan akhirnya sampai juga aku ke tempat ini. bagaimana tidak, untuk bisa ke sini aku haru beberapa kali berganti kendaraan dengan ragam jenis dan memakan waktu hampir 8 jam. Sungguh sangat melelahkan.&lt;br /&gt;Orang-orang di bawah sana tadi sempat mencegahku dan disuruh supaya menuggu pagi saja berhubung katanya jalur yang kulewati sangatlah rawan. Ternyata aku salah mengambil rute perjalanan seharusnya aku lewat serang terus ke pandeglang tapi ini aku lewat cilegon lalu ke labuhan batu, dengan begitu aku memutar terlalu jauh. Maklumlah aku mempelajari jalur ke sini hanya melalui peta Indonesia bukan peta touris.&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir ini merupakan perjalanan terbodoh yang pernah kulakukan tanpa bekal yang memadai, tanpa survey terlebih tanpa persiapan sama sekali, bisa dibilang nekad.&lt;br /&gt;Tapi itulah cinta terkadang membuat kita bertindak di luar batas kemampuan dan sangat irasional. Membuat kita lupa, seperti aku ini, aku lupa kalau ternyata dari pagi aku belum makan apa apa dan baru sekarang mulai terasa laparnya. Di tempat terpencil seperti ini, di mana aku bisa menemukan makanan. Sementara di sisi lain sekotak donat yang kubeli di Cilegon tadi telah aku berikan kepada dua anak muda yang telah mengantarku kemari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’M HUNGRY YES I’M HUNGRY&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTvd6lg35I/AAAAAAAAANo/51Ug1wCLR-0/s1600-h/NC49100_Dementor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTvd6lg35I/AAAAAAAAANo/51Ug1wCLR-0/s320/NC49100_Dementor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284111560034279314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;21:00 WIB &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bang GW menemuiku dengan raut wajah jengkel di Lobby Hotel dia memintaku pulang saja, “karena Hotel ini charge / person dan bayarnya pakai dollar, dan mereka group LMG hanya dapat fasilitas Invite” tapi aku minta dia supaya sedikit memhami keadaanku, bahwa sekarang sudah malam, dan tidak ada lagi kendaraan yang ke Jakarta, dan jikalau memang tidak diizinkan nginap aku minta supaya diizinkan tidur di mobil saja.&lt;br /&gt;Akhirnya ia pun mengizinkan untuk bisa nginap di kamar barang semalam dengan syarat, (ternyata charge /person itu hanya akal2lan saja untuk memintaku pulang) Aku tidak boleh ketemu atau menemui SY, bahkan hanya sekedar lewat di depannya dan pura – pura tidak kenal pun tidak boleh..dengan alasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.dengan kemunculanku akan membuat SY merasa terganngu..                                        &lt;br /&gt;(t&lt;span style="font-style: italic;"&gt;erus terang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;erasa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; seperti seekor monster atau manusia tembaga franskestein yang kehadirannya selalu tidak diinginkan.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2. Kehadiran mereka (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rombongan LMG) ke sini dalam rangka urusan pekerjaan jadi tidak boleh ada sangkut pautnya dengan urusan pribadi “sebenarnya dalam hati aku berkata “hey man make it simple, kenapa harus dibuat susah begini, anggap saja aku dalam urusan professional, bukankah yang mengenalkan SY dengan Lionmag itu aku? Anggap saja aku sebagai manajernya. Di rumah produksi manapun yang aku pernah terlibat di dalamnya, baik langsung maupun tidak langsung belum pernah ada cerita manajer atau agency diusir pulang karena memiliki motif pribadi..toh kita kan sudah dewasa kalau memang dituntut professional yang kita professional …semua itu tidak jadi aku keluarkan, aku tidak mau mebuat keadaan semakin runyam, efeknya tidak akan bagus untuk SY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;3. pada dasarnya SY memang tidak ingin menemuiku, dia tidak enak dengan teman temannya…...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sejujurnya aku tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi di BV ini, menapa ia tak ubahnya seperti Camp David.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hal yang paling menyakitkan bagiku aku adalah karena aku disarankan kalau besok sebelum terang menyapa bumi aku sudah harus meninggalkan tempat ini, jangan sampai SY melihatku dan moodnya menjadi rusak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;INI BENAR – BENAR PARAH AKU MERASA DIANGGAP SEPERTI DEMENTOR DALAM SERIAL HARRY POTTER YANG MANA APABILA MAHLUK BERTEMU DENGANNYA MAKA RASA BAHAGIANYA AKAN TERSERABUT DARI DALAM DIRINYA..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Selain itu aku disuruh mengarang alasan apabila kemudian SY terlanjur mengetahui keberadaanku di tempat ini, kalau aku ke sini bukan karena dia tapi karena ada misi yang lain..kalau memang itu yang dianggap terbaik untuk SY apa boleh buat mau tidak mau aku harus setuju demi kebaikan semua…sepertinya aku memang tidak diinginkan di sini dan aku bukanlah orang yang tidak tahu diri.&lt;br /&gt;Cuman yang sedikit membuatku bahagia adalah aku berhasil memberi sejumput kebahagiaan pada SY dengan menjadikannya model profil di flight magazine untuk penumpang LA..aku yakin kejadian ini bukan 100 % kesalahannya, aku juga punya andil..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ah…rasanya sia-sia sudah perjalanan ini…&lt;br /&gt;Tanpa dia yang kutemui, tanpa dia yang menungguku&lt;br /&gt;Tak tahu ke mana lagi aku harus melangkah…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;00:30 WIB 29-07-07&lt;br /&gt;Kamar 17&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTvdzvwJkI/AAAAAAAAANw/SfjerMaZOrs/s1600-h/purnama.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 302px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTvdzvwJkI/AAAAAAAAANw/SfjerMaZOrs/s320/purnama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284111558198175298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku lagi di teras …lagi diinterview&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From : My Lion Heart&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;23:26 28/07/07&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebait pesan pendek yang masuk ke HP ku se-jam lalu membuatku terkesiap, meski hanya sebuah info bahwa ia sedang di teras lagi diinterview.sebenarnya dengan begitu aku akan mudah untuk menemuinya, menjabat tangannya dan menanyakan kabarnya.&lt;br /&gt;Ah seandainya tidak ada larangan untuk menemuinya ingin sekali rasanya menjabat tangannya. …dan pada akhirnya yang dapat kulakukan hanyalah memandangya dari kegelapan dekat kolam depan kamarnya, saat itu aku teringat sebuah lirik dari james blunt yang mungkin dapat mewakili perasaanku :&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;You’re Beatiful, beautiful its true..&lt;br /&gt;I saw your face in the cloody glass&lt;br /&gt;I don’t know what to do&lt;br /&gt;Cos I never be with you&lt;br /&gt;You’re beautiful, beautiful it’s true&lt;br /&gt;You must be an angel&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan kurangkai sebuah sajak untuknya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;aku melihat dua purnama malam ini…&lt;br /&gt;satu di langit dan satu di wajahmu…&lt;br /&gt;aku melihat banyak bintang malam ini…&lt;br /&gt;bintang di langit dan bintang di matamu…&lt;br /&gt;kuberharap esok akan melihat dua matahari&lt;br /&gt;satu di langit dan yang satu Hatimu….”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;02:30 WIB&lt;br /&gt;Kamar 17 penginapan BV&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTxFQfRpgI/AAAAAAAAAN4/8Z0J7tNhYh4/s1600-h/DSC01803.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTxFQfRpgI/AAAAAAAAAN4/8Z0J7tNhYh4/s320/DSC01803.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284113335440221698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Entah sudah berapa kali aku membolak balikkan badan dikasur yang terlalu empuk bagiku, tak juga membuatku bisa tertidur. Padahal aku sangat butuh meng-istirahatkan tubuh mengingat sudah seminggu lebih aku kurang istirahat ditambah lagi perjalanan panjangku untuk ke tempat ini.&lt;br /&gt;Entahlah mungkin karena perasaan yang sangat kelelahan dan sekujur tubuh yang sakit semua, atau perasaan haus dan lapar yang belum juga reda…di tempat semewah ini sangat susah menemukan makanan dan minuman.&lt;br /&gt;Tadi aku hanya menemukan se-kotak permen frozz di meja dapur dan aku embat saja semuanya, demi menghindari kekurangan zat gula bagi tubuh mengingat ia belum mendapat asupan makanan sama sekali seharian ini. namun itu belum bisa menghapus kehausan yang aku alami, tadi botol-botol air minum sudah kosong terpaksa aku minum air dari kran kamar mandi tapi tak banyak karena rasanya seperti obat anti septic.&lt;br /&gt;Sebenarnya dari tadi aku sedang tidak tahu menulis apa, kepala ini serasa pening..kurang makan, kurang tidur, dehidrasi mengancam..sementara besok pagi-pagi sekali sebelum terang menyapa bumi, aku sudah tidak diizinkan berada di sini.&lt;br /&gt;Kira-kira SY sedang ngapain yah ? mungkin ia sudah tidur. Yah sudahlah saya rasa tidak perlu menganggunya mungkin dia harus bangun pagi juga untuk sesi pemotretan yang selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya susah sekali mata ini terpejam,…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal lelah menghampiri sekujur tubuh…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mungkin besok sebelum aku kembali ke Jakarta aku harus menemui SY terlebih dahulu, meski cuman sebentar, dengan begitu mungkin aku bisa mendapat energy baru lagi.&lt;br /&gt;Meski ada larangan untuk menemuinya, tapi semua akan kulanggar…AKAN KULAWAN SEMUA TABU DAN AKAN KUTANTANG LANGIT UNTUK BISA MENEMUINYA…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SY…aku haus aku, terluka…&lt;br /&gt;Ada kerikil di sepatuku…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11:30 WIB&lt;br /&gt;TERMINAL SERANG BANTEN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2BYjlNUI/AAAAAAAAAOQ/-hngIJHVt7E/s1600-h/ginaburgerum1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2BYjlNUI/AAAAAAAAAOQ/-hngIJHVt7E/s320/ginaburgerum1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284118766444426562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku sangat kelaparan mengingat dari kemarin pagi aku belum makan apa-apa sama sekali hanya minum air putih saja. Aku sama sekali tidak berminat untuk makan, demi mengingat semua kejadian di Tanjung Lesung tadi pagi.&lt;br /&gt;Aku gagal untuk menemui SY…SY menolak menemuiku karena sibuk mengurus rambutnya…ah..mungkin saja aku yang terlalu memaksakan kehendak, untuk memenuhi keinginanku..tanpa mau mengerti…kejadian pagi tadi sempat meremuk redamkan perasaanku…membuatkun out of control dan sempat berkata yang sangat tidak pantas kepada SY lewat SMS.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku menyesal juga telah melakukan semuanya, tidak bisa mengontrol emosi, ..tapi apa mau dikata segalanya yang tertulis akan terus tertera, seperti paku pada dinding meski sudah dicabut tapi akan tetap meninggalkan bekas lubang.&lt;br /&gt;Semoga ia (SY) mau mengerti keadaanku, emosiku yang sedang labil, yang diakibatkan oleh kurang istirahat, kelelahan, perasaan yang menggebu gebu…dan sejuta perasaan tak lazim lainnya.&lt;br /&gt;Yah pagi tadi aku meninggalkan Tanjung lesung dengan langkah gontai, setelah sebelumnya Bang GW mengusirku lewat sms (mengapa orang ini selalu ikut campur dan seolah dia adalah orang yang paling mengerti SY padahal dia baru kenal sehari ?) dengan langkah pelan, aku menyanyikan sebuah lagu secara pelan-pelan pula, sebuah lagu dari “Radio Head; judulnya Creep” kira-kira liriknya seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When you here before, could looking your eyes&lt;br /&gt;Just like an angel&lt;br /&gt;Your skin make me cries&lt;br /&gt;You float a feather in the beautiful world&lt;br /&gt;Your so fucking special, I wish I was special&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But im creep…&lt;br /&gt;Im wredo..what the hell I’m doing here&lt;br /&gt;I don’t belong here…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don’t car if it hurts&lt;br /&gt;I wont perfect person, I wont perfect soul&lt;br /&gt;I wont you to notice when im not round&lt;br /&gt;Your so fucking special, I wish I was special&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But im creep…&lt;br /&gt;Im wredo..what the hell I’m doing here&lt;br /&gt;I don’t belong here…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She’s running ou again…she’s running out run run run…&lt;br /&gt;What ever make you happy&lt;br /&gt;What ever you want&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But im creep…&lt;br /&gt;Im wredo..what the hell I’m doing here&lt;br /&gt;I don’t belong here…&lt;br /&gt;I don’t belong here…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya aku harus seperti yang dilengkingkan oleh Duta SY on 7 “aku pulang tanpa dendam” mungkin aku harus sudah cukup puas dengan memandangi SY dari kejauhan, paling tidak itu lebih baik daripada harus berdesak desakan hanya untuk melihat SY 0n 7..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;23:45 WIB&lt;br /&gt;Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_KX5p5ZI/AAAAAAAAAPA/6ChTIdtiZ0o/s1600-h/l_820c3375553007f887ac53eb0316a924.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 306px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_KX5p5ZI/AAAAAAAAAPA/6ChTIdtiZ0o/s320/l_820c3375553007f887ac53eb0316a924.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284128816492045714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku terbangun dari tidurku, gara gara air di kamar mandi di lantai 2 tumpah-tumpah rupanya aku lupa mematikan air tadi sewaktu mau tidur.&lt;br /&gt;Aku melirik berhala mungilku ada 3 pesan yang masuk, ternyata tidak ada balasan SMS dari SY.tumben baru kali ini dia tidak membalas smsku dalam tempo waktu yang cukup lama, masih marahkah ia kepadaku ?&lt;br /&gt;Memang tadi siang dia sms meng-sms ku dan protes dengan kata kata yang aku sms ke dia. Jujur aku tidak tahu sms yang mana, karena aku mengirimkan begitu banyak sms kepadanya dalam satu hari ini. dan aku merasa segala kesalah pahaman sudah diselesaikan tadi pagi..&lt;br /&gt;Atau mungkin ada yang manas-manasin dia kali yah ..?tau ah gelap..yang pasti dia masih marah mungkin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAAFKANLAH KALAU ENGKAU MERASA TERZALIMI,&lt;br /&gt;MUNGKIN BEGITULAH CARAKU UNTUK MENYANGANGIMU…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;30 juli 2007&lt;br /&gt;Hotel Borobudur Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_JYASx7I/AAAAAAAAAOw/4vse1pBisyY/s1600-h/IMG_1602_resize.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_JYASx7I/AAAAAAAAAOw/4vse1pBisyY/s320/IMG_1602_resize.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284128799340021682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah pesan singkat dari SY masuk ke HP ku :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sekali lagi aku minta maaf sama kamu, ini mungkin sms ku yang terakhir ke kamu, dan aku cuman minta ke kamu supaya jangan ganggu aku lagi, . Aku tegaskan sekali lagi kalo aku lagi gak ingin menjalin hubungan dengan siapa siapa, aku ingin sendiri dulu saat ini..jadi tolong sekali lagi jangan ganggu , jangan paksa aku, karena aku gak pernah sama sekali paksa kamu untuk datang ke tempat itu, .....cukup jelas?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From : My Lion Heart&lt;br /&gt;18:31 30/07-07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK Deal !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sent to : My Lion Heart&lt;br /&gt;Sending date : 30/07-07 status : delivered&lt;br /&gt;Delivery time : 18:45&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya harus kutemui diriku berada pada titik nadir, ..harus kurelakan apa yang kubangun selama ini menjadi musnah seperti sebuah istana pasir di pantai..ini semacam kehilangan yang keterlaluan…maka betapapun kau lelaki atas semua peristiwa yang terjadi aku punya hak untuk kecewa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TO NIGHT I WANNA CRY….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;31 Juli 2007&lt;br /&gt;PUSPITEK SERPONG TANGERANG&lt;br /&gt;20:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUAnb4U6kI/AAAAAAAAAPY/sPc8imrgNYo/s1600-h/merayu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUAnb4U6kI/AAAAAAAAAPY/sPc8imrgNYo/s320/merayu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284130415288052290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hampir seharian ini kulewati tanpa sama sekali berhubungan dengan SY padahal sebelumnya tak ada hari tanpa menghubunginya baik telepon maupun sekedar sms…jujur aku sama sekali tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini, tapi apa mau dikata lagi, I Must be Strong mungkin dengan cara ini baik aku dengan dia akan sama sama mengintropkesi diri, dan memadamkan api dendam yang masih membara…bukankah kadang diam akan mengatakan lebih dari maksudnya…&lt;br /&gt;Ah I’m very lonely in the crowded..sekarang sedang berlangsung acara temu nasional teknologi begitu ramai ada banyak menteri Gubernur, Bupati dan menteri yang hadir, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk SKSD ke mereka seperti kebiasaanku selama ini apabila ketemu dengan pejabat sehingga teman-temanku mengira aku ini gaulnya ma pejabat melulu padahal cuman SKSD saja biar dibilang punya koneksi yang luas.&lt;br /&gt;Banyak hal-hal yang terduga terjadi di sini, tadi pagi pada waktu wapres memberi sambutan aku bertemu teman lama Andriani, seorang teman yang sangat dekat denganku sampai sudah menganggapnya saudara, begitu juga sebaliknya dia. Dulu di Makassar ke mana mana kami sering bersama-sama, namun perlahan perpisahan terjadi, kami disibukkan dengan urusan masa depan masing-masing dia memilih karir sebagi presenter reporter sementara aku tetap eksis di dunia Production House.&lt;br /&gt;Dan hari ini kami kembali dipertemukan, sempat ia tidak mengenaliku katanya aku sangat beda waktu masa kuliah dulu yang kumal, sekarang sudah necis dan rapi. Aku juga nyaris tidak mengenalinya aku cuman bisa mengenali wajah khas Nia paramita dan membaca ID Press nya. Dia sekarang sudah menikah dan memiliki 2 anak, pantas saja ia sangat beda apa memang mungkin begitu setiap perempuan yang sudah menikah apalagi memiliki anak tidak pandai lagi merawat diri.&lt;br /&gt;Memang banyak hal yang berubah seiring dengan berjalannya waktu dan kita harus selalu siap menerima segala perubahan yang terjadi.&lt;br /&gt;Seperti aku sekarang ini harus mampu dan mau menerima sikap SY yang berubah 180 derajat, dan tidak ingin aku teriak pada langit dan meminta semuanya untuk dirubah seperti dulu lagi…aku hanya bisa belajar dari kejadian ini semoga ini jadi semacam cambuk untuk mendewasakan diri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OH GOD IM HURT AGAIN…&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;02 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2BJst9OI/AAAAAAAAAOI/ETE_mWYHKkI/s1600-h/blogv.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 293px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2BJst9OI/AAAAAAAAAOI/ETE_mWYHKkI/s320/blogv.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284118762456216802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Sorry yah di ganggu..aku cuman pengen Tanya apakah kamu lagi marah sama aku gara-gara sms terakhir dari aku kemarin yang dah membuat kamu kecewa ? kalau memang iya aku minta maaf &amp;amp; aku gak ingin ada permusuhan di antara kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From : My Lion Hurt&lt;br /&gt;22: 50 02/08/07&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan pendek dari SY setelah hampir 2 hari kami putus kontak…sms tersebut seperti asa yang muncul di tengah kehampaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga SY tidak mau ada permusuhan di antara kita, kalau pun di kemudian hari kembali ada masalah saya ingin agar semuanya dapat diselesaikan secara baik-baik, bukankah dalam kemarahan kita masih harup bersikap santun ?...&lt;br /&gt;Saya rasa semuanya masih bisa diperbaiki…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;WIJ ELKENDER ZOODEN LIEF HEBBEN…&lt;br /&gt;“kita harus terus saling mengasihi”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;08 Agustus 2008&lt;br /&gt;23:00 WIB&lt;br /&gt;Taman Pulo Indah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2BbujnEI/AAAAAAAAAOY/skzKL6T6_9I/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 102px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2BbujnEI/AAAAAAAAAOY/skzKL6T6_9I/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284118767295765570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Genap sudah 3 hari aku melakukan moksa…3 hari tidak berbicara, tidak berhubungan dengan dunia luar, tidak melakukan apapun kecuali membaca buku, sholat, mandi, makan dan kegiatan rutin lainnya kecuali menonton TV.&lt;br /&gt;Dan setiap gelap mulai menyelimuti bumi, aku mulai duduk di teras lantai 2 membaca buku sembari memandangi lalu lintas pesawat yang lalu lalang di atasku dengan lampu navigasinya yang kerlap kerlip, (maklum tak jauh dari sini adalah Bandar udara Halim Perdana Kusuma) dan itu biasanya kulakukan sampai tengah malam.&lt;br /&gt;Dengan memandangi pesawat membuatku merasa sedang ekstase, seolah ia melintas di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;….kelak saat kau terbaring rebah di sampingku&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;…aku ingin kau bisikkan kisah perjalananmu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;…menempuh cakrawala dan bintang-bintang&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;09 Agustus 2007&lt;br /&gt;23:50 WIB Taman Pulo Indah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2Bhi5BLI/AAAAAAAAAOg/b5KwxFT9XAY/s1600-h/pray.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 278px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2Bhi5BLI/AAAAAAAAAOg/b5KwxFT9XAY/s320/pray.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284118768857449650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Telah aku aniaya diriku..&lt;br /&gt;Dan telah berani kumelanggar karena kebodohanku..&lt;br /&gt;Tetapi…kusandarkan diri pada ingatan dan karuania-Mu&lt;br /&gt;Yang kekal atasku&lt;br /&gt;Ya Allah pelindungku..&lt;br /&gt;Betapa banyak kejelekan yang Engkau tutupi..&lt;br /&gt;Betapa banyak malapetaka yang telah Engkau hindarkan&lt;br /&gt;Betapa banyak rintangan yang telah kau singkirkan&lt;br /&gt;Betapa banyak bencana yang telah kau gagalkan&lt;br /&gt;Betapa banyak pujian yang tak layak untukku telah Engkau sebarkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah besar sudah bencanaku…&lt;br /&gt;Berlebihan sudah kejelekan keadaanku…&lt;br /&gt;Sedikit sekali amal-amalku, berat benar belengguku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan – angan panjang telah menahan manfaat dariku..&lt;br /&gt;Dunia telah memperdayaku dengan tipuannya…&lt;br /&gt;Dan jiwaku telah terperdaya oleh pengkhianatan serta kelalaian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai junjunganku..ku memohon kepada-Mu&lt;br /&gt;Dengan kemulian-MU, jangan kau halangi doa ku kepada-Mu&lt;br /&gt;Oleh karena jeleknya amal dan perangaiku&lt;br /&gt;Janganlah Engkau ungkap dengan pantauanmu rahasiaku yang tersembunyi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah Engkau segerakan siksa padaku karena&lt;br /&gt;perbuatanku dalam kesendirianku&lt;br /&gt;dari jeleknya amal perbuatanku dan kejelekanku…&lt;br /&gt;dan kekalnya aku dalam dosa dan kebodohan..&lt;br /&gt;dari banyaknya nafsu dan kelalaian…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;penggalan doa kumail yang kubaca ketika melakukan ritual malam jumat, mebuat sekujur tubuhku menjadi lemas, bola mataku menghangat, kurasa air mulai mengalir di sana, kududuk bersimpuh dengan tubuh yang gemetar…&lt;br /&gt;aku merasa sangat bersalah pada-Nya..akhir-akhir ini aku merasa banyak melakukan pelanggaran, aku merasa sangat kotor, ..berbagai macam persoalan yang mederaku membuatku sering menghardik-Nya..dan menuduhnya tidak adil..ternyata aku salah Ya ALLAH…aku baru sadar berbagai macam cobaan yang diberikan Allah adalah bentuk kecintaan Allah kepada kita agar kita menjadi pribadi yang tangguh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;YA ALLAH AKU LELAH SEKALI YA ALLAH,..&lt;br /&gt;SANGAT LELAH YA ALLAH…&lt;br /&gt;TAPI KALI INI AKU AKAN TIDAK MENGELUH SELAIN KEPADAMU&lt;/em&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11 Agustus 2007&lt;br /&gt;22:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTxFkhWCPI/AAAAAAAAAOA/BvIhXAOAzBg/s1600-h/The_Tree_1_7_by_JaneDoe87.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVTxFkhWCPI/AAAAAAAAAOA/BvIhXAOAzBg/s320/The_Tree_1_7_by_JaneDoe87.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284113340817606898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sungguh aku ingin belajar bersyukur, tidak lagi memaki-maki keadaan seperti kemarin-kemarin. Harusnya aku bisa belajar banyak dari pengalaman, dari setiap tempat yang kudatangi, dari setiap orang yang kutemui. Karena setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru.&lt;br /&gt;Hampir 2 hari belakangan ini, aku bertemu dengan orang-orang yang membuat perasaanku seolah tersentil, kemarin di kantin UI salemba tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang dokter muda ia pernah tugas di jayapura dan aku pun demikian, dengan tugas dan profesi yang berbeda tentunya. Hal itu yang membuat kami dapat akrab dengan cepat, dan tanpa perlu merasa malu dan menutup- nutupi aku kemukakan segala permasalahan yang menderaku belakangan ini, dia memberi nasehat yang benar-benar bisa mengembalikan segala asa yang hampir hilang. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah pentingya sikap kerja keras dan pantang menyerah.&lt;br /&gt;Dan guru kedua adalah seorang tukang ojek yang juga ternyata berprofesi sebagai fotografer pengantin. Awal perkenalan kami cukup unik, waktu itu entah kenapa tiba-tiba kamera video (saya memutuskna kembali menjadi kameramen pengantin karena sudah tidak punya uang) yang kubawa mengalami masalah serius, head rusak sehingga kaset tidak bisa memutar pada saat tombol record dipencet, dan pada saat itu aku sedang tidak membawa asisten, bayangan kehancuran sudah terpampang di depanku, kalau aku sih tidak begitu masalah, tapi orang-orang yang telah mempercayaiku untuk melakukan pekerjaan ini, betapa ia akan kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang telah lama mempercayainya hanya karena kejadian ini.&lt;br /&gt;Di saat saat genting seperti itu, di mana aku tidak tahu harus berbuat apalagi, setengah putus asa yang kulakukan hanyalah memaki keadaan sebelum kemudian datanglah Mas Rudy yang dari tadi melihatku panic dan beberapa kali mondar-mandir di hadapannya. Mungkin karena penasaran ia bertanya padaku mengenai masalah yang kualami. Aku menjelaskan dengan singkat dan tidak detai-detail amat aku pikir dia cuman ingin berempati dengan cara bersikap seperti itu.&lt;br /&gt;Setelah mendengar sedikit penjelasan bagiku, ia kemudian menawarkan bantuan dengan sedikit setengah percaya aku serahkan saja kamera itu ke dia, ternyata entah bagaimana, dan apa yang dilakukannya terhadap kamera tersebut tidak lama kemudian ia bisa beroperasi dengan normal. Bagaimana mungkin jika mengacu pada SOP (standar operasional Procedure) kerusakan seperti yang kualami saat itu hanya bisa diatasi dengan membersihkan head kamera yang nota bene saat itu aku kelupaan membawanya.&lt;br /&gt;Ternyata aku telah salah menilainya, dan aku angkat topi terhadap dirinya. Sejak kejadian itu dia yang awalnya aku datang ke tempat itu aku hanya memandangnya Dengan seblah mata (ada stigma yang meninggikan posisi pekerja PH di banding pekerja pengantin) aku harus menunduk hormat padanya. Rupanya dari tadi ia memperhatikan kelakuanku yang uring-uringan ia menasehatiku tentang pentingnya kita bersykur, jujur dan ikhlas menerima setiap kejadian dan peristiwa.&lt;br /&gt;Mendengar semua yang diucapkannya rasanya ingin menunduk saja dan mebiarkan air mata menitik. Bagaimana tidak, aku baru menyadari jika betapa rapuhnya aku ini, diguncang sedikit masalah aku sudah memaki dan menyalahkan keadaan, menyalahkan diri dan sampai pada arah destruktif.&lt;br /&gt;Taruhlah seperti sekarang ini, setelah sekian lama berhasil berhenti dari jeritan nikotin, akhirnya aku kembali terjebak ke dalamnya seminggu belakangan ini. berbagai macam peristiwa yang meremuk redamkan perasaan harus kuhadapi sendiri, dan aku tidak kuat dan pada akhirnya aku kembali menjerumuskan diri kedalamnya (rokok).&lt;br /&gt;Dan setelah kejadian 2 hari tersebut aku semakin yakin kalau segala masalah dan cobaan yang diturunkan Allah kepada seoarang Hamba tak lain adalah sebagai bentuk kecintaan-Nya kadang tidak dimengerti padahal semua itu agar kita bisa menjadi manusia tangguh sebagaimana yang dikatakan oleh Bob Dylan :&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_KympLAI/AAAAAAAAAPI/HbLCPkghQbI/s1600-h/BobDylanSmileyBuzz.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_KympLAI/AAAAAAAAAPI/HbLCPkghQbI/s320/BobDylanSmileyBuzz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284128823660063746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;How many roads must a man walk &lt;/em&gt;&lt;em&gt;down&lt;br /&gt;Before you call him a man&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes ‘n’ how many seas must a white dove sail..&lt;br /&gt;Before she sleeps in the sand?&lt;br /&gt;Yes ‘n’ how many times must the cannon balls fly..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Before they’re forever banned&lt;br /&gt;The answer my friend is blowin’ in the wind&lt;br /&gt;The answer is blowin’ in the wind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How many times must a man look up&lt;br /&gt;Before he can see the sky&lt;br /&gt;Yes ‘n’ how many ear must one man have&lt;br /&gt;Before he can hear people cry?&lt;br /&gt;Yes ‘n’ how many deaths will it take till he knows&lt;br /&gt;That too many people have died?&lt;br /&gt;The answer my friends is blowin ’n’ the wind&lt;br /&gt;The answer is blowin’ in the wind&lt;br /&gt;How many years can a mountain exist&lt;br /&gt;Before I’ts washed to the sea&lt;br /&gt;Yes ‘n’ how many years can some people exist&lt;br /&gt;Before they’re allowed to be free ?&lt;br /&gt;Yes ‘n’ how many times can a man turn his head&lt;br /&gt;Pretending he just doesn’t see?&lt;br /&gt;The answer my friend is blowin ‘n’ the wind&lt;br /&gt;The answer is blowin ‘n’ the wind..&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini, setelah melalui banyak tekanan dan kepedihan, semakin aku belajar untuk menjadi dewasa, untuk menjadi tangguh, untuk menjadi lebih kuat..tidak peduli jalan di depan yang akan kulalui akan penuh lubang dan kerikil serta duri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;HOW MANY ROADS MUST A MAN WALK DOWN&lt;br /&gt;BEFORE YOU CALL HIM A MAN&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12 Agustus 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2B8h5QuI/AAAAAAAAAOo/3h-2ZYBgvDo/s1600-h/lukisan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 227px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT2B8h5QuI/AAAAAAAAAOo/3h-2ZYBgvDo/s320/lukisan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284118776101028578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan saat itu aku mewujudkan sebuah rumah batu kecil di atas bukit, yang di bawahnya ada sungai kecil jernih yang mengalir,..ketika itu akan datang padamu meletakkan tangan di ubun-ubunmu dan melafalkan doa rasulullah, semoga saja pada masa itu engkau ada di sana menungguku dengan gaunmu yang berkibar kibar…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku ingin engkau menjadi bunga, yang dikelopaknya aku terbungkus wangi, dan enggan berbagi dengan udara…&lt;br /&gt;Aku ingin engkau menjadi pelabuhan tempat kapalku bersandar rebah..&lt;br /&gt;Aku ingin engkau menjadi rumah tempat tujuanku kembali saat senja datang..bersama langit, bulan, bintang dan sejuta ungkapan cinta..yang hanya melalui tatap mata tanpa kata….&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;16 Agustus 2007&lt;br /&gt;UI DEPOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_J92330I/AAAAAAAAAO4/1LRVSLgCjHI/s1600-h/rektorat-ui.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVT_J92330I/AAAAAAAAAO4/1LRVSLgCjHI/s320/rektorat-ui.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284128809501056834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini aku resmi terdaftar sebagai mahasiswa UI dengan nomor pokok mahasiswa 0706185736 ada perasaan bangga karena aku telah berhasil memasuki sebuah institusi yang menjadi kebanggaan sekaligus keangkuhan pendidikan di Indonesia. Bagaimana tidak institusi ini hanya menerima mereka yang selain mampu secara intelektual juga harus mampu secara financial “orang miskin dilarang sekolah” padahal yang aku tahu UI adalah universitas urutan 75 dunia dan berkiblat ke eropa yang notabene menganut mazhab kritis, yang seharusnya lebih banyak berpihak kepada orang kebanyakan dan pada akhirnya Patrio O’murte hanya tinggal slogan belaka.&lt;br /&gt;Seperti aku hari ini setelah 5 hari pontang panting cari dana dan pelarian terakhir minta ke orang tua untuk menutupi kekurangan yang ada, akhirnya aku berhasil mengumpulkan duit sebanyak Rp. 12.700.000,- itu pun sebenarnya masih kurang Rp. 50.000,- dari jumlah yang harus dibayarkan. Untunglah temanku Hasbullah menutupi kekurangan tersebut, sehingga aku bisa melakukan pembayaran pada hari terakhir registrasi yang jatuhnya pada hari ini juga.&lt;br /&gt;Yah aku terkuras habis, menyisakan duit Rp. 5.000,- di kantong dan itulah semua total jumlah kekayaanku, jika digabung dengan HP, sepatu, dan pakaian yang kupakai nilanya tidak sampai Rp. 2.000.000,-. Benar-benar bangkrut sampai-sampai untuk membeli pulsa demi membalas SMS SY yang entah lagi berada di belahan bumi mana dari Indonesia ini, tak sanggup lagi.&lt;br /&gt;kami tadi sempat sms-san ia memberitahukan kalau sedang sakit dan tidak nafsu makan…entah penyakit apalagi apa yang sedang menimpanya….mungkin saja PMS (pre menstruation syndrome)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’M BROKE BUT I’M HAPPY “Alanis Morisette”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;19 Agustus 2007&lt;br /&gt;Hotel Santika Tanah Abang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUC-I94MuI/AAAAAAAAAPw/jR_lC6zlcxs/s1600-h/Leave_me_Alone_by_Joker84.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 224px; height: 175px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUC-I94MuI/AAAAAAAAAPw/jR_lC6zlcxs/s200/Leave_me_Alone_by_Joker84.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284133004371309282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah 2 hari ini SY belum membalas SMS ku…sms terakhir yang saya terima darinya kira-kira seperti ini bunyinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukannya karena takut gemuk tapi emang lagi nafsu makan aja dah gitu tidurnya kurang banget makanya jangan sampe sakit deh..masa seh ada pesawat yang tabrakan di surabya ? aku Gak Pernah dengar tuh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From : My Lion Heart&lt;br /&gt;13:08 16/08/07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;(SMS ini tidak terbalas karena pulsaku tidak cukup lagi)&lt;br /&gt;Kemudian pada malam harinya aku sempat sms lagi, dan keesokan harinya juga tapi sama sekali tidak mendapat balasan, Shiela tiba-tiba hilang begitu saja seperti di telan Bumi. Tapi aku yakin dia masih ada karena setiap status sms yang aku kirim selalu terkirim.&lt;br /&gt;Tapi tidak membalas sms 2 kali dan dua hari berturut-turut di luar kebiasaan SY, tapi aku putuskan untuk tidak ngotot lalu meneleponnya, takut mengganggu.&lt;br /&gt;Soalnya sms dia beberapa hari yang lalu mengabarkan kondisi fisik yang merujuk pada penyakit fisik yang diakibatkan oleh kondisi emosi yang tidak stabil…seperti susah makan dan susah tidur salah satu penyebabnya adalah karena begitu banyak pikiran yang memasung.&lt;br /&gt;Hari ini setelah kehilangan kontak dengan SY, aku bertemu dengan seorang kawan lama, EkS, ia sudah cukup lumayan mapan dan suskes sebagai politisi muda partai Golkar. Untuk merayakan pertemuan itu dia mengajakku jalan-jalan ke Hotel Santika Tanah Abang untuk meghadiri Rapat pembahasan Rancangan Undang-undang SISDIKNAS.&lt;br /&gt;Eka selama Kuliah dia berperan sebagai salah satu konsultan teknis urusan asmaraku, meskipun beberapa strateginya hanya menjadikanku Blunder seperti contohnya kasus “Cerpen Lily Flower” yang membuatku harus disidang tengah malam Di MAPERWA FISIP karena dianggap melakukan penghinaan terhadap lembaga.&lt;br /&gt;Tapi pertemuan kali ini saran dan masukannya cukup masuk akal ketika aku CURHAT mengenai SY pada sepanjang perjalanan tadi. Di memintaku untuk tidak bermain rasa dan menggunakan nalar, karena apabila bermain rasa maka aku cenderung bertindak bodoh. Dan masih banyak nasehat lainnya yang membuat hanya bisa mengangguk seperti burung pelatuk.&lt;br /&gt;Mungkin Eka benar, saatnya untuk menggunakan Nalar dan mematikan rasa,..mungkin aku harus mulai belajar melupakan SY, mulai memikirkan kelanjutan hidupku yang lain..dan melupakan segala mimpi tentangnya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEAVE OR LET DIE…..&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;21 Agustus 2008&lt;br /&gt;Beijing China&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUAIFAShKI/AAAAAAAAAPQ/oh8qwzIMNLw/s1600-h/starbucks_JonathanHanson2006.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SVUAIFAShKI/AAAAAAAAAPQ/oh8qwzIMNLw/s320/starbucks_JonathanHanson2006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284129876571489442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Seperti bayang-bayang yang tak mau pergi, aku masih terkepung kenangan yang menari-nari di ujung jalan sepi…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku sedang mengalami jet leg akibat penerbangan yang memakan waktu lama dari Jakarta menuju Beijing…tiba tiba bayangan kenangan tentang SY hadir terpampang di depanku… seperti tarian yang dimainkan oleh penari pada pentupan olimpiade cina.&lt;br /&gt;Yah aku dan SY Selama lebih setahun kami tidak pernah saling sapa baik melalui telpon maupun sms, hanya pada hari perayaan tertentu saja kami saling mengucapkan selamat&lt;br /&gt;Aku benar-benar kehilangan informasi tentangnya, yang aku tahu tidak lama setelah kami putus kontak, dia pacaran dia seorang pria bernama Alp informasi tentang itupun tanpa sengaja ku dapati ketika sedang melihat FS nya dan mendapati foto dirinya sedang bermesaraan dengan seorang pria yang bisa dipastikan sebagai Alp...dan kemudian FS ku terblokir ke FS nya jadilah aku tidak bisa lagi mengetahui kabar tentangnya….bisa saja dia telah menikah seperti katanya dulu kalau dia akan menikah pada umur 25 tahun, ………….SY HOW ARE YOU TO DAY…. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-7746441651749150390?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/7746441651749150390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=7746441651749150390&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7746441651749150390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7746441651749150390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/sepenggal-kisah-yang-lalu-its-about.html' title='SEPENGGAL KISAH DAN KASIH YANG LALU &quot;It&apos;s About Love, Hate, And Everything Between&quot;'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU37NJl02ZI/AAAAAAAAAIA/1SujgNv2ZGI/s72-c/fio.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-8786417669870453617</id><published>2008-12-20T23:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-20T23:52:37.790-08:00</updated><title type='text'>IKLAN POLITIK &amp; REALITAS SOSIOKULTURAL "sultan Koq Dadah-Dadah</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU31tBWe4RI/AAAAAAAAAHw/AYrstqZWs-M/s1600-h/sultanhbx.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282148091781112082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU31tBWe4RI/AAAAAAAAAHw/AYrstqZWs-M/s320/sultanhbx.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Garin Nugroho (Pembuat Film)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Gaya) Sultan kita buat seperti di lapangan Ikada, berjalan seperti Soekarno naik panggung. Sultan melambai-lambaikan tangannya. Eh rupanya saya diprotes. Mas Garin, Sultan iki sing ojo mboten-mboten to. Kok malah mlaku dadah-dadah ya, mbok diitung mas Garin, antara orang yang suka Sultan jalan dadah-dadah dengan orang yang sok intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;M.Qodari (Peneliti Opini Publik)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapat dukungan masyarakat di Indonesia, jauh berbeda dengan mendapat dukungan masyarakat di Yogya. Kalau di Yogya ada yang ribut, Sultan tinggal angkat tangan, semua langsung diam. Sedangkan kalau di Jakarta… sudah dikirim pasukan, masih saja susah diatur. Jadi kalau misalnya Sultan naik (jadi presiden), bagaimana ia mengatasi persoalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sri Nuryanti (Anggota Komisi Pemilihan Umum)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dulu dalam riset AC Nielsen dikatakan bahwa rating sinetron Bajaj Bajuri melebihi sinetronnya Raam Punjabi. Kenapa? Karena Bajaj Bajuri menggambarkan realitas masyarakat sehari-hari. Berkaitan dengan itu menurut hitung-hitungan politik, mohon maaf… bila Mat Solar (pemeran Bajuri) mencalonkan diri, bisa-bisa dia terpilih karena rakyatnya merasa dekat dengan dia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan politik muncul pertama kali di televisi tahun 1952. Sejak kemunculannya, iklan politik selalu mengundang perdebatan, terkait etika dan hukum. Iklan politik Lyndon B Johnson tahun 1964, terkenal disebut “Bunga Daisy”. Dalam spot iklan ditayangkan seorang gadis cilik tengah memetik bunga aster (daisy) saat sebuah bom atom meledak dengan jamur api mahadahsyat membumbung tinggi. Iklan politik itu dimaksudkan untuk menyebarkan ketakutan rakyat Amerika Serikat mengenai kecenderungan Barry Goldwater, lawan politik Johnson, untuk memulai sebuah perang nuklir dengan Uni Soviet.&lt;br /&gt;“Bunga Daisy” hanya ditayangkan sekali pada 7 September 1964 di televisi CBS sebab Goldwater mengancam menggugat Johnson dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Meski dicabut, iklan itu berulang-ulang ditayangkan dalam pemberitaan setelah kontroversi menjadi perdebatan publik. Iklan politik selalu menarik perhatian publik AS selama 14 kali pemilihan presiden, meski diperlukan uang luar biasa besar. Iklan politik tidaklah sekadar janji dan daya pikat, tetapi mengandung tawaran program, panduan publik, serta menumbuhkan ketulusan dan kepercayaan. Iklan politik adalah strategi image, pendidikan kewarganegaraan, dan strategi politik.&lt;br /&gt;Lain “Bunga Daisy” lain pula iklan politik 8 tokoh PKS. Iklan politik yang memunculkan wacana kepahlawanan Soeharto ini, adalah bagian dari strategi PKS menyedot perhatian publik. Dengan dana minimum berharap hasil maksimum. Hanya ditayangkan tiga hari, namun memperoleh publikasi yang luar biasa. Kalau menyebut Soeharto ada dua kemungkinan, disebut atau tidak disebut. Kalau disebut, itu seperti PKS 8 tokoh. Permainan langsung gambling besar. Tapi semua sector dipuji. Tapi kalau tidak disebut, semua orang akan bingung. Pendukungnya Soeharto juga akan bingung, ini mendukung atau tidak. PKS sekarang politiknya jago. Misalnya mengumpulkan tokoh-tokoh. Seperti partai terbuka dengan dapur yang tetap menjadi karakter PKS. Tapi ruang tamunya boleh terbuka. Dan ini adalah politik yang patut dipuji.&lt;br /&gt;Ketika Garin mendapat pendidikan kampanye politik oleh penasehat Carter sampai Clinton. Disebutkan ada sebuah tanda yang disimbolkan Nelson Mandela sedang bersalaman dengan orang kulit putih. “Kamu tahu dulu symbol ini seperti apa,” tanya sang penasehat kampanye Demokrat itu. Rupanya, dulu simbolnya adalah kepalan tangan yang mengacung. Setelah dianalisa, simbol itu lalu diubah yang lebih merangkul orang kulit putih.&lt;br /&gt;Ternyata di balik symbol tadi, terdapat peta politik yang sangat kompleks. Pertama, seluruh dana keuangan di Afrika Selatan dikuasi orang kulit putih. Selain itu birokrasi 70% dan juga senjata 80% masih di tangan orang kulit putih. Kalau simbolnya kepalan tangan, Mandela mungkin sebentar saja jadi pahlawan. Banyak orang kulit putih mati, uang dilarikan dari negara tersebut. Dan dampak politiknya akan sangat luar biasa.&lt;br /&gt;Ketika pulang ke tanah air, melalui Visi Anak Bangsa (VAB) Garin membuat Iklan Layanan Masyarakat (ILM) Pemilu 1999 yang cukup populer dengan tagline “Inga-inga.” ILM termasuk kategori iklan nonkomersial yang merupakan bagian dari kampanye social marketing yang bertujuan “menjual” gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan masyarakat. Sebuah ILM tak semata-mata harus menampilkan unsur informasi. Pertama, harus memiliki aspek perilaku, yakni berusaha mengajak masyarakat ikut Pemilu dengan baik dan benar secara damai. Kedua, mengandung unsur perubahan sosial. Ketiga, bisa memberikan proses edukasi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Lima tahun kemudian, Pemilu 2004, adalah Pemilu dalam karakter industri kampanye. Yakni, suatu pemilihan langsung yang salah satu pegas utamanya digerakkan teknologi industri budaya populer, khususnya lewat televisi multikanal. Maka, seluruh unsur personal calon presiden, baik kemampuan oral maupun bahasa tubuh, akan dihadapkan dengan kemampuan daya hidupnya dalam industri budaya populer. Contoh, kemampuan berbicara efektif untuk dicuplik di program berita televisi atau dalam kemasan iklan, talkshow, maupun pereristiwa yang diliput televisi.&lt;br /&gt;Era budaya popular lewat televisi ini melahirkan karakteristik khusus, yakni, bahwa hiburan popular, ideologi, ekonomi, politik dan kerja institusi sosial serta negara, secara alamiah dan fungsional bekerja membaur dan saling menghidupi di layar televisi. "Politik adalah show business," kata Neil Postman, seorang pedagog dan kritikus media. Politik adalah bisnis pertunjukan! Guy Debord, dalam The Society of the Spectacle, menyebut masyarakat mutakhir, "masyarakat tontonan". Dalam "masyarakat tontonan", citra, kesan, dan penampilan luar adalah segalanya. Ia perlu dikemas agar memikat masyarakat. Ingat, politik citra adalah politik kemasan!&lt;br /&gt;Saluran budaya pop menjadi sarana komunikasi antara elite politik dan massa. Budaya pop, politik, dan komunikasi politik mengalami konvergensi (bertemu) satu sama lain. Misalnya, kampanye politik sudah lumrah melibatkan artis pop, musik pop/dangdut, dan program televisi dipenuhi dengan politisi "artis" pop. Politisi yang "serius" pun (seperti tentara dan kyai!) harus berhadapan dengan sorotan yang terus-menerus dari media pop atas kinerja pribadi dan politiknya.&lt;br /&gt;Gejala ini bukanlah baru. Dalam Politics and Popular Culture, Street (1997) melukiskan genre politik ini sebagai "soal penampilan" (a matter of performance). Politik memiliki kaitan yang erat dengan budaya pop. Permainan di depan pemirsa televisi menjadi bentuk seni pertunjukan. Menurut Street, politik sebagai budaya pop adalah menciptakan khalayak. Orang yang akan tertawa dengan lelucon, memahami kecemasan, dan berbagi harapan dengan politisi, baik media pop maupun politisi menciptakan karya fiksi pop yang menggambarkan dunia impian rakyat.&lt;br /&gt;Tak dapat dimungkiri, tiap tanda itu tumbuh dari kultur sebuah bangsa atau masyarakat. Tak berlebihan kiranya, meski banyak orang belajar di Amerika Serikat atau Eropa, namun jika membuat iklan untuk Indonesia, lupakanlah teori orang AS, lupakan TV AS. Garin telah membuktikan bahwa iklan yang membumi, atau representasi dari sosialkultural masyarakat setempat, akan mudah diterima.&lt;br /&gt;Ketika Megawati dikritik banyak pihak sebagai feodal, kurang pintar dan lain-lain, dengan tegas Garin mengatakan Megawati akan menang (dalam Pemilu 1999). Dari mana? Culture studies, menunjukkan bahwa pada masa transisi, perempuan lebih dipilih ketimbang laki-laki. Pada orang desa, ketika ibu pergi, laki-laki lebih memilih perempuan untuk menjaga rumah. Tapi ia hanya hidup di masa transisi.&lt;br /&gt;Dalam dua seri artikel opini Kompas bertajuk “Megawati Opera Sabun I dan II” (Mei 2002) Garin mencoba memprediksi penokohan Megawati di tengah drama politik Indonesia. Yakni, lewat salah satu kajian cultural studies yang mulai populer, mencoba membandingkan drama politik dan citra tokoh politik seperti layaknya dramaturgi dan penokohan opera sabun. Mengingat opera sabun adalah bukan wilayah hampa, kepopulerannya merefleksikan psikologi komunal masyarakat terhadap inpian model-model kepahlawanan, konflik, ketertindasan hingga harapan.&lt;br /&gt;Citra Megawati – setelah dikalahkan Abdurrahman Wahid di parlemen - yang lemah dan tertindas serta mengedepankan tertib hukum alias damai adalah model tokoh dalam Opera Sabun, yang menjadikannya populer. Namun, ketika Megawati menggantikan kedudukan Gus Dur menjadi presiden, Garin melihat sosok Megawati sebagai politikus yang tidak langsung memotong dan membongkar. Ia cenderung hati-hati, dan kompromi terhadap konflik.&lt;br /&gt;Enam bulan sebelum kampanye Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilu 2004, Garin datang ke rumahnya di Cikeas. Ia ditanya, kira-kira akan menang atau tidak? Garin yakin SBY akan menang. Karena secara culture studies, tokoh-tokoh lawan politik lainnya sedang menurun. Itu bukan soal karena ia sedang disingkirkan oleh Taufik Kemas.&lt;br /&gt;Kini Garin, bersama Sukardi Rinakit dan Franky Sahilatua, mendukung Sri Sultan Hamengkubuwpwno X, Raja Jawa dari Yogyakarta. Dalam acara pisowanan ageng atau deklarasi kesediaan maju menjadi presiden 2009, Sultan, dibuat seperti di lapangan Ikada, Sultan jalan seperti Soekarno naik panggung. Ini case budaya kita yang kalau dianalisis dengan ilmu komunikasi, kita bisa tertawa terbahak-bahak dan mengolok-olok diri kita luar biasa.&lt;br /&gt;Rupanya kreasi Garin dan kawan-kawan itu menuai protes. “Mas Garin, Sultan iki sing ojo mboten-mboten toh. Kok malah mlaku lan dadah-dadah, ya mbok diitung mas Garin, antara orang yang suka Sultan jalan dadah-dadah dengan orang yang sok intelektual,” ujar Garin menirukan pemrotes yang umumnya kalangan orang tua Jawa.&lt;br /&gt;Masih seputar iklan yang mengambil sosialkultural masyarakat setempat. Kali ini, iklan di pilkada Sumatera Utara. Gubernur Sumatera Utara keluar menjadi pemenang. Coba kita simak iklan yang dibuat kawan-kawan Garin. Teksnya seperti ini. “Kuntilanak naik motor, yang mbonceng kepalanya gundul, main fisik kau.”&lt;br /&gt;Kalau kita bandingkan dengan iklan Obama sungguh ibarat Jaka Sembung naik ojek alias “Nggak nyambung Jek!” Kita mengetahui karakter masyarakat Sumut dan juga calon gubernur yang gemar berolok-olok. Menang dengan olok-olok seperti itu sungguh hanya terjadi di Sumut khususnya atau Indonesia umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;New Tribal Voters&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat bahwa dalam sepuluh tahun ini, komunikasi politik seharusnya belajar, ada peta baru di dalam iklan dan kontrak politik di Indonesia. Dan kita bisa menemukannya. Tapi celakanya, kita selalu mengambil model dari luar dan menerapkannya begitu saja. Dan komunikasi politik dalam sepuluh tahun terakhir ini harus memiliki laboraturium politik untuk mengkaji itu semua.&lt;br /&gt;Ketika pada 1998 VAB akan membuat iklan, Garin melakukan riset, atas bantuan USAID, ke beberapa provinsi. Apa yang dinamakan partisipasi pemilih itu kompleksitasnya sangat tinggi. Tampaknya, kita mengalami apa yang disebut the new tribal, suku-suku baru. Menurut politik aliran, wilayah rural dan urban hampir 60% terjadi perubahan ini. Perubahan tidak hanya menyangkut wujud, tapi gaya hidup, ruang publik berubah. Agriculture dan industri berubah.&lt;br /&gt;Karena itu, ketika Taufik Kiemas (suami Megawati) bertanya, bagaimana cara “memotong” SBY, di tengah berubahnya karakteristik pemilih. Garin menjawab, sangat sulit. Karena kita tidak punya pengalaman politik untuk memotong suara-suara independen, di mana apabila politik aliran dan politik kesetiaan mengalami perubahan yang dahsyat sekali. Kita mengalami quantum leap yang cepat sekali.&lt;br /&gt;Lompatan karakter pemilih Indonesia yang bernama politik aliran itu cepat sekali.&lt;br /&gt;Para konsultan kampanye, harus mendapatkan peta baru keindonesiaan dalam perilaku-perilaku ini. Misalkan, wilayah ibu-ibu, sangat komplek sekali. Bagaimana ibu-ibu di desa sudah sangat berbeda dibanding 1998, misalnya. Karena itu, di tengah neo tribal, kalau kita tidak melakukan pemetaan yang betul-betul detail dan kompleks, kita akan ketinggalan. Ketika di Tanah Abang, VAB bikin iklan Pak Bendot, dengan iklan bendera itu. Iklan itu merupakan hasil riset di 29 provinsi. Mereka ditanya apa pengertian demokrasi, untuk masyarakat menengah ke bawah.&lt;br /&gt;Apa jawaban mereka? Bukan yang berpendidikan. Mereka menjawab, demokrasi adalah demonstrasi. Mengapa begitu jawabannya? Rupanya mesyarakat melihat dan menilai mahasiswa yang demonstrasi ya identik dengan demokrasi. Ini hanya satu kasus saja, mengakibatkan sebuah lompatan yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;Tanpa memahami peta baru keIndonesiaan, pembuat iklan akan mendapat masalah terutama dalam proses kratifnya. Program diterjemahkan dalam proses kreatif, itu tidak mudah. Dengan peta buta hasilnya hanya artificial. Misalnya soal iklan yang mengandung multikultur. Cara gampangnya, kreator lalu mencari anak punk dan orang Cina berbicara. Saya pilih partai X, atau saya dukung calon Y. Padahal iklan adalah transformasi yang di dalamnya ada banyak faktor. Iklan adalah buah dari akar-akar. Tapi di iklan-iklan kita buahnya ya akar itu. Akarnya ya akar itu. Padahal mengubah akar mengubahnya luar biasa sekali. Masalah gaya, bahasa tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebangsaan dan Keberagaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pemilu 2009 iklan politik kian marak. Ada yang memperkenalkan partai, ada juga yang memperkenalkan tokoh partai, bahkan orang yang bukan siapa-siapa mengaku calon pemimpin bangsa. Layaknya iklan sabun cuci ada yang menyatakan pilihlah saya atau partai kami. Mereka jeli memanfaatkan momen tertentu seperti hari kebangkitan nasional, kemerdekaan sampai lebaran dan Natal.&lt;br /&gt;Para konsultan politik dan pembuat iklan politik kini kebanjiran order. Dalam era bisnis saat ini partai atau capres adalah raja yang harus dilayani. Tetapi tidak bagi Garin. Pasalnya, meski hampir semua partai memilihnya untuk mengam-panyekan partainya dalam Pemilu 2009. Namun, Garin hanya memilih yang punya prinsip.&lt;br /&gt;“Tahun ini, adalah tahun degradasi kebangsaan dan keberagaman. Saya menawarkan di teve, bahwa saya akan mendukung calon yang punya komitmen pada kebangsaan dan keberagaman, tanpa bayar,” kata Garin di layar kaca sebuah televisi. Karena komitmen Sultan mendukung pluralisme dan kebersamaan, maka kini Garin berada di barisan Sultan.&lt;br /&gt;Kita bisa meng-assest pada setiap pemimpin dilihat dari sejarah dan karirnya terhadap nilai itu. Sayangnya di Indonesia tidak ada pemimpin yang dari bawah. Kaderisasinya di partai politik payah. Kalau Anda seorang kandidat dan tidak mau mengunjungi daerah miskin padat penduduk. Anda akan dikritik banyak orang. Pertanyaan mendasar, ngapain datang ke wilayah kecil, miskin, tak ada suaranya. Itu dari sisi pemenangan suara. Tapi dari sisi pendidikan politik, kalau kita punya komitmen, maka kita datang. Karena setiap suara adalah warga negara. Setiap konsultan politik akan mengalami paradoks, tentang kemenangan dan apa yang ingin diraih sebuah bangsa.&lt;br /&gt;Iklan pemilu harus dikerjakan dengan serius. Semua harus melalui hasil riset. Ditemukannya demokrasi dan rasa tidak aman, adalah hasil riset, bahkan sampai mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan berbagai ahli. Dan ternyata tujuan pemilu kala itu adalah lima hal. Multikultur, anti kekerasan, demokrasi, bukan sebuah ketakutan, dan publik di ruang umum. Lalu semua dijabarkan. Multikultur kan bukan hanya Cina dan Jawa. Ada ruang publik yang bisa dimanfaatkan bersama.&lt;br /&gt;Kini, semua proses politik hanya instrumental. Hanya bicara soal teknis, tidak ada filsafatnya. Pemilu harusnya bagaimana mendeskripsikan Pancasila dan falsafahnya.&lt;br /&gt;Kalau kita lihat politik SBY saat ini, tampaknya dia tidak pernah menyentuh nilai-nilai yang terlalu sensitive, misalnya ujian negara (UN) bagi siswa SMP/SMA, itu tidak akan pernah dia sentuh. Pada wilayah-wilayah sensitive agama, dia letakkan kepada orang lain. Semua diletakkan pada orang-orang yang harus bertempur semuanya. SBY adalah jenius pada perencanaan, defensive tapi bagus.&lt;br /&gt;Kalau kita lihat enam bulan belakangan ini. Keputusan-keputusan penting adalah memberikan kompensasi pada wilayah tiang-tiang politik, ekonomi, dan massa. Tentu dilakukan dengan sangat lembut dan terbatas. Siapa yang gajinya paling tinggi, tentu menteri keuangannya. Keputusan 20% (APBN untuk pendidikan) boleh diputuskan tapi peraturan pemerintahnya belum. Wilayah lama ditinggalkan tanpa meninggalkan konflik dan wilayah baru ditata dengan keseimbangan lagi. Seorang pesaing yang baik, harus tahu benar kejeniusan orang, kita belajar sekaligus melihat aspek-aspek, kejeniusan adalah lompatan tapi tidak sempurna. (Tri Agus Susanto Siswomiharjo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Sosiokultural&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Iklan politik yang dibuat dan akan ditayangkan di media-media Indonesia tidak bisa serta merta mengadopsi pakem-pakem sebuah iklan politik dalam terminologi memperbandingkan (comparisons) atau memperlawankan (contrasting) sambil melakukan serangan (attacking) kepada lawan-lawan politik karena dirasakan tidak ‘terlalu’ etis secara sosial budaya.&lt;br /&gt;Iklan politik yang dibuat untuk konteks konstituen Indonesia harus selalu memerhatikan faktor sosial budaya. Karena salah satu budaya Indonesia adalah paternalistik, maka jika seorang kandidat jabatan publik pada saat berkampanye melakukan perbandingan program dengan apa yang telah dilakukan pemerintah Orde Baru (ini hanya ilustrasi sebuah contoh saja) sambil menuding-nuding semua kesalahan Soeharto (kendati pun klaim-klaim itu benar), tetap saja si kandidat itu bisa dianggap sebagai orang yang tidak punya unggah-ungguh (sopan-santun) kepada orang tua.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dengan alasan budaya sopan santun dan menghormati orang yang berusia lebih tua itu pula, Soeharto—yang kala itu menjadi penjabat Presiden RI menggantikan Presiden Soekarno menyusul penolakan MPRS atas pidato pertangggungjawaban Presiden Soekarno yang berjudul “Nawaksara,” pada tanggal 12 Maret 1967—tidak pernah secara tegas menguraikan apa saja kesalahan-kesalahan Soekarno. Namun Soeharto, seperti diuraikan dalam buku: “Soeharto: Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya,” justru melakukan apa yang diistilahkannya sebagai: “mikul dhuwur mendhem jero” (memikul tinggi-tinggi dan mengubur dalam-dalam).&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7225411089011293727#_edn1" name="_ednref1"&gt;[i]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil analogi di atas, berdasarkan latar belakang sosial budaya masyarakat Indonesia, kandidat yang beriklan tak akan dapat dengan leluasa melakukan pembeberan segala kelemahan lawan politik—dengan teknik comparisons dan contrasting—tanpa konsekuensi mendapatkan ‘tendangan balik’ dari khalayak konstituen yang berbalik tidak simpati kepada kandidat itu.&lt;br /&gt;Mencermati buah pikiran Garin Nugroho, paling tidak terdapat beberapa faktor sosial budaya yang wajib diperhitungkan ketika kita akan membuat tayangan iklan politik di media-media Indonesia. Faktor-faktor itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perempuan Akan Dipilih di Masa Krisis.&lt;/strong&gt; Saat Indonesia menderita krisis—menurut Garin Nugroho—seperti hampir dalam semua sejarah di dunia—kandidat perempuan akan memenangi kontestasi. Hal ini dilatarbelakangi oleh faktor sosiologis perdesaan, di mana jika desa sedang gagal panen, dan para bapak pergi mencari nafkah ke luar desa maka yang akan memegang tulang punggung perekonomian adalah ibu atau perempuan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gaya Berbahasa&lt;/strong&gt;. Dalam berinteraksi sehari hari kita lebih banyak mengguna-kan bahasa tubuh (70 persen). Namun bahasa lisan juga memainkan peranan penting dalam membentuk pencitraan seorang tokoh atau kandidat. Mungkin fakta ini jarang dilihat. Ketika kandidat mengontraskan dirinya dengan posisi lawan dengan mengatakan ‘Inilah Tokoh Demokrasi’—Garin Nugroho yakin kandidat tersebut tidak akan menang. Mengapa? Dengan menyatakan diri sebagai lawan diametral terhadap posisi pesaing—dengan kata lain menggu-nakan ‘bahasa oposisi’—berarti telah keluar dari pakem budaya Indonesia. Karena sebagian orang Indonesia tidak suka istilah oposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketokohan Patut Diperhitungkan&lt;/strong&gt;. Garin Nugroho memberi “nasehat” kepada SBY perihal kasus Soeharto. Diperlukan sikap “diam” yang panjang jika ada pihak yang menanyakan sikapnya tentang Soeharto. SBY tidak perlu jadi pahlawan dengan berpolemik tentang penanganan kasus Soeharto. Jika SBY ingin menang dalam pemilu 2009, maka pertanyaan tentang Soeharto tidak perlu dijawab atau ditanggapi. Jika SBY membela Soeharto maka ia akan kehilangan suara dari golongan yang anti Soeharto. Tetapi kalau SBY setuju Soeharto diadili ataupun dikriminalkan maka ia akan kehilangan dukungan dari pihak pendukung Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berdebat Bukan Budaya Asli Indonesia&lt;/strong&gt;. Budaya berdebat dalam pemilu di Indonesia dengan tujuan untuk memamerkan kepandaian bukanlah terambil dari khazanah budaya Indonesia. Garin Nugroho yakin bahwa perdebatan yang ditayangkan di media TV tidak akan berdampak psikologis luar biasa kepada khalayak pemilih dalam menentukan pilihannya. Untuk konteks Indonesia, kepandaian “bersilat lidah” dari seorang calon pemimpin tidaklah signifikan menentukan kemenangan dalam kontestasi. Pemimpin yang bertipe “mengalah” justeru biasanya akan menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memperolok Diri Sendiri&lt;/strong&gt;. Alih-alih membesarkan diri dengan mengatakan kita lebih hebat dari pihak lawan justru simpati akan mengalir jika kandidat berani mengolok-olok diri. Jurus memperolok diri justru ampuh membuat orang lain memilih kandidat yang bersangkutan. Gaya komunikasi memperolok diri cenderung membangkitkan impresi kepada pemilih bahwa kandidat seperti itu adalah rendah hati dan memiliki kecerdasan emosional tinggi. Namun dalam literatur Barat, tak satu pun tesis yang menganjurkan untuk ‘mengecilkan’ diri sendiri dalam rangka mendapatkan simpati pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Khazanah budaya Indonesia sangat kompleks&lt;/strong&gt;. Menzalimi orang lain akan membuat sang penzalim sangat cepat menuai petaka yang berakibat turunnya pamor dan tumbangnya sang penzalim. Namun jika yang ‘dizalimi’ adalah diri sendiri dengan jalan mengolok-olok diri maka hasilnya akan sungguh dahsyat. Simpati dan suara publik akan mengalir kepada kandidat yang melakukan praktik mengolok-olok diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Postur dan Laku Tokoh&lt;/strong&gt;. Postur dan tindak tanduk seorang kandidat dapat membuat perbedaan dalam benak pemilih. Sebagai contoh, Sultan Jogjakarta sebagai Raja Jawa tidak elok berjalan cepat. Ketika Garin Nugroho ‘menyetel’ gaya berjalan Sultan dengan gaya jalan bergegas seperti Obama, maka orang-orang (Jawa) di wilayah Jogjakarta dan sekitarnya melakukan protes karena Raja Jawa tidak boleh berjalan cepat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain di Jogja, ketika Sultan akan naik panggung lalu diatur supaya ia melambaikan tangan kepada rakyatnya. Ternyata orang-orang tua di sana tidak bersetuju alias protes bahwa Raja Jogja tidak boleh melambai-lambaikan tangan seperti itu. Raja tidak boleh berjalan tergopoh-gopoh. Gaya Sultan berjalan harus seirama dengan ritme musik gamelan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(Topan Redda Hasanuddin)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-8786417669870453617?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/8786417669870453617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/8786417669870453617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/iklan-politik-realitas-sosiokultural.html' title='IKLAN POLITIK &amp; REALITAS SOSIOKULTURAL &quot;sultan Koq Dadah-Dadah'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU31tBWe4RI/AAAAAAAAAHw/AYrstqZWs-M/s72-c/sultanhbx.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-3719760531933237004</id><published>2008-12-17T01:33:00.001-08:00</published><updated>2008-12-20T23:30:21.365-08:00</updated><title type='text'>INTERAKSIONISME SIMBOLIK</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3wFJueapI/AAAAAAAAAHo/Zy-Vi-nQ7n4/s1600-h/Goffman_E.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282141909276322450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 254px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3wFJueapI/AAAAAAAAAHo/Zy-Vi-nQ7n4/s320/Goffman_E.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada dasarnya teori interaksi simbolik berakar dan berfokus pada hakekat manusia yang adalah makhluk relasional. Setiap individu pasti terlibat relasi dengan sesamanya. Tidaklah mengherankan bila kemudian teori interaksi simbolik segera mengedepan bila dibandingkan dengan teori-teori sosial lainnya. Alasannya ialah diri manusia muncul dalam dan melalui interaksi dengan yang di luar dirinya. Interaksi itu sendiri membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol itu biasanya disepakati bersama dalam skala kecil pun skala besar. Simbol-misalnya bahasa, tulisan dan simbol lainnya yang dipakai-bersifat dinamis dan unik.&lt;br /&gt;Keunikan dan dinamika simbol dalam proses interaksi sosial menuntut manusia harus lebih kritis, peka, aktif dan kreatif dalam menginterpretasikan simbol-simbol yang muncul dalam interaksi sosial. Penafsiran yang tepat atas simbol tersebut turut menentukan arah perkembangan manusia dan lingkungan. Sebaliknya, penafsiran yang keliru atas simbol dapat menjadi petaka bagi hidup manusia dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Faktor-faktor Penting&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan individu dalam mengungkapkan diri-nya merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam interaksi simbolik. Hal-hal lainnya yang juga perlu diperhatikan ialah pemakaian simbol yang baik dan benar sehingga tidak menimbulkan kerancuan interpretasi. Setiap subyek mesti memperlakukan individu lainnya sebagai subyek dan bukan obyek. Segala bentuk apriori mesti dihindari dalam menginterpretasikan simbol yang ada. Ini penting supaya unsur subyektif dapat diminimalisir sejauh mungkin. Pada akhirnya interaksi melalui simbol yang baik, benar dan dipahami secara utuh akan membidani lahirnya berbagai kebaikan dalam hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TEORI TENTANG INTERAKSI SIMBOLIK, STRUKTURASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;INTERAKSIONISME SIMBOLIK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Awal perkembangan interaksionisme simbolik dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati. Peneliti perlu mencoba empati dengan pokok materi, masuk pengalaman nya, dan usaha untuk memahami nilai dari tiap orang. Blumer dan pengikut nya menghindarkan kwantitatif dan pendekatan ilmiah dan menekankan riwayat hidup, autobiografi, studi kasus, buku harian, surat, dan nondirective interviews. Blumer terutama sekali menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam studi komunikasi. Lebih lanjut, tradisi Chicago melihat orang-orang sebagai kreatif, inovatif, dalam situasi yang tak dapat diramalkan. masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.&lt;br /&gt;Tradisi yang kedua , aliran / mahzab Iowa mengambil lebih dari satu pendekatan ilmiah. Manford Kuhn dan Carl Dipan, para pemimpin nya, percaya konsep interactionist itu bisa diterapkan. Walaupun Kuhn menerima ajaran dasar interaksionalisme simbolik, ia berargumentasi bahwa metoda sasaran jadilah lebih penuh keberhasilan dibanding " yang lembut" metoda yang dipekerjakan oleh Blumer. Salah satu karya Kuhn adalah suatu teknik pengukuran yang terkenal dengan sebutan Twenty Statement Test.&lt;br /&gt;Hari ini, menurut interactionism Bagus, simbolik telah menyatukan studi bagaimana, kelompok mengkoordinir tindakan mereka, bagaimana emosi dipahami dan dikendalikan, bagaimana kenyataan dibangun, bagaimana diri diciptakan, bagaimana struktur sosial besar mendapatkan dibentuk dan bagaimana kebijakan publik dapat dipengaruhi.&lt;br /&gt;Di dalam bab ini kita berkonsentrasi pada interactionism simbolik klasik, gagasan dasar dari perkembangan, dan perluasan yang teoritis yang paling dikenali di dalam bidang komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aliran Chicago (Chicago School)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;George Herbert Mead pada umumnya dipandang sebagai pemula utama dari pergerakan, dan pekerjaan nya [yang] pasti membentuk inti dari Aliran Chicago.&lt;br /&gt;Herbert Blumer, Mead merupakan pemikir terkemuka, menemukan istilah interaksionlisme simbolik, suatu ungkapan Mead sendiri tidak pernah menggunakan. Blumer mengacu pada label ini sebagai “ suatu sedikit banyaknya pembentukan kata baru liar yang di dalam suatu jalan tanpa persiapan. Ke tiga konsep utama di dalam Teori Mead, menangkap di dalam jabatan pekerjaan terbaik yang dikenalnya, adalah masyarakat, diri, dan pikiran. Kategori ini adalah aspek yang berbeda menyangkut proses umum yang sama, sosial anda bertindak. Tindakan sosial adalah suatu sumbu konsep payung yang mana hampir semua psikologis lain dan proses sosial jatuh. Tindakan adalah suatu unit yang lengkap melakukan itu tidak bisa dianalisa ke dalam spesifik sub bagian. Suatu tindakan andangkin sederhana dan singkat, seperti ikatan suatu sepatu, atau andangkin saja merindukan dan mempersulit, seperti pemenuhan suatu rencana hidup. Tindakan berhubungan dengan satu sama lain dan dibangun ujung sepanjang umur hidup. Tindakan andalai dengan suatu dorongan hati; mereka melibatkan tugas dan persepsi maksud, latihan mental, dengan alternatif berat, dan penyempurnaan.&lt;br /&gt;Dalam format paling dasar nya , suatu tindakan sosial melibatkan tiga satuan hubungan bagian: suatu awal mengisyaratkan dari seseorang, suatu tanggapan untuk isyarat itu oleh yang lain dan suatu hasil. Hasil menjadi maksud komunikator untuk tindakan. Maksud berada di dalam hubungan yang triadic dari semuanya.&lt;br /&gt;Hubungan umur dapat meresap, memperluas dan menghubungkan sampai jaringan diperumit. Para aktor jauh diperhubungkan akhirnya di dalam jalan berbeda, tetapi kontroversi ke pemikiran populer, “ suatu jaringan atau suatu institusi tidak berfungsi secara otomatis oleh karena beberapa kebutuhan sistem atau dinamika bagian dalam: berfungsi sebab orang-orang pada poin-poin berbeda lakukan sesuatu yang, dan apa yang mereka lakukan adalah suatu hasil bagaimana mereka menggambarkan situasi di mana mereka disebut ke atas tindakan." Dengan ini gagasan untuk sosial bertindak dalam pikiran, kemudian, mari kita lihat lebih lekat di segi yang pertama dari analisa masyarakat Meadian.&lt;br /&gt;Pertimbangkan sistem hukum di Amerika Serikat sebagai suatu contoh. Hukum tak lain hanya interaksi antar hakim, dewan juri, pengacara, para saksi, juru tulis, wartawan, dan orang yang lain menggunakan bahasa untuk saling berhubungan dengan satu dengan yang lain. Hukum tidak punya maksud terlepas dari penafsiran dari tindakan dilibatkan itu semua di dalamnya. kaleng Yang sama dikatakan untuk aliran / mahzab, gereja, pemerintah, industri, dan segmen masyarakat lain. Saling mempengaruhi ini antara menjawab ke orang yang lain dan menjawab ke diri adalah suatu konsep penting di dalam teori Mead, dan menyediakan suatu yang baik transisi kepada konsep detik - diri." nya&lt;br /&gt;Diri mempunyai dua segi, masing-masing melayani suatu fungsi penting. Menjadi bagian dari yang menuruti kata hati, tak tersusun, tidak diarahkan, tak dapat diramalkan anda.&lt;br /&gt;Bagi Blumer, object terdiri dari tiga fisik tipe(barang), sosial ( orang-orang), dan abstrak ( gagasan). Orang-Orang menggambarkan object yang dengan cara yang berbeda, tergantung pada bagaimana mereka biarkan ke arah object itu. Suatu polisi boleh berarti satu hal kepada penduduk dari suatu bagian tertua suatu kota tempat tinggal minoritas dan kepada hal lain. habitat suatu wilayah hunian indah; interaksi yang berbeda di antara penduduk dua masyarakat yang berbeda ini akan menentukan maksud yang berbeda pula.&lt;br /&gt;Suatu studi yang mempesona, tentang penggunaan ganja ini oleh Howard Becker menggambarkan konsep objek sosial baik sekali. Isyarat menemukan bahwa para pemakai belajar sedikitnya tiga hal melalui interaksi dengan para pemakai lain. Yang pertama akan merokoknya dengan baik. Hampir semua Isyarat orang yang dipertemukan dengan dikatakan yang mereka mempunyai gangguan menjadi tinggi pada andalanya sampai orang yang lain menunjukkan mereka bagaimana cara melakukan itu. Ke dua, perokok harus belajar untuk menggambarkan sensasi yang diproduksi oleh racun sebagai “ hal yang tinggi." Dengan kata lain, individu belajar untuk membeda-bedakan efek ganja dan untuk menghubungankannya dengan merokok. Isyarat mengakui bahwa asosiasi ini tidak terjadi secara otomatis dan harus dipelajari_ melalui interaksi sosial dengan para pemakai lain. Sesungguhnya, beberapa pemakai berpengalaman melaporkan orang yang baru bahwa hali itu tentu saja memabukan dan tidak mengetahuinya sampai mereka diajar untuk mengidentifikasi perasaan itu. Akhirnya, para pemakai harus belajar untuk menggambarkan efek yang diinginkan dan menyenangkan. Lagi, ini tidaklah otomatis; banyak pemula tidak menemukan efek yang menyenangkan sama sekali sampai mereka lingkungan mereka menceritakan kepada mereka perlu&lt;br /&gt;mempertimbangkannya.&lt;br /&gt;Di sini, kita melihat ganja itu adalah suatu obyek sosial. Maksudnya diciptakan sedang dalam proses interaksi. Bagaimana orang-orang memikirkan obat ( pikiran)yang ditentukan oleh maksud itu, dan, pengambil-alihan kelompok masyarakat adalah juga suatu produk interaksi. Walaupun Isyarat tidak melaporkan informasi tentang self-concept yang secara rinci, adalah andadah untuk melihat bahwa bagian dari diri boleh juga digambarkan dalam kaitan dengan interaksi di dalam ganja masyarakat merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aliran Iowa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manford Kuhn dan para siswa nya, walaupun mereka memelihara dasar prinsip interactionis, tidak mengambil dua langkah-langkah baru sebelumnya melihat di teori yang konservatif. Yang pertama akan membuat konsep diri lebih nyata, yang kedua, buatan yang andangkin pertama, menjadi penggunaan dari riset kwantitatif. Di dalam yang area belakangan ini, aliran / mahzab Iowa dan Chicago memisahkan perusahaan. Blumer betul-betul mengkritik kecenderungan dalam ilmu perilaku manusia untuk menerapkan; Kuhn membangun suatu titik ke lakukan yang terbaru! Sebagai hasilnya pekerjaan Kuhn beralih lebih ke arah analisa mikroskopik dibanding mengerjakan pendekatan Chicago yang tradisional.&lt;br /&gt;Seperti Mead dan Blumer, Kuhn mendiskusikan pentingnya object di dalam dunia aktor. Obyek dapat manapun mengarah pada kenyataan orang: suatu hal, suatu andatu, suatu peristiwa, atau suatu kondisi. Satu-Satunya kebutuhan untuk sesuatu yang untuk menjadi suatu obyek adalah bahwa orang menyebut itu, menghadirkannya secara simbolik. Kenyataan untuk orang-orang menjadi keseluruhan dari object sosial mereka, yang mana selalu secara sosial digambarkan.&lt;br /&gt;Suatu konsep detik bagi Kuhn menjadi rencana kegiatan, seseorang pola total teladan perilaku ke arah obyek ditentukan. Sikap, atau statemen lisan yang menandai adanya nilai-nilai ke arah tindakan yang mana akan menjadi diarahkan, dan memandu rencana itu. Sebab sikap adalah statemen lisan, mereka juga dapat mengamati dan mengukur. Apabila seseorang akan ke perguruan tinggi melibatkan suatu rencana kegiatan, yang benar-benar rencana besar, memandu dengan satu set sikap tentang apa yang anda ingin lepas dari perguruan tinggi. anda andangkin dipandu, untuk sebagai contoh, dengan sikap positif ke arah uang, dan sukes pribadi.&lt;br /&gt;Sepertiga konsep bagi Kuhn menjadi wawancara lainnya, seseorang yang telah seara khusus berpengaruh di dalam hidup satu orang. Istilah ini penting khususnya yang bersinonim lainnya, seperti digunakan oleh Mead. Individu ini memiliki empat kualitas. Pertama, mereka adalah orang-orang untuk siapa individu secara emosional dan secara psikologis dilakukan. Ke dua, mereka adalah menyediakan orang dengan kosa kata umum, pusat konsep, dan kategori. Ketiga, mereka menyediakan individu dengan pembedaan dasar antara orang lain dan diri pribadi, mencakup yang merasa peranperbedaan. Keempat, orang lain melakukan komunikasi wawancara yang secara terus menerus menopang self-concept individu itu. wawancara Orang lain andangkin adalah di dalam saat ini atau masa lampau; mereka andangkin menyajikan atau absen. gagasan Yang penting di belakang konsep adalah bahwa individu ingin bertemu dunia melalui interaksi dengan orang yang lain tertentu yang sudah menyentuh hidup seseorang di dalam jalan penting.&lt;br /&gt;Akhirnya, kita datang ke consep Kuhn yang paling utama tentang diri. Metoda Kuhns meliputi teori di sekitar diri, dan itu ada di area Ini yang Kuhn paling secara dramatis meluas ke interactionis simbolik. Self-Conception, rencana kegiatan individu ke arah diri, terdiri dari identitas seseorang, kebencian dan minat, tujuan, ideologi, dan evaluasi diri. Seperti (itu) self-conceptions adalah sikap penjangkaran, karena mereka bertindak sebagai kerangka acuan seseorang yang paling umum untuk menghakimi object lain. Semua rencana kegiatan yang berikut bersumber terutama semata dari self-concept itu.&lt;br /&gt;Kuhn mengenalkan untuk suatu teknik mengenal sebagai Twenty Statemen Self-Attitudes ( TST) untuk mengukur berbagai aspek menyangkut diri. Jika anda akan mengambil TST yang anda akan dihadapkan dengan duapuluh ruang kosong yang didahului oleh instruksi sederhana sebagai berikut :&lt;br /&gt;Jawablah seolah-olah anda sedang memberi jawaban untuk dirimu sendiri, tidak untuk orang lain. Jawablah agar mereka dapat masuk dalam pikiranmu. Jangan cemas tentang logika atau " arti penting." Bersama-Sama wajar dengan cepat, karena waktu terbatas.&lt;br /&gt;Ada beberapa cara untuk meneliti tanggapan dari test ini, masing-masing pencabangan adalah suatu aspec yang berbeda menyangkut diri itu sendiri. Dua hal tersebut adalah variabel pemesanan dan variabel tempat. Variabel pemesanan menjadi sanak keluarga itu salience identifikasi adalah individu memiliki. Adalah tampak di dalam statemen mendaftar pada atas format itu. Sebagai contoh, jika daftar orang " Baptis" sebagian besar lebih tinggi dibanding “ menjadi ayah”, peneliti boleh menyimpulkan bahwa orang yang mengidentifikasi lebih siap dengan keanggotaan religius dibanding dengan keanggotaan keluarga. Variabel Tempat menjadi tingkat dimana pokok materi umumnya cenderung ke sama dengan consensual yang menggolongkan seperti " Amerika" dibanding/bukannya idiosyncratic, kualitas hubungan seperti " kuat"&lt;br /&gt;Di dalam membuat nilai dari test sikap diri, anda dapat menempatkan statemen di dalam salah satu dari dua kategori. Suatu statemen adalah consensual jika itu terdiri dari suatu identifikasi kelas atau kelompok terpisah, seperti siswa, perempuan, suami, Baptis, dari Chicago, pramahasiswa kedokteran siswa putri, anak paling tua, siswa rancang-bangun. Statemen lain bukanlah uraian dari yang biasanya disetujui pada kategori diatas. Contoh sub consensual tanggapan bahagia, bosan, cantik, yang baik siswa, yang terlalu berat/lebat, istri yang baik , menarik. Banyaknya statemen di dalam consensual kelompok menjadi focus penilaian individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teori strukturasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, interaksionisme simbolik memusatkan pada proses mikro, atau interaksi aktual yang terjadi antara orang per- orang melalui level kemungkinan terendah. Mereka membuat kasus yang mana proses mikro menciptakan struktur makro pada masyarakat, tetapi mereka tidak memerinci ide ini dengan baik, dan secara umum mereka juga mengakui dampakmyang berlawanan. Pengaruh struktur makro pada proses mikro. Teori strukturasi didesain sebagai penjelasan yang lebih komplit dari hubungan mikro dan makro.&lt;br /&gt;Teori strukturasi, menurut gagasan sosiologis, Anthony gidden dan pengikutnya adalah teori umum dari aksi sosial.Theori ini menyatakan bahwa manusia adalah proses mengambilkan dan meniru beragam sistem sosial. Komunikator bertindak secara strategis berdasarkan pada peraturan untuk meraih tujuan mereka dan oleh sebab itu menciptakan struktur yang kembali untuk mempengaruhi aksi selanjutnya. Struktur mirip dengan hubungan pengharapan, peran grup dan norma-norma, jaringan komunikasi dan institusi kemasyarakatan keduanya berpengaruh dan dipengaruhi oleh aksi sosial. Struktur ini menyediakan setiap individu-individu denagn peraturan yang membimbing tindakan mereka, tetapi tindakan bertujuan membuat peraturan baru dan meniru pendahulunya. Ellis menyebut interaksi dan struktur sosial sebagai “braided entities”.&lt;br /&gt;Gidden menyelesaikan debat antara kedua oarang yang menyatakan / berpegang bahwa tindakan manusia disebabkan oleh dorongan luar/eksternal dengan mereka yang menganjurkan tentang tujuan dari tindakan manusia. Gidden mengklaim kedua sisi tersebut dalam perselisihan ini adalah benar sebab kehidupan sosial adalah dua sisi mata uang. Kita melakukan sebuah tindakan secara sengaja untuk menyelesaikan tujuan-tujuan kita, pada saat yang sama, tindakan kita memiliki “ unintended consequenses” (konsekuensi yang tidak disengaja) dari penetapan struktur yang berdampak pada tindakan kita selanjutnya. Ketika kita melakukan suatu hal tertentu untuk mencapai tujuan kita, kita tidak sadar akan dampak-dampak dari tindakan dan konsekuensi strukturnya.&lt;br /&gt;Gidden yakin bahwa strukturasi selalu meliputi 3 modalitas utama atau dimensi. Di antaranya adalah (1) penterjemahan (interpretasi), apa yang harus dilakukan (moralitas), dan bagaimana mendapatkan sesuatu dengan tepat (kekuasaan). Dalam hal ini, tindakan kita memperkuat dari struktur pemahaman, moralitas, dan tindakan.&lt;br /&gt;Bayangkan sebuah kelompok yang telah dibentuk struktur dimana setiap orang di dalamnya diharapkan untuk berbicara dalam beragam topik. Seperti semua strukturasi, hal ini tidaklah direncanakan tetapi andancul sebagai konsekuensi yang tidak bermaksud dari tindakan yang bermaksud baik dari anggota pada sisa waktu. Pada skenario ini, norma interpretasi kadang muncul, yang mana sebuah grup memaknai sebagaimana layaknya seorang yang egaliter. Hal ini dianggap pantas unutk setiap orang untuk mengarahkan setiap asu dan tidak meninggalkan ketenangan pada satu subyekpun. Dan kekuatan/kekuasaan diakui untuk berbicara, sebagaimana individu menggunakan bahasa unutk saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;Pada praktek yang sesungguhnya, tingkah laku anda kadang-kadang dipengaruhi oleh struktur tinggal seperti peran “merapikan” atau menonjolkan norma yang digunakan sebagi contoh di atas. Agaknya, tindakan anda dipengaruhi oleh dan mempengaruhi beberapa elemen struktur yang berbeda pada waktu yang sama. Dua hal bisa terjadi.&lt;br /&gt;Yang pertama, satu struktur bisa menengahi, yang lain, sebaliknya, produksi dari satu struktur dilengkapi dengan memproduksi yang lain. Sebagai contoh, kelompok kadang mungkin menghasilakn jaringan komunikasi. Tetapi hal ini dilakukan dengan menetapkan peran individu. Di sini, peran struktur memerlukan penegakan struktur yang lain yang tidak dapat ditentukan mana yang pertama. Hal ini adalah permasalahan paradoks klasik. Pertentangan memicu konflik, dan melalui, dialek dan ketegangan antara elemen yang bertentangan, perubahan sistem dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Diterjemahkan dan dirangkum dari Stephen W. Littlejohn (1995). Theories of Human Communication, 5th Edition. Belmont, Wadsworth Publishing Company&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-3719760531933237004?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3719760531933237004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3719760531933237004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/interaksionisme-simbolik.html' title='INTERAKSIONISME SIMBOLIK'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU3wFJueapI/AAAAAAAAAHo/Zy-Vi-nQ7n4/s72-c/Goffman_E.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-7740618474795085953</id><published>2008-12-17T01:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T01:25:21.606-08:00</updated><title type='text'>SELAMAT JALAN PAHLAWASN KOMUNIKASI  AR. BULAENG</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUjFcj9dNhI/AAAAAAAAAHg/brhR0eTf8Fw/s1600-h/flag4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280687657571923474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 252px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUjFcj9dNhI/AAAAAAAAAHg/brhR0eTf8Fw/s320/flag4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;PAGI itu selasa 16 desember 2008 saya mendapatkan berita sedih. Sungguh sedih sampai saya tak bisa berkata apa-apa. Angin serasa berhenti berhembus, dunia seakan berhenti bergerak. Seorang dosen di Makassar telah meninggal dunia. Bapak Andi Bulaeng MS, telah berpulang ke Rahmatullah. Bulaeng adalah monumen yang paling idealis, dosen komunikasi Unhas yang paling cerdas dalam hal metodologi penelitian komunikasi. Sudah beberapa buku cerdas yang dihasilkannya, sebuah prestasi yang hingga kini tak bisa disamai dosen Komunikasi Unhas manapun, bahkan dosen-dosen muda sekalipun (yang konon katanya adalah yang terbaik dan lolos melalui seleksi ketat).Bagiku, Bulaeng tak ada duanya. Dosen yang paling disiplin dan paling mencintai pengembangan ilmu dan Jurusan Komunikasi di Unhas. Dalam benakku, beliau sering marah-marah, Namun anehnya, beberapa menit setelah marah ia bisa tertawa ngakak, tanpa beban. Beberapa hari setelah dimarahi, saya selalu sadar bahwa Pak Bulaeng melakukannya dalam konteks mendidik. Kadang-kadang, ia memang harus menjewer, tetapi tak sedikitpun tersisa dendam di hatinya. Ia memang menarik garis disiplin dan siapapun tak boleh melanggarnya, termasuk dirinya sendiri.Saat masuk Unhas, ia menjabat sebagai Ketua Jurusan Komunikasi. Ketika menjalani Ospek, ia memperkenalkan dirinya dengan cara unik. “Nama saya Andi Bulaeng. Kalau di Inggris disebut golden, kalau di Bone disebut ulaweng, dan di Makassar disebut Bulaeng.“ Kami semua mahasiswa baru tersenyum sebab bulaeng bermakna emas dalam bahasa Makassar. Ternyata, di balik wajah tegas itu, terselip sense of humor yang tinggi. Dan saat menjalani bina akrab, ia selalu hadir ditemani sejumlah dosen idealis seperti dirinya yaitu Pak Mansyur (alm), Kak Mul, dan Kak Syam.Ia sangat ketat dalam urusan nilai. Pernah sekali saya mendapat nilai C untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Saya memprotes dengan lagak sok pintar seperti mahasiswa yang sedang demonstrasi dengan semangat gegap gempita. Pak Bulaeng tetap tenang. Ia bertanya, “Siapa namamu?“ Ia lalu membuka daftar nilai dan menyuruh saya mencari namaku di situ. Terus dia berkata, “Kamu lihat sendiri, berapa kali kamu hadir, berapa tugas yang kamu kumpulkan, terus lihat juga berapa nilai ujianmu. Di situ juga ada hitungan saya secara matematis mengapa kamu dapat nilai C.“ Mendengar kalimatnya dan melihat sendiri nilaiku, saya tak bisa berkata apa-apa. Saya sadar bahwa saya sedang berhadapan dengan seorang dosen yang disiplin dan memberikan nilai dengan kalkulasi rasional, tidak asal-asalan. Ia punya perhitungan akurat dan tahu persis alasan memberikan nilai. Saya tahu bahwa dia benar dan menyadari ketololanku yang memprotes nilai. Lewat marahnya, dia telah mengajari saya.Yang bikin saya sedih adalah dalam waktu yang tidak lama, dua orang dosen terbaik di Jurusan Komunikasi Unhas meninggal dunia. Baik Pak Bulaeng dan Pak Mansyur adalah dua orang dosen yang lebih dari sekedar dosen. Mereka adalah guru-guru kehidupan yang abadi dengan caranya sendiri-sendiri. Mereka cinta ilmu dan menumbuhkan kedewasaan mahasiswanya. Saya sedih karena saya tidak terlalu yakin jika saat ini ada dosen sekaliber beliau dalam hal kecintaan pada Ilmu dan Jurusan Komunikasi. Saya tidak terlalu yakin kalau semangatnya --yang bikin saya merinding itu-- akan diwariskan kepada banyak dosen komunikasi di Unhas. Barangkali, saya hanya bisa menghitung dengan jari di satu tangan. Itupun saya tak terlalu yakin. Mengapa sih mereka yang baik-baik harus cepat berpulang?Mungkin saya agak terbawa suasana hati. Saya tahu bahwa mahasiswa Komunikasi saat ini tidak mengenal siapa Pak Bulaeng. Mahasiswa Komunikasi saat ini sangat rugi karena tidak bisa melihat keteladanan dari monumen idealis itu. Ia memang sudah lama sakit dan tidak pernah mengajar. Tetapi bukan berarti perhatiannya pada jurusan hilang sama sekali. Beberapa bulan yang lalu, saya ketemu dosen Syamsuddin Azis (Kak Syam). Saya sempat menanyakan kabar Pak Bulaeng. Kak Syam tercenung sesaat kemudian bercerita bahwa Pak Bulang masih sakit parah. Ketika Kak Syam menjenguknya, Pak Bulang tak bisa bicara banyak. Kata Kak Syam, menjelang ia pulang, saat itu Pak Bulaeng sempat memeluknya. Di tengah sesaknya dan himpitan penyakit yang menggerogoti tubuh kurusnya, Pak Bulaeng masih sempat berbisik dengan suara parau, “Syam, saya sedih kalau ingat jurusan. Tolong kau perhatikan jurusanta.“ Ada nada kebanggaan sekaligus keprihatinan ketika mengatakan jurusanta. Seperti saya katakan sebelumnya, Pak Bulaeng adalah monumen paling idealis di Komunikasi Unhas.(*) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Original text &lt;a href="http://www.timurangin.blogspot.com/"&gt;http://www.timurangin.blogspot.com/&lt;/a&gt; (Yusran Darmawan)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-7740618474795085953?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7740618474795085953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7740618474795085953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/selamat-jalan-pahlawasn-komunikasi-ar.html' title='SELAMAT JALAN PAHLAWASN KOMUNIKASI  AR. BULAENG'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUjFcj9dNhI/AAAAAAAAAHg/brhR0eTf8Fw/s72-c/flag4.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-466599417076057481</id><published>2008-12-17T00:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T00:10:25.407-08:00</updated><title type='text'>IKLAN POLITIK SEBAGAI MEDIA PENCITRAAN YANG EFEKTIF ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUizw9_0t1I/AAAAAAAAAHY/baIgx97jGSk/s1600-h/number.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280668216949258066" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 221px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUizw9_0t1I/AAAAAAAAAHY/baIgx97jGSk/s320/number.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemenangan SBY-JK pada Pemilu 2004 yang notabene didukung oleh Partai kecil, telah membawa perubahan Budaya Politik baru bagi Indonesia yakni Budaya Politik Populis. Yang mana citra adalah faktor penentu dalam memenangkan Pemilu. Untuk itu banyak politisi beranggapan bahwa Iklan poltik adalah salah satu sarana pencitraaan yang paling efektif untuk menciptakan popularitas di tengah melemahnya mesin partai dan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.&lt;br /&gt;Meskipun masih terbilang baru, di Indonesia yakni pertama kali mucul dalam Pemilu1997, Kemudian makin marak pada selanjutnya. Misalnya pada Pemilu 2004 lebih dari 4000 spot iklan politik ditayangkan melalui berbagai stasiun TV. Dan pada jelang Pemilu 2009 ini meskipun sempat diramallkan akan meningkat namun seiring dengan resesi Global yang melanda dunia, maka ada kemungkinan Iklan politik pada jelang 2009 ini tidak semarak pada Pemilu 2004.&lt;br /&gt;Terlepas dari marak atau tidak tidaknya Iklan Politik pada pemilu 2009 ini namun hal yang perlu dicatat adalah jenis Iklan Politik di Indonesia jika dibandingkan dengan Pemilu 2004 adalah makin beragamnya jenis Iklan Politik. Ada yang memposisikan diri sebagai oposan, ada pula yang mempersentasikan keberhasilan keberhasilannya selama memerintah. Hal tersebut merubah wajah Iklan politik di Indonesia yang mana pada tahun 1999 kebanyakan iklan politik berisikan tentang teknis pemilihan, Pemilu 2004 sudah mulai memaparkan visi dan misi, dan slogan-slogan khas, serta akronim-akronim nama dari setiap pasangan calon. Pada pemilu tahun 2009 ini ada trend saling serang pada lawan-lawan politik mulai terlihat dalam iklan politik, meskipun belum terlihat adanya direct attacking, atau penyerangan secara langsung kepada lawan lawan politik.&lt;br /&gt;Namun pertnyaan yang kemudian muncul adalah seberapa efektifkah Iklan politik untuk dapat meraup suara pemilih ? hal ini tentu masih debatable sebab dengan Iklan saja belum tentu dapat mempengaruhi oponi pemilih, karena penictraan tentu juga harus diiringi dengan reputasi yang baik kalau tidak maka yang muncul hanyalah Partai atau kandidat yang populer namun tidak electability. Bagaimanapun ketika kita berbicara mengenai pencitraan pencitraan maka kita akan berhadapan dengan sesuatu yang kompleks . Tidak pernah ada rumus tunggal, tentang bagaimana mencitrakan suatu tokoh atau partai dan bagiamana Tokoh atau Partai tersebut tercitrakan (garin Nugroho) Jika melihat dari efektifitasnya dan efek yang ditimbulkan, maka bisa dibilang hanya iklan gerindra yang bisa dianggap menuai hasil yang cukup siginifikan. Dan yang harus dicatat adalah Iklan gerindra bukanlah Iklan yang dikemas dengan kemasan yang bagus, ini karena yang disasar oleh Gerindra adalah kelas menengah ke bawah, kelas petani, nelayan, pedagang yang senang dengan suasana kelompencapir. Bukan suasana eksotisme seperti yang disenangi oleh kelas menengah atas, hasilnya kayak apa ? memang nanti masih harus dibuktikan lagi pada pemilu 2009.&lt;br /&gt;Pemasangan Iklan politik di media massa banyak memiliki kelemahan dan kekurangan. Selain tidak banyak mengandung unsur pendidikan politik bagi masyarakat, iklan politik kurang memperhatikan fungsi iklan dalam setiap kegiatan politik. akibatnya iklan, poster, lagu dan lain-lain terpasang di mana mana dan relatif (baru) merupakan communication without substance or image over substance bahayanya: suka cita janji besar-besar tanpa detail, membuat semua perasaan bergejolak (seolah olah rakyat sedang menantikan kehadiran messiah) sehingga ekspektasi menjadi melambung jauh begitu tinggi di tengah politik citra, apalagi dengan jarak yang terasa begitu jauh antara janji-janji nan indah dengan kenyataan kerasnya kehidupan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuan Iklan Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menrut Brian Mc Nair, Iklan politik, adalah “the purchase and the use of advertising space, paid for commercial rates, in order to transmit political messages to mass audience” (McNair,2003:94). Jika melihat dari tujuan, maka tujuan utama dari iklan politik adalah informatif-persuasif, Periklanan politik menginformasikan kepada pemilih bahwa dengan memilih kandidat atau partai tertentu maka kualitas hidup mereka bisa berubah. Selain itu Iklan politik juga dapat menciptakan persaingan antar peserta Pemilu.&lt;br /&gt;Iklan politik yang bermanfaat adalah ia dapat memberi perangsangan kepada masyarakat agar menjadi konstituen yang cerdas dan mandiri. Maka, untuk itu iklan politik seharusnya bersifat etis.&lt;br /&gt;Nah dari segi etika komunikasi inilah maka seharusnya sebuah Perhatian utama iklan politik adalah memberi pemilih suatu sudut pandang yang disampaikan oleh partai politik atau seorang kandidat. Namun yang sering terjadi selama ini adalah komersialisasi politik tanpa mengindahkan etika politik. Seperti pemanfaatan teknologi untuk memanipulasi diri demi tampilan palsu atau teknik editing (penyuntingan, berupa penambahan atau pengaturan naskah atau pengubahan dan penyusunan kembali suatu adegan untuk menciptakan impresi palsu, dramatisasi visual, penampilan, make-up, warna rambut, kilauan senyum manipulasi teknologis tersebut menghalangi kemampuan informed electorate untuk membuat pilihan rasional.&lt;br /&gt;Belum lagi slogan-slogan tentang demokrasi tentang kebangsaan. Seolah-olah itu adalah menu wajib dalam setiap pesan pada Iklan Politik. Kata-kata mantra seperti itulah yang tidak jelas maknanya bagi masyarakat, membuat tujuan daripada Iklan politik ibarat pepatah makin jauh panggang dari api. Dan pada akhirnya masyarakat sendiri yang dirugikan karena tidak adanya informasi yang jelas kepada siapa suruh akan diberikan, dan yang palling dirugikan adalah si pemasang Iklan itu sendiri sebab mengeluarkan sejumlah uang untuk tujuan yang belum jelas akan tercapai.&lt;br /&gt;Untuk itu Bahasa pesan dalam Iklan politik harus dipikirkan betul, pada segmen mana, media mana, dan juga keterangan apa yang mau disampaikan dalam pesan tersebut. Dan Iklan politik itu harus bisa berkerja pada ranah itu. Jika melihat dalam konteks indonesia, ada keunikan tersendiri di dalam iklan politiknya yang berbeda dengan negara lain yaitu permainan ”Kata” dan itu memang menjadi suatu bagian dari masyarakat dengan tradisi lisan yang kuat. Hal inilah yang jarang diperhatikan oleh para konsultan politik, yang selalu menyamakan kondisi sosio budaya masyarakat ini sama dengan kondisi sosio budaya masyarakat yang ada di amerika ataupun Eropa. Sehingga dalam membuat startegi kampanye acap kali melakukan kekeliruan dalam menerapkan strateginya. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh wakil Presiden H.M. Jusuf Kalla dalam menanggapi kemenangan Barrack Obama pada US Election Bahwa ”kita tidak bisa serta merta mencaplok strategi pemengangan Barrack Obama untuk diterapkan di Indonesia, karena kondisi masyarakat di sini sangat jauh berbeda dengan kondisi Masyarakat di Amerika Serikat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TYPOLOGI IKLAN POLITIK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga cara dalam iklan dalam berkomunikasi yaitu tiga cara menyampaikan pesan secara positif, negatif dan black campaign. Pada tahapan iklan positif biasanya para pemasang iklan menyerukan agar dia dipilih karena sejumlah program dan kepribadian yang electability. Negatif campaign adalah seruan ajakan agar masyarakat memilih kandidat atau Parpol dikarenakan pesaingnya lemah atau buruk. Untuk iklan jenis ini dapat kita lihat pada Iklan Hanura yang mengkritik pemerintah karena menaikkan Harga BBM padahal sebelumnya telah berjanji untuk tidak menaikkan harga BBM. Dan Kemudian black campaign adalah iklan politik yang bersifat fitnah, dalam artian apa-apa yang disampaikan tidak berdasarkan pada kebenaran yang nyata, atau juga pembohongan Publik yakni melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan namun demikian kebutuhan beriklan hal tersebut dilakukan, seperti Iklan salah seorang menyatakan dirinya sebagai kandidat presiden demi kebutuhan Iklan yang rela melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Mengunjungi daerah-daerah terpencil, berpelukan dengan masyarakat-masyarakat di sana.&lt;br /&gt;Iklan poltik selayaknya fokus pada suatu isu, terdapat time frame diikuti degan track record. Dan jelas posisinya apakah attacking atau contracting. Mengingat fungsu Iklan adalah sarana untuk menyampaikan subtasni. Dan Iklan harus diiringi dengan tindaklan konkrit di lapangan.&lt;br /&gt;Iklan yang baik adalah berbasiskan data yang otentik dan bisa dipertanggung jawabkan. misalnya kemiskinan meluas maka harus disertakan dengan data. Meskipun dalam penggunaan data terutama untuk konteks Indonesia, cenderung masih debabtable, tergantung versi mana yang digunakan. Misalnya kategori kemiskinan menggunakan kategori standar internasional (world Bank) yakni mereka yang dikatakan miskin adalah mereka yang berpendapatan 2 dolar ke bawah dalam sehari, sementara versi BPS mereka yang miskin adalah mereka yang berpendatapatan di bawah setengah dolar per hari, maka tentu ini akan menimbulkan perbedaaan yang sangat signifikan antara kriteria world bank dan kriteria BPS. Meskipun demikian perdebatan ini tidak menarik bagi mereka yang hidu di bawah garis kemiskinan, mereka sama sekali tidak pernah mempermasalahkan a apakah kemiskinan bertambah di indonesia atau tidak, asalkan mereka tidak bertambah miskin itu sudah bagus.&lt;br /&gt;Dalam iklan harus ada accoutability yang mana masyarakat harus benar-benar merasakan apakah aspirasinya terwakili oleh partai atau kandidat yang beriklan. Untuk mengetahui apakah iklan tersebut accountibility atau tidak ini hanya dapat ditentukan pada saat masyarakat memberikan suaranya di bilik suara nanti. Akuntabilitas bisa dibangun melalui janji-jani konkrit yang bisa dijewantahkan dalam kerja nyata. Untuk itu setiap Patpol dan kandidat haruslah berhati hati dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya sebab hal tersebut bisa menjadi bumerang apalagi janji ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.&lt;br /&gt;Bagaimana pun, jika tujuan kampanye adalah untuk membentuk pemilih yang berpengetahuan, maka kampanye harus berlandaskan kebenaran. Sebagian besar konsultan politik mungkin benar ketika mereka memandang iklan negatif sebagai format sah bagi informasi yang ditujukan kepada pemilih, suatu cara pemberian informasi kepada publik tentang posisi atau karakter dari pesaing.&lt;br /&gt;Melalui Iklan negatif para pemilih akan mendapat informasi yang baik dan solid sebagai dasar pengambilan keputusan. Iklan seperti itu juga lebih efektif, iklan negatif yang berfokus pada isu-isu akan lebih efektif daripada yang berfokus pada serangan terhadap individu [citra].&lt;br /&gt;Iklan politik melalui TV masih dianggap penting sebab melihat dari segi efektifitasnya yang dapat menjangkau sebagian besar pemilih dalam waktu singkat. Bayangkan jika setiap kandidat yang tidak beriklan dan harus melakukan pemasaran politik secara langsung ke masyarakat maka bisa berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemui satu persatu pemilih. Atau dengan memanfaatkan tim sukses maka bisa saja pesan yang disampaikan akan tereduksi karena sudah melalui banyak tahapan.. Dan dengan beriklan melalui TV pesan-pesan yang disampaikan dapat secara langsung disampaikan ke masyarakat tanpa harus takut tereduksi atau memakan waktu yang lebih banyak. Namun demikian, melalui Iklan saja tentu itu bukan jaminan akan terpilihnya seorang kandidat. Bagaimanapun menemui langsung pemilih di lapangan masih merupakan suatu hal yang penting, apalagi di tengah anomali masyarakat yang tidak begitu percaya lagi denganj partai atau politisi, maka dengan menemui mereka langsung di lapangan paling tidak bisa sedikit membangkitkan kepercayaan masyarakat terhadap kandidat ataupun parpol. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENGUKUR KEBERHASILAN PENCITRAAN DALAM IKLAN POLITIK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran dan penilaian rasional tentang iklan merupakan komponen dasar dari seorang manusia yang kemungkinan besar dapat mempengaruhi komponen berikutnya (Sumartono, 2002, p.66 dalam Ponang Lipmad wirawan). Iklan (politik) bukan hanya sekedar alat jualan, untuk memasarkan kandidat atau partai tertentu agar dapat dipilih oleh masyarakat, tetapi merupakan proses untuk membentuk persepsi. Karena itu iklan seyogyanya dapat menjaring perhatian banyak orang untuk menaruh perhatian lewat gambar, warna, maupun ukuran dan unsur-unsur lainnya, sehingga masing-masing orang mempunyai pandangan terhadap iklan tersebut. Tentunya orang yang melihat iklan tersebut dapat menginterpretasikan iklan tersebut sesuai dengan pandangan mereka. Pandangan tersebut adalah persepsi. Faktor persepsi berperan penting, dimana inti dari komunikasi adalah untuk membentuk persepsi seseorang, dengan cara mencuri perhatian.&lt;br /&gt;Untuk imengetahui apakah iklan tersebut telah dapat mempengaruhi persepsi seseorang maka dibutuhkan suatu assesment, berkaitan dengan efektifitas pencitraan dalam iklan politik, scara sederhana, untuk mengetahui sebuah iklan politik tersebut berhasil baik atau tidak, ada dua ukuran yang seringkali digunakan untuk mengukur keberhasilan iklan yakni advertising recall dan message recall. Advertising recall berbicara tentang iklannya sendiri yang diingat dengan baik oleh target audiencenya sehingga ketika proses pengambilan keputusan berada pada information search, tanpa stimuli tertentu iklan ini muncul di benak Voters dan mendorong Voters untuk memilih kandidat atau parpol tertentu dalam beriklan. Sedangkan message recall mengukur tentang ditangkap atau tidaknya pesan yang dibawa oleh iklan.&lt;br /&gt;Kedua tolak ukur di atas mengarah pada dua hal yakni ad-likability, yakni tingkat kesukaan pada iklan dan product likability, yakni tingkat kesukaan pada produknya sendiri jika dikaitkan dengan iklan politik kesukaan pada kandidat atau partai dan isu yang dibawakan. Dua likability ini akhirnya bermuara pada preferensi dan buying intention. Dengan demikian perlormance iklan tidak cukup kalau hanya mendapatkan ad-likability dan tidak bisa mendapatkan product likability.&lt;br /&gt;Untuk itu hal yang paling menentukan dalam keberhasilan Iklan politik, selain estetika yang bagus adalah isi dari pesan apa yang mau disampaikan. Secara umum pesan dalam Iklan politik haruslah bisa menjelaskan mengapa seorang kandidat atau partai Politik layak dipilih, dan mengapa pemilih harus memilih yang ini bukan yang itu. Kedengarannya memang cukup sederhana, namun pada saat implementasi di lapangan akan banyak terjadi kerumitan.&lt;br /&gt;Mengingat dalam keseharian para pemilih banyak dibombardir oleh ragam informasi, mulai dari berita di TV, Radio, koram dan media lainnya, informasi dalam kelompok sosial di mana pemilih berada, dan juga pesan dari lawan politik lainnya. ;perang informasi inilah yang perlu disikapi secara lebih arif oleh sang pembuat pesan. Untuk itu ada beberapa kriteria pesan yang efektif dalam beriklan yakni :&lt;br /&gt;pesan harus strike to the point, pemilih tidak lagi memerlukan ceramah tentang persatuan, tentang demokrasi, karena itu tidak langsung menyentuh pemilih terutama di indonesia, yang dibutuhkan oleh pemilih adalah bagaiamana ia bisa mendapatkan kebutuhan fisiknya, dalam hal ini pekerjaan, pendidikan yang baik baru kemudian hal hal lainnya. Berikut ini adalah piagram kebutuhan menurut Abraham Maslow yang dapat dijadikan oleh pembuat pesan dalam menyusun pesan politiknya agar bisa lebih menyentuh ke masyarakat :&lt;br /&gt;Untuk konteks Indonesia yang mana sebahagian besar masyarakatnya belum dapat memenuhi hajat hidupnya yang mendasar dan penuh ketidak pastian dalam hal masa depan, maka pesan yang disampaikan dalam janji-janji kampanyeseyogyanya menyentuh hal-hal yang condong pada dua hal yakni pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan dan papan, kemudian kebutuhan keamanan dalam hal ini mencakup pekerjaan, pendidikan, jaminan sosial dan sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA PENCITRAAN DALAM IKLAN POLITIK BERKERJA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;citra adalah gambaran manusia mengenai sesuatu, atau jika mengacu pada Lippman citra adalah persepsi akan sesuatu yang ada di benak seseorang dan citra tersebut tidak selamanya sesuai dengan realitas sesungguhnya. Di sinilah yang menjadi kelebihan sekaligus menjadi kekurangan daripada iklan politik dalam hall pencitraan. Melalui iklan politik kita bisa jadi melakukan editing, dengan memberi sedikit pewarnaan, yang berkulit hiitam nampak lebih bcerah, yang berwajah preman bisa menjadi semanis permen. Namun bahanya jika teknik editing ini digunakan secara berlebihan maka yang terjadi adalah deception atau pembohongan publik. Inilah yang harus betul-betul diperhatikan oleh para pekerja politik yang masih tetap setia pada sistem nilai.&lt;br /&gt;Essensi daripada iklan politik adalah penyampaian pesan dengan memanfaatkan ruang komersil yang mana penggunaannya seorang penyampai pesan harus membayar dengan sejumlah uang. Atau singkatnya Iklan politik adalah penyampaian pesan melalui media massa.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa media massa memiliki kedigdayaan yang tinggi dalam mencitrakan atau tercitrakannya seorang kandidat atau tokoh politik ? yang pertama yang harus dicatat adalah, realitas yang disampaikan oleh media adalah realitas tangan kedua, dalam artian apa yang ditampilkan oleh media sudah melewati tahapan seleksi, atau gate keeping. Sehingga kesalahan-kesalahan sekecil apapun bisa disingkirkan, berbeda halnya jika kampanye dilakukan secara langsung di lapangan, kita tidak dapat mengkoreksi kesalahan yang kita lakukan karena memang tidak ada kesempatan untuk itu. Misalnya pada suatu kejadian kampanye Politik melalui Rapat umum pada suatu PILKADA di salah satu kabupaten, di sana calon Bupati berkoar-koar mengenai janji politiknya, sampai pada janjinya untuk menciptakan lapangan kerja dengan penuh percaya diri sang calon Bupati menyampaikan pesan ”karena daerah ini adalah wilayah pegunungan dan terdapat banyak tanaman kapas, maka untuk itu, saya akan membangun pabrik ”Tektil” (yang dimaksud adalah tekstil), mendengar kesalahan ucap tersebut sang konsultan buru buru membisikkan ” Pak Kurang ”S” disela begitu sang kandidat terdiam sebentar lalu berkata ”oh iyah maaf, saya juga akan membangun pabrik Es”&lt;br /&gt;Nah dari sepenggal cerita di atas, dapatlah kita mengetahui bahwa kelebihan daripada Iklan politik adalah kesalahan-kesalahan bisa direduksi, tapi tentu hal tersebut tidak berlaku pada acara siaran langsung.&lt;br /&gt;Nah kembali ke masalah pencitraan melalui media massa, pencitraan melalui media selalu dianggap efektif dalam membentuk citra, karena sebagian besar masyarakat di indonesia tidak memiliki akses kepada informasi, dalam hal ini mengecek hal-hal yang ditayangkan melalui media massa untuk mengetahui kebenarannya. Dan yang terjadi adalah masyarakat cenderung menerima suatu informasi hanya berdasarkan apa yang diterimanya melalui media massa.&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya seseorang tercitrakan hanya berdasarkan pada realitas kedua. Televsisi menyajikan Iklan seseorang kandidat presiden yang menyatakan mewakili pedagang tradisional, dengan narasi dan gambar yang begitu meyakinkan, dan masyarakat akan percaya begitu saja. Mereka tidak pernah tahu, apakah benar selama ini kandidat tersebut pernah belanja di pasar tradisional atau tidak, atau iklan kandidat yang selalu menghargai orang-orang yang berprestasi sementara di sisi lain sang kandidat tersebut sama sekali tidak memiliki reputasi. Dan masyarakat yang sama sekali tidak memiliki media literacy akan menelan mentah mentah pesan-pesan tersebut.&lt;br /&gt;Pencitraan oleh media massa ini tentu akan membeentuk persepsi yang timpang, bias dan tidak cermat. Sehingga tercipatalah apa yang disebut sterotip, aatau gambaran singkat tentang Individu, masyarakat,. Kelompok, profesi yang tidak berubah ubah, klise dan seringkali tidak benar dan bersifat timpang. Jadi memang pada dasarnya, pencitraan seseorang bisa terbentuk melalui media massa, karena media massa sebagai realitas kedua, selalu menampilkan sesuatu secara selektif, dan menampilkan sesuatu dengan tidak sebenarnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IKLAN POLITIK BUKAN SATU-SATUNYA JALAN BAGI PENCITRAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kathleen Hall Jamieson, Dean of the Annenberg School for Communication at the University of Pennsylvania dan Director of the Annenberg Public Policy Center (Crawford 2004:2) berpendapat bahwa iklan politik sekarang merupakan ‘the major means by which candidates for the presidency communicate their messages to voters’. Maka tak heran apabila kemudian Indonesia yang sedang Para kandidat atau partai politik mengalokasikan 70 % anggaran kampanyenyaa untuk paid media coverage. Dengan begitu diharapkan popularitas bisa mencuat secara instant, dan pilihan rakyat akan tertuju padanya. Namun yang menjadi masalah adalah bentuk Iklan politik di Indonesia lebih banyak berupa parade wajah, dan Hantu. Liat saja bagaimana Megawati soekarno Putri dalam setiap Iklan Politiknya selalu menampilkan mendiang mantan presiden Soekarno, sebagai latar. Hal ini mungkin bisa saja menjadi daya tarik tersendiri namun sebenarnya itu adalah salah satu bentuk dari politik. Dan lebih yang disayangkan adalah rata-rata para kandidat yang beriklan tidak menyampaikan sesuatu yang konkrit, melainkan janji –janji kosong atau slogan slogan tanpa makna. Inilah yang disebut sebagai communication without substance.&lt;br /&gt;Beriklan besar-besaran memang terbukti dapat mendongkrak popularitas secara instant. Namun, bermodalkan popularitas saja tidak mejamin electability. Pemilih di Indonesia sudah jenuh dengan janji – janji dan slogan slogan kosong. Bagi pemilih, hal yang lebih penting adalah kerja nyata, bukan nampang, citra, apalagi sekadar nama tenar. Iklan politik, seperti apapun kemasannya, hanyalah salah satu upaya memperkenalkan diri kepada publik.&lt;br /&gt;Kebanyakan Para kandidat atau partai yang beriklan menganggap Iklan Politik seperti ramuan Mujarab penjual obat satu obat untuk banyak penyakit, seolah olah dengan beriklan segala penyakit yang berhubungan dengan citra dan popularitas, padahal hal yang mendasar dalam pencitraan politik bahwa pencitraan tidak hanya dapat dilakukan melalui Iklan, namun ada bentuk lain yang bernama political Public relation.&lt;br /&gt;Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa Iklan politik memiliki banyak kelemahan, sebagai sebuah bentuk daripada komunikasi politik. Karena pesan yang diterima lebih berbentuk semcam propganada penuh bias dan terbatas karena durasi yang singkat daripada iklan tersebut. Iklan politik tidak pernah mau melihat apakah auidence setuju atau tidak setuju dengan pesan yang disampaikan, bagi pemilih yang terrdidik mereka sadar bahwa pesan-pesan yang disampaikan adalah komunikasi lipstik atau komunikasi poleesan. Dengan alasan tersebut, maka bisa dikatakan Iklan politik adalah bentuk komunikasi persuasi yang terbatas. Bahkan kadang Iklan tidak begitu diperhatikan karena sudah dianggap sebagai spam. Dan di sinilah keunggulan daripada political public relation, selain free acsess media, pesan yang disampaikan lebih dapat dipercaya, dan mendapat perhatian publik. Dan durasinya relatif lebih lama daripada Iklan politik itu sendiri.&lt;br /&gt;Selain itu Political public relation sangat berkaitan erat dengan penonjolan yang dilakukan media massa. Karena salah satu fungsi daripada fungsi media massa adalah memberikan status. Karena sering mendapat media coverage, berupa pemberitaan, atau jadi pembicara pada acara diskusi di TV, maka hal tersebut efek pada naiknya status daripada tokoh atau partai tersebut.&lt;br /&gt;Dalam dunia jurnalisti ada isstilah “name make news”, tapi jika berkaaitan dengan masalah pencitraan maka ada isstilah yang dikenal sebagai “news make name” tokoh yang sering diberitakan oleh media massa akan lebih kredibel di tengah masyarakat di banding mereka yang sering beriklan. Sebagaimana pameo yang diungkap oleh lazarsfeld dan Merton ” Jika anda orang penting, maka anda akan sering diperhatikan media massa; dan jika anda sering diperhatikan media massa maka anda orang yang penting (Jalaluddin Rakhmat Hal. 225).&lt;br /&gt;Meskipun demikian mencitrakan tokoh atau partai melalui Political Public Relation bukanlah sesuatu hal yang mudah. Dibutuhkan kerja kerja nyata dan prestasin tertentu untuk mendapat perhatiaan dari media massa. Selain itu, pesan pesan yang disampaikan tidak sepenuhnya dapat dikontrol. Pada akhirnya Prestasi menentukan Prestise.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Chaffee, Steven H., Michael J. Petrick, Using the Mass Media, Communication Problems in American Society, New York: McGraw-Hill, Inc., 1975&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crawford, Darlisa, Television Primary Information Source for Most 2004 Voters,&lt;br /&gt;http://usinfo.state.gov/dhr/Archive/2004/May/21-752499.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DiClerico, Robert E., Allan S. Hammock (ed), Points of View, Readings in American Government and Politics, Fifth Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.,1992&lt;br /&gt;Graber A Dorris , Media Power in Politics, Congressional Quarterly Inc USA 1990&lt;br /&gt;Hall, Jane, Gore Media Coverage – Playing Hardball, http://archives.cjr.org/&lt;br /&gt;00/3/hall.asp, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janda, Kennet, Jeffrey M. Berry, Jerry Goldman, The Challenge of Democracy, Government in America, Boston: Houghton Mifflin Company, 1987&lt;br /&gt;Jr Denthon Robert E, Political Communication Ethics An Oxymoron ? acknowledgment 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaid, Lynda Lee, Political Processes and Television, http://www.museum.tv/Archives/&lt;br /&gt;etv/P/htmlP/politicalpro/politicalpro.htm&lt;br /&gt;Kaid, Lynda Lee dan Bacha Christina Holtz, Political Advertising, Sage Publications inc 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik dedy jamaluddin dan iriantara Yosal Komunikasi Persuasif Rosda Karya bandung 1993&lt;br /&gt;McNair, brian , An Introduction To Political Communication London and New York Routledge 2003&lt;br /&gt;Messaris, Paul, Visual Persuasion The Role of Image in Advertising, Sage Publications Inc 1997&lt;br /&gt;Rakhmat Jalaluddin, Psikolgi Komunikasi Rosda Karya Bandung 1981&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Setiyono, Budi, Iklan dan Politik menjadring suara dalam Pemilu Ad Goal Com, Jakarta, Galang Press, Yogyakarta, Buku Kita Jakarta 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lilleker G Darren dan Marshment Lees Jennifer, Political Marketing A comparative perspective, manchester University Press 2005&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wirawan ponang limpard, Artikel Iklan Politik di Indonesia, Antara Popularitas dan Kredibilitas &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- Citra dan Iklan yang efektif&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-466599417076057481?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/466599417076057481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/466599417076057481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/iklan-politik-sebagai-media-pencitraan.html' title='IKLAN POLITIK SEBAGAI MEDIA PENCITRAAN YANG EFEKTIF ?'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUizw9_0t1I/AAAAAAAAAHY/baIgx97jGSk/s72-c/number.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-9051360305187723648</id><published>2008-12-14T06:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T00:01:42.245-08:00</updated><title type='text'>LEPAS DARI BAYANG-BAYANG SBY "Dilema JK, Dilema Golkar (menyoal Positioning Golkar pada Pilpres 2009)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUixZX_n3mI/AAAAAAAAAHQ/jbwM3mxZblM/s1600-h/golkar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280665612587621986" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 350px; CURSOR: hand; HEIGHT: 233px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUixZX_n3mI/AAAAAAAAAHQ/jbwM3mxZblM/s400/golkar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;RAPAT PIMPINAN NASIONAL Yang Dilaksanakan 17- 19 oktober adalah momen politik yang “senyap” bagi Golkar sebagai sebuah partai politik. Manuver ekseternal tak juga kuat mempengaruhi partai yang pernah berkuasa selama 32 tahun. Rapat pimpinan Nasional ( rapimnas ) yang diharapkan mampu memutuskan keputusan politik yang dinantikan, teryata tak kunjung melahirkan konsideran kongkrit dari radikalisasi senjumlah pengurus daerah yangmendesak Golkar mesti berani kepentas pertarungan capres dan cawapres. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Golkar lebih memilih menyelesaikan dinamika politiknya dengan senyap sambil melihat keadaan, membaca peluang dan belajar memaknai sebuah keputusan politik secara lebih baik.Trauma masa lalu masih terekam dibenak elit Golkar dalam melihat perjalanan politik yang sedang berlangsung hingga 2009. Golkar belajar dari masa lalu yang pahit, kejatuhan soeharto yang ambruk juga melahirkan desakan pembubaran Golkar, rekonsiliasi yang gagal pasca akbar tanjung, tumbangnya capres/ cawapres pilihan Golkar 2004 adalah pelajaran berharga yang penting. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Elit Golkar juga harus belajar membaca keadaan dengan baik sambil mengkalkulasi kekuatan. Untungnya Golkar memiliki seorang JK yang pernah menjadi pesaing Golkar pemilu 2004. Sang ketua umum tak mau terpengaruh dengan manuver politik PDIP, Jk pernah melihat Golkar dari Jendela luar pada pemilu 2004 dan tampil menjadi pemenang bukan dari mesin politik internal. Sebuah pandangan yang membuat JK mampu melihat dinamika politik secara sehat dan Objektif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain itu, perjalanan panjang bersama Susilo bambang Yudhoyono ( SBY) telah menelan banyak konsekuensi Logis bagi diri ketua umum dan Golkar, "Berbagai kebijakan delimatis selalu menghadirkan JK sebagai tokoh antagonis dan bukan SBY yang terus bersolek dengan citra", hal ini dapat dilihat masalah lumpur lapindo yang menjadi isu nasional wapreslah yang mesti menghadapi gempuran media dan publik, atau tegoklah kebijakan dramatis menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Jk dan golkar kembali mesti pasang badan mengamankan sang presiden yang beberapa hari sebelumnya menyatakan tidak akan menaikan harga BBM.&lt;br /&gt;Kesibukan JK menjadi tameng dari kekuasaan SBY teryata berefek pada struktur kekuasaan politik Golkar yang berada didaerah. Sejumlah lumbung suara partai Golkar berhasil dicuri oleh lawan-lawan politiknya, Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu lumbung golkar dengan menghadirkan ipar sang wapres Mansyur Ramli sebagai kandidat wakil gubernur mesti bertekuk lutut pada Syahrul Yassin Limpo yang Nota Bene kader Golkar namun diusung oleh PDIP.Pilkada Jawa barat merupakan pilpahit yang mesti ditelan Golkar setelah PKS memenangkan pertarungan, sumatra utara, sulawesi tengah dan banyak lagi para kandidat Golkar dipaksa bertekuk lutut oleh kandidat partai lainya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;empat tahun menjadi bumper dari ragam kebijakan tidak populis sang presiden membuat JK mesti mengkalkulasi jika mesti tetap berpasangan dengan bung jenderal.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; Dari dinamika politik yang berkembang Golkar membutuhkan langkah taktis yang lebih kongkrit dan relatif aman dalam keputusan politiknya. Desakan sejumlah daerah pada rapimnas bulan oktober adalah sebuah sinyalemen pada garis bawah semangat memerdekakan partai dari ketidak mampuan bersikap SBY yang didukung dengan infrastruktur partai yang lemah seperti demokrat mesti diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak ada jalan lain, golkar mesti menjalankan penguatan internal partai dengan membangun radikalisasi internal sembari menyiapkan mesin politik partai dengan baik. Langkah Dari, oleh dan untuk Golkar. Sikap ini, tentunya akan melahirkan sentimen ekternal dari berbagai partai politik yang ada. Rekonsiliasi kekuatan politik yang bersatu melawan Golkar, akan terbentuk. Tapi bukankah Golkar adalah partai yang memiliki jejaring politik yang cukup kuat secara nasional disetiap daerah?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kekalahan beberapa kepala daerah dari Golkar bukan hal yang terlalu berpengaruh bagi golkar sebagai sebuah kekuatan politik. Secara ideologis mereka yang mengalahkan Golkar pada pilkada nota bene juga adalah kader yang dibesarkan oleh Golkar. Kekalahan Golkar di Pilkada Sulsel misalnya lebih disebabkan pecahnya mesin politik yang dimiliki Golkar dan pilihan politik yang tidak dilatar belakangi kesadaran akan dinamika kemasyarakatan dan model pendekatan konstituen.Sebagai catatan dibanyak kabupaten/ kota Golkar tetap mendominasi kemenangan Pemilihan Kepala daerah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sikap tidak mengumumkan CAPRES sebelum PEMILU Legislatif adalah jalan tengah terbaik bagi Golkar dalam mengamankan dinasti politiknya. Keragu-raguan JK dalam menyatakan diri akan maju sebagai calon presiden lebih disebabkan dua hal penting yakni menyadari posisi politik Golkar yang ada, dan kedua hambatan politik kultural JK yang non jawa.&lt;br /&gt;Kedua hambatan persoalan politik yang medera JK sebagai representasi dari Golkar dapat disingkap dengan melakukan manuver internal. Memulai langkah rekonsiliasi dari tokoh Golkar dengan mengajak kader-kader terbaik Golkar untuk bersatu membangun kekuatan dan memacu radikalisasi pada tingkatan dewan pimpinan daerah untuk meraub suara besar dalam pemilu legislatif dan memenangkan kader interal Golkar yang diajukan sebagai capres dan cawapres.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika mesin politik internal Golkar Solid ditambah keputusan politik dengan memajukan kader-kader terbaik Golkar yang populis secara kultural maupun ideologis, golkar dapat dipastikan masih menjadi penentu penting dari dinamika politik Indonesia 2009.&lt;br /&gt;adalah sikap maju yang membutuhkan keberanian dan sikap politik yang hati-hati. Beragam tawaran untuk kebijakan politik internal bagi capres dan cawapres yang diwacanakan bermunculan, baik melalui mekanisme konvensi internal, survei dan beragam saluran lain dalam merekam aspirasi yang berkembang mesti dipahami hanyalah sebagai sebuah alat dan bukanlah final strategy.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Golkar membutuhkan tingkat soliditas yang tinggi, radikalisasi kader-kader Golkar didaerah adalah cercah harapan untuk menjawab sikap hati-hati elit Golkar. Memajukan kader Internal Golkar yang memiliki tingkat dukungan konstituen kultural maupun ideologis yang besar mesti direkam sebagai sebuah keuntungan tersendiri bagi partai lambang beringin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;saat ini muncul dilema di dalam tubuh partai soal posisi dan kedudukan JK, baik sebagai ketua umum maupun sebagai wapres. Untuk mengakhiri dilema yang berpengaruh pada konsolidasi partai, memang harus ada ketegasan sikap dari JK sendiri. bila JK tetap ingin menduduki jabatan Wapres, dia harus merelakan partai Golkar untuk segera menentukan capres, apakah melalui konvensi atau cara lain. Dengan demikian, pemerintahan tak terganggu dan konsolidasi serta pencarian kader terbaik untuk capres Golkar pun tetap berjalan. “Tapi bila JK sebagai Ketua Umum Golkar mau mencalonkan diri sebagai capres, dia harus menyatakan diri mundur dari jabatan Wapres. Ini konsekuensi dari pilihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOALISI ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan yang selalu muncul, seandainya Partai Golkar keluar sebagai partai terbesar Pemilu legislalif, akankah Partai Golkar akan keluar dengan calon Presidennya? Gelagat atau wacana yang selama ini berkembang di tengah masyarakat, Golkar akan mencalonkan SBY dengan JK sebagai Wakil Presiden. Tidak salah, bahkan mungkin sebuah sikap kenegarawanan, oleh karena itulah yang dianggap terbaik bagi bangsa. Sebagai partai terbesar, Partai Golkar dengan demikian telah menunjukkan kenegarawanannya, mengalah pada partai yang lebih kecil, sepanjang bagi kepentingan nasional. Namun yang menjadi masalah kemudian adalah apakah seluruh jajaran Partai Golkar dapat menerima kenyataan seperti itu?.&lt;br /&gt;sehingga resiko akan kaburnya konstituen Partai Golkar yang tidak puas dengan psoisi nomor dua, Bisa saja mereka membelot memilih yang lain. Maka Partai Golkar akan menghadapi masalah yang tidak mudah. Apalagi, kalau pembelotan itu ke arah Partai Demokrat, partainya SBY. Sebab, secara ideologis tidak ada bedanya. Partai Demokrat, bisa saja muncul sebagai partai (ter)-besar baru, sehingga tidak perlu mengandalkan dukungan Partai Golkar.&lt;br /&gt;Dilema yang dihadapi Partai Golkar itu, sudah tentu akan membuka peluang lain. Apalagi, kalau perubahan cukup signifikan. Sebab, untuk mencalonkan Presiden/Wakil Presiden ada ketentuan yang tampaknya harus ada koalisi. Koalisi seperti apa yang akan terjadi? Tiga partai, tampaknya akan berperan besar, yaitu Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat. PDIP, tampaknya tertutup koalisi dengan Partai Demokrat. Alternatif yang ada, Partai Demokrat dengan Partai Golkar atau PDIP dengan partai-partai lainnya. Hal ini terlepas, bahwa dinamika internal Partai Golkar bisa saja membentuk koalisi dengan PDIP. Toh, pada akhirnya, hasil Pemilu legislatif nanti memang akan sangat menentukan koalisi yang akan terbentuk. Sebab, secara ideologis, koalisi bisa terjadi antara partai mana saja, sepanjang menjamin kepentingan politik peserta partai anggota koalisi. Apalagi, kalau ada kejutan hasil Pemilu legislatif.&lt;br /&gt;Misalnya, kalau PKS benar akan muncul sebagai partai besar. Atau, Partai Hanura memperoleh suara yang cukup bermakna. Demikian juga Gerindra,. Sesungguhnya, tidak hanya Partai Golkar yang sedang menghadapi masalah yang dilematis. Partai-partai lainnyapun, menghadapi masalah yang sama, yaitu ketidakpastian. Keberanian mencalonkan diri atau tidak mencalonkan diri, bisa menjadi sebagian strategi untuk memenangkan Pemilu legislatif, sebelum melangkah ke pemilihan Presiden. Namun, keberhati-hatian seperti ini, mungkin hanya Partai Golkar yang ada risiko besar. Tetap sebagai partai yang terbesar atau puas sebagai nomor dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;POSITIONING PARTAI GOLKAR MENUJU RI 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Golkar sudah mengambil ancang-ancang untuk menempatkan kader terbaiknya sebagai Presiden 2009-2014. Ekspektasi yang coba digerakkan secara linear dengan alasan Golkar mayoritas di parlemen. Belajar dari negara-negara demokrasi lainnya, seperti Amerika Serikat, kedudukan mayoritas di parlemen tidak dengan sendirinya harus nomor satu di eksekutif. Apalagi konsolidasi demokrasi tidak hanya bisa diartikan bahwa seluruh elemen yang ingin bertarung merebut kekuasaan harus ikut dalam sistem politik yang disepakati, melainkan juga memberikan ritme dan ruang bagi siapapun yang dipilih untuk menjalankan kekuasaannya.&lt;br /&gt;keinginan sejumlah pihak untuk menyalonkan JK sebagai presiden 2009-2014 layak diapresiasi. Atau siapapun dari Golkar. Ada langkah yang lebih lebar sebetulnya, ketimbang berbicara apakah Golkar akan mendukung pemerintahan hari ini atau tidak. Pilihan strategis Golkar memang harus memajukan calon presiden tahun 2009. Tujuannya untuk mempertahankan soliditas internal dan eksternal, serta menyiapkan kader pimpinan yang benar-benar teruji untuk periode berikutnya, 2014-2019.&lt;br /&gt;Tentu, persoalannya bukan terletak pada kalah dan menang, berkorban atau dikorbankan, tetapi lebih terletak kepada penyediaan lapisan kepemimpinan berikutnya yang sudah teruji dalam kompetisi riil. Kecuali konstitusi diubah, maka Yudhoyono harus mengakhiri kekuasaannya pada tahun 2014, seandainya terpilih lagi tahun 2009. Dan itu artinya ada presiden baru selain Yudhoyono. Letak strategis keputusan Golkar hari ini atau tahun 2009 nanti ada pada tujuan itu. Akankah JK orangnya, atau ada orang lain? Disinilah letak soalnya. Dan itu lagi-lagi terhubung dengan mitos tentang Satrio Piningit yang berkembang di kalangan masyarakat akar rumput di tanah Jawa dan Jawa perantauan. Kepemimpinan Golkar hari ini boleh dikatakan tidak memiliki jenis kepemimpinan yang dibutuhkan akar rumput pemilih mayoritas itu. Kalla, Surya Paloh, dan Aburizal Bakrie, misalnya, terlalu identik dengan pengusaha dan non-Jawa&lt;br /&gt;Golkar tentu sedang menunggu sosok-sosok lain, terutama yang lebih muda, namun kaya pengalaman. Nampaknya, harapan itu bisa saja ditujukan kepada kepala daerah yang dicalonkan oleh Golkar dan terpilih, namun belum layak dipetik sebagai buah perjuangan untuk dimajukan pada 2009 nanti. Kalaupun terdapat nama-nama diluar Golkar, ketokohannya belumlah menyamai Yudhoyono dan Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KANS JK menuju RI 1 pada 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meski berbagai hasil survey masih menempatkan posisi JK jauh dibawah capres lainnya seperti SBY, Megawati dan Sultan Hamengkubwono X, tapi bukan berarti langkah Ketua Umum untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini akan berat. Jika dilihat dari beberapa aspek maka JK punya keunggulan tersendiri. Yakni merupakan ketua umum sebuah partai yang memiliki basis massa kuat melalui Partai Golkar, dan cukup kuat dari segi pendanaan. Selain itu kebiasaan JK bertandang ke rumah sejumlah mantan Presiden Indonesia dan bersilaturahmi dengan sejumlah kader Partai Golkar di berbagai daerah dan juga melakukan safari lebaran yang merupakan nilai tambah tersendiri bagi JK. Keunggulan lain dari JK dari segi popularitas adalah ia merupakan wakil presiden favorit dengan mengantongi dukungandia atas 20 %. Posisi strategis dan kesibukannya mondar-mandir ke beberapa daerah untuk urusan negara, partai, dan bisnisnya menjadi keungguannya juga. Jasa JK untuk melakukan kaderisasi dalam tubuh Partai Golkar agar politisi dari Partai Golkar memiliki kapabilitas politik, ekonomi, dan teknik, serta kepekaan sosial yang tinggi. Para kader Partai Golkar juga diharapkan memiliki citra yang baik di berbagai daerah, baik yang berkiprah di eksekutif maupun legislatif pusat dan daerah sehingga mau tidak mau ini juga akan turut menarik suara Partai dan secara langsung maupun tidak langsung akan berimbas pada kans nya menuju RI 1.&lt;br /&gt;Kelebihan JK lainnya adalah; Pertama, menjadi patron bagi para menteri kelompok ekonomi dan kesejahteraan sosial, dan mampu mengarahkan (streering) para anggota kabinet di kala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak berada di tempat., memberi pendidikan politik dan ekonomi kepada para kader Golkar dan menjadi juru kampanye Partai Golkar di beberapa daerah yang sedang melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung. Dan ia memiliki perhatian terhadap masa depan kelompok perusahaannya dan keluarganya.&lt;br /&gt;maka untuk itu dalam rangka memuluskan langkahnya menuju RI 1 tentu Jk harus melakukan sejumlah langkah-langkah taktis, seperti pencitraan dirinya yang hanya dianggap layak menjadi Cawapres bukan sebagai Capres. Untuk itu Jk dan Golkar harus pandai menggandeng sejumlah tokoh untuk menaikkan popularitas sang ketua umum, seperti mamanfaatkan Kemunculan Sri Sultan Hamungkubono dalam pentas politik yang mencalonkan diri sebagai capres mesti diakomodasi oleh dewan pimpinan Golkar. Sri Sultan yang populer secara kultural maupun ideologis mesti dilihat sebagai tawaran bagi kepemimpinan kolektif baru secara kebangsaan. Dikotomi antara tokoh lokal dan nasional mesti segera ditepis oleh Golkar, perjalanan perpolitikan kebangsaan dengan pemilihan langsung dan kebebasan pers telah mendorong keyakinan bahwa tokoh lokal yang populis dengan kemampuan public relation yang baik dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat sebagai alternatif pilihan ditengah kejenuhan pertarungan antar elit partai politik. Duet kultural, perpaduan pemimpin nasional dan daerah, saudagar dan raja adalah sebuah jargon politik alternatif yang penting bagi trand politik indonesia 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HAMBATAN JK MENUJU RI 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Layakkah JK jadi presiden? Persoalannya lagi-lagi bukan kepada jabatan yang diemban, tetapi pelaksanaan tanggungjawab yang dibebankan kepada jabatan itu. Dari sisi dukungan politik, barangkali JK sulit mendapatkan suara yang cukup. Dengan sistem satu orang, satu suara dan satu nilai, maka jumlah menjadi ukuran, ketimbang kualitas.&lt;br /&gt;Tak salah kalau JK sering mengatakan bukan sebagai orang Jawa atau orang yang di-Jawakan. Tokoh-tokoh berpengaruh di sekitarnya juga bukan orang Jawa. Ia teramat Bugis. Alam Makasar dan mitologi Makasar jelas berbeda dengan alam Indonesia secara keseluruhan. Istrinya juga orang Minang yang secara kultural juga lebih dekat ke Bugis, ketimbang ke Jawa. Sistem kekerabatan, jiwa dagang dan semangat merantau lebih dominan, ketimbang hirarki kekuasaan.&lt;br /&gt;Begitu juga partai yang mendukungnya, Partai Golkar. Sebagai partai moderen yang lintas suku, lintas agama, lintas ideologi, dan lintas pengetahuan, Golkar tidak bisa menggantungkan diri kepada komunitas tertentu, karena Golkar memerlukan semua komunitas. Ketakutan Golkar selama ini adalah berada di luar atau di seberang kekuasaan. Padahal, kalau dilihat dari komposisi orang-orangnya, perjalanannya, dan sejumlah mekanisme pengambilan keputusan yang dilakukan, Golkar sebagai partai dan orang-orang Golkar sebagai individu, jauh lebih memiliki independensi, ketimbang partai lain.&lt;br /&gt;Dari soal ketiadaan sosok-sosok berpengaruh itulah, Golkar berada di persimpangan jalan. JK bisa jadi akan maju, tetapi tidak untuk terpilih, melainkan hanya sebagai pesan kuat, betapa pada 2014, Golkar sudah siap maju sendirian dan menang. Golkar hanya ingin menjaga, agar pengaruh Yudhoyono tidak sampai menjalan kedalam akar umbi Golkar, apalah lagi batang, dahan dan cabang-cabangnya. Posisi seperti ini telah menyebabkan Golkar terus menjadi bayang-bayang kekuasaan Yudhoyono, seperti rimbunnya pohon beringin yang menaungi kepentingannya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-9051360305187723648?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/9051360305187723648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/9051360305187723648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/lepas-dari-bayang-bayang-sby-dilema-jk.html' title='LEPAS DARI BAYANG-BAYANG SBY &quot;Dilema JK, Dilema Golkar (menyoal Positioning Golkar pada Pilpres 2009)'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUixZX_n3mI/AAAAAAAAAHQ/jbwM3mxZblM/s72-c/golkar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-3124126144252664131</id><published>2008-12-14T06:10:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T23:58:19.718-08:00</updated><title type='text'>PENGUSAHA DAN PENGUASA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUixEdkCxKI/AAAAAAAAAHI/0a6V6xJrT4U/s1600-h/Kalla.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280665253305304226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 298px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUixEdkCxKI/AAAAAAAAAHI/0a6V6xJrT4U/s400/Kalla.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Indonesia saat ini baru memiliki sekitar 400.000 wiraswasta atau 0,18 persen dari penduduk Indonesia. Padahal, hasil dari suatu penelitian, jumlah wirausaha di suatu negara minimal dua persen untuk dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, upaya menambah jumlah wirausaha harus jadi perhatian serius.&lt;br /&gt;Peningkatan jumlah wirausaha tersebut dapat dimulai dengan memperkuat penanaman dan pelatihan semangat kewirausahaan di lembaga pendidikan ataupun masyarakat (Kompas 2 September 2008).&lt;br /&gt;Para pengusahalah yang terus mau bekerja di tengah kondisi apapun, termasuk dalam kondisi listrik byarpet. Maklum kita tinggal di Dark Republic. Mereka bekerja mungkin tanpa diketahui publik, jarang yang mengikalankan dirinya di televisi atau koran.&lt;br /&gt;Memang ada satu fenomena yang mungkin patut disayangkan. Entah karena terprovokasi politikus atau pengurus parpol, ada sebagian kecil kalangan pengusaha tergoda juga berinvestasi dalam “industri” parpol. Ini tentu tak beda dengan kalangan konglomerat mulai dari era Pak Harto dulu yang oportunis. Motif utama sebenarnya adalah demi keberlangsungan bisnisnya. Padahal kalau meleset perhitungannya, bisnis mereka juga bisa hancur gara-gara politik.&lt;br /&gt;Tidak heran Presiden Jusuf Kalla pada penutupan Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Munas Hipmi) ke-13 di Bali pada Juli lalu mengingatkan: ”Pengusaha tidak perlu berambisi terjun ke dunia politik. Kalau dalam kondisi seperti ini pengusaha ingin jadi politikus, kita akan kekurangan pengusaha yang baik.”&lt;br /&gt;“syahwat politik” sebagian besar bangsa ini kelewat besar. Maklum negeri ini kan sudah surplus parpol dan politikus. Apapun yang surplus alias berlebihan jelas tidak proporsional. Kondisi ini bisa membuat bangsa ini melupakan jiwa enterpreneurship atau kewirausahaan.Meski demikian sikap apolitik, lalu menyerahkan segala urusan bangsa ini pada para politikus juga sikap yang kurang bijak. Negeri ini masih butuh politikus, tapi politisi yang bisa bekerja sama dengan kalangan lain seperti pengusaha, seniman, budayawan, akademisi, wartawan dan profesi lainnya guna mewujudkan kesejahteraan bersama (bonum commune), yakni kejayaan NKRI. Bukan malah memperkaya diri sendiri dengan mengorup uang negara sehingga yang terjadi justu malum commune atau keburukan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-3124126144252664131?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3124126144252664131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3124126144252664131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/pengusaha-dan-penguasa.html' title='PENGUSAHA DAN PENGUASA'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUixEdkCxKI/AAAAAAAAAHI/0a6V6xJrT4U/s72-c/Kalla.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-3612811688418247712</id><published>2008-12-14T06:07:00.001-08:00</published><updated>2008-12-21T00:00:20.169-08:00</updated><title type='text'>The Struggle Over Acces antara Media dan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU33Djzy6hI/AAAAAAAAAH4/FeI-H_dW-a8/s1600-h/Carbonfilament.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282149578499615250" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 276px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU33Djzy6hI/AAAAAAAAAH4/FeI-H_dW-a8/s320/Carbonfilament.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam masyarakat demokratis, yang memberikan kebebasan bagi media mereka, dimana adanya pengharapan yang jelas, terkadang kembali mengalami tekanan yang amat sangat, dimana media akan membuat hubungan bagi komunikasi luas masyarakat, khususnya sebagai ”turunan” dari penguasa atau para kaum elit kepada masyarakat bawah. Akses publik mungkin dapat diraih dengan ketentuan yang legal, dengan kemampuan membeli/kepemilikan dalam pasar bebas, dengan media yang melayani sebagai saluran komunikasi publik yang terbuka. Ini adalah hal yang baik bagaimana “akses bagi masyarakat” dapat diraih, sejak kebebasan pers pada umumnya dijalankan termasuk hak untuk tidak menyiarkan dan akses untuk menahan berita. Pada prakteknya, nilai pada berita dan ketergantungan media pada sumber yang berpengaruh secara umum meyakinkan bahwa akses tersebut tersedia bagi tingkat sosial masyarakat teratas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Continuum pada Otonomi Media&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Situasi dapat dikatakan sebagai keadaan Continuum yaitu keadaan : secara ekstrim, media secara total “terpenetrasikan”, atau menerima kepentingan luar, secara nyata atau tidak, pada akhirnya, media secara total dengan bebas meniadakan atau menerima seperti yang mereka inginkan. Teori pluralistik mensyaratkan bahwa keragaman organisasi dan kemungkinan untuk mengakses dapat menjamin keterlibatan yang cukup bagi suara masyarakat dan pandangan kritis/alternatif.&lt;br /&gt;“Akses bagi masyarakat” bermakna luas, lebih daripada memberikan sarana opini, informasi, dan sejenisnya. Ini juga berhubungan dengan sikap ketika peran media menggambarkan kenyataan dalam masyarakat. Pada akhirnya, pertanyaan akan akses kesosialan melibatkan sekumpulan konvensi yang amat rumit selama syarat tersebut mengacu pada kebebasan-kebebasan media dan klaim sosial dapat digunakan dan diperbaiki. Kebanyakan tergantung pada karakter standar akan bentuk dan gaya dan pada tingkah dimana mereka berniat untuk berperan dan dipahami oleh penonton/audien.&lt;br /&gt;Pertanyaan ini diterangkan melalui kasus produksi televisi di Inggris oleh Elliot (1927), idenya dapat diaplikasikan kepada pers dan juga pada system media nasional lainnya. Tipologinya (Figur 12.2)menunjukkan varietas pada kompetensi organisasi media. Ini menggambarkan hubungan timbal balik antara tingkatan kebebasan pada penyedian akses bagi masyarakat dan tingkatan keekstensifan pada control dan akses dari media. Ada variasi tingkatan dari intervensi mediasi oleh media antara “suara masyarakat” atau kenyataan sosial pada satu pihak dan masyarakat sebagai audien di pihak lain. Formulasi ini menggarisbawahi tentang konflik dasar antara otonomi media dan kontrol sosial. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Konten Realitas Sosial sebagai Zona ”Contested”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;“realitas” sosial yang difilter oleh media, dengan berita dan dokumen sebagai titik tengah dari skala. Ruang bagi para produser umtuk memilih dan membentuk kurang lebih berseberangan dengan ruang masyarakat untuk mengklaim secara langsung. Kebebasan editorial dalam keseimbangan ruang bagi audien juga untuk dapat melihat realita. Seperti materi keaktualitasan secara umum menjanjikan audien realitas yang valid pada sebuah kenyataan, tapi juga memelihara hak media untuk membentuk kriteria pada pemilihan dan tayangan. Keluar dari masalah ini, tipologi ini mengingatkan kita pada bahwa berita tersebut (yang mana pemilihan studi media telah dikonsentrasikan) adalah hanya salah satu dari beberapa jenis pesan dari kenyataan yang harus melewati ”pintu” media.&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, tingkat intermediate dari continuum menjadi tempat dimana potensi konflik dapat muncul dan dimana media harus mempertahankan pilihan dan prioritas dalam hubungannya dengan masyarakat/publik. Wilayah ini mencakup anatar berita adan dokumenter meliputi docudrama, drama historik dan serial kenyataan yang diperankan oleh polisi, kedokteran, milter dan lainnya. Ini juga mencakup pada apa yang kini trend disbut infotainment (Brants, 1998). Semakin tayangan ini sensitif dan penuh kekuasaan pada domain ini, semakin harus berhati-hati dan berkewajiban pula media untuk menghindari area sensitif dalam menggunakan ironi, kiasan, khalayan dan muslihat untuk tanggung jawab langsung. Tidak hanya kekuasaan kepentingan pribadi untuk menciptakan pengaruh tertentu tetapi juga kemungkinan dampak yang tidak diinginkan dari realitas tersebut (panik, kejahatan, bunuh diri, dsb) . Sejak Elliot mengkonstruksikan tipologi ini, terjadi perkembangan yang berarti dalam penyiaran, khususnya pada banyaknya chanel yang tidak memvalidasi prinsip ini tapi malah memperkenalkan kemungkinan dan masalah baru. Inovasi penting adalah partisipasi audiens pada radio dan televisi (Munson, Livingstone, Lunt, Shen). Fenomena awalnya terjadi lewat radio call dalam acara, biasanya respon ahli, publik figur atau selebriti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setidaknya ada tiga kesimpulan yang dapat ditarik dari kotak tersebut: pertama, bentuk baru untuk akses untuk aspek realitas yang sebelumnya tersembunyi, contohnya tayangan pengakuan atau tayangan sensasional. Yang kedua: bahwa ada ”suara ketiga” yang bisa didengar selain pelaku media dan para ahli dalam masyarakat yaitu suara orang-orang biasa. Yang ketiga, terdapat perluasan dari tipe akses intermediate. Dalam teritori ini garis antara realitas dan fiksi terlihat sangat kabur dan arti lebih disaring dan dinegosiasikan.&lt;br /&gt;Pengaruh Sumber Pada Berita&lt;br /&gt;Media tergantung pada pasokan materi dari sumber, apakah ini berbentuk buku manuskrip untuk terbitkan, skrip untuk film, laporan atau kejadian untuk mengsisi kolom berita dan televisi. Hubungan dengan sumber berita sangat penting untuk media berita dan mereka seringkali melakukan proses yang aktif. Media selalu mencari konten yang cocok, dan konten (tidak selalu cocok) selalu mencari tempat pada berita. Pencari berita memiliki sumber-sumber tertentu sebagai sumber, dan juga terhubung pada figur terkemuka dari institusi sperti konferensi pers, agen penyiaran dll. Tchman, Fischman menjelaskan satu hal yang tidak pernah dibagi reporter berita pada kolega adalah sumber dan koneksinya.&lt;br /&gt;Dalam prakteknya pemilahan laporan-laporan berita terkait narasumber biasanya tergantung pada otoritas yang berkuasan dan kebiasaan umum. Ini merupakan sesuatu yang hampir tak terelakkan pada bias media mainstream, tapi ini bisa berakhir menjadi bias ideologi, yang tersirat di balik topeng kebenaran. Dalam studi isi media di AS oleh Reese dkk, 1994, tiga narasumber utama yang dikutip adalah juru bicara lembaga, pakar dan wartawan lain. Temuan utama dari studi tersebut adalah adanya derajat hubungan yang sangat tinggi antara sumber-sumber terkait yang jumlahnya terbatas, sehingga membuat kita sulit menemukan pendapat yang beragam.&lt;br /&gt;Pada saat negara dalam kondisi krisis atau konflik dimana kejadian-kejadian di luar negeri terlibat, tipikal media biasanya melukis dari sumber resmi yang dekat rumah, tentu saja dengan bias berita yang tak terhindarkan. Terdapat fakta-fakta mengenai hal ini dari perbandingan berita-berita saat ini mengenai perang di Kosovo, Afghanistan dan Iraq. Sebagai contoh Yang’s (2003) yang membandingkan liputan media China dan AS dalam serangan udara di Kosovo dengan angle dan area liputan yang berbeda. Sistem media dari keduanya melaporkan sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing (dominasi awal) dengan dukungan narasumber dari pihaknya.&lt;br /&gt;Media sering menyalahkan bias, terutama pada isu-isu yang melibatkan secara tajam emosi dan opini. Pada kasus perang teluk I dan II di Iraq, media dari negara-negara Barat yang terlibat penyerangan umumnya memberitakan laporan yang tidak kritis dan objektif. Umumnya masing-masing kritik akan ditolak oleh medianya, tetapi pada Mei 2004, The New York Times mengambil langkah yang tidak biasa dalam memberitakan perang Irak. Tak lama berselang The Wahington Post membuat langkah serupa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;The Planning Of Supply&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sumber media bisa berupa konferensi pers, press release, PR, dll. Sebagai tambahan media secara terus menerus mengumpulkan materi lewat observasi langsung, pengumpulan informasi, dan laporan setiap hari dan event guided. Mereka juga secara rutin menggunakan pelayanan penyedia informasi baik nasional dan internasional, agensi film-berita, rencana pertukaran dan sejenisnya. Ada beberapa aspek yang harus dicatat: pertama: terdapat keadaan tingkat tinggi perencanaan dan perkiraan yang berjalan seiring dengan oprasi media dalam skala besar dan terus-menerus. Media harus memiliki supply isi yang menjamin kebutuhannya dengan segera baik itu berita, fiksi dan hiburan lainya. Ini merefleksikan perkembangan organisasi sekunder seperti agensi berita yang menyediakan konten secara regular. Ini juga menyiratkan ketidakkonsistenan pada gagasan media sebagai cermin yang netral dari pergerakan kultur dan berita dari masyarakat. Kedua, terdapat ketidakseimbangan antara pemasok informasi pada satu pihak dan media penerima informasi. Beberapa sumber biasanya lebih powerful dan lebih memiliki posisi tawar karena statusnya, dominansi pada pasar dan nilai pasar yang intrinsik. Gandy (1982) menunjuk pada ”information subsidies” yang diberikan selekti oleh kelompok kepentingan yang berkuasa dalam rangka mendahulukan kepentingannya. Organisasi media jauh dari kepatutan dalam tingkat mengalokasi akses pada sumber. Berdasarkan Gans (1979) sumber yang sukses untuk memperoleh akses pada elit media berita cenderung lebih berkuasa, lebih bersumber daya dan lebih teroganisir untuk memasok jurnalis dengan jenis berita yang mereka inginkan pada saat itu. Dengan demikian sumber otoritatif dan efisien dan seringkali menikmati ”habitual acces” pada news media (1974). Terdapat batas yang potensial pada independensi dan keberagaman sikap media oleh kesulitan yang mereka alami untuk berpaling dari materi sumber terebut. Ketiga, pertanyaan mengenai asimilasi muncul ketika hadirnya kepentingan timbal-bailk dalam media dan external communicators (sumber). Terdapat contoh yang jelas ketika pemimpin politik ingin mendapat publikasi yang luas, tetapi dengan kolusi yang tidak begitu kelihatan dalam peliputan berita rutin, repoter tergantung pada sumber cenderung memperoleh infomrasi dan kepentingan lewat cara berita itu disampaikan. Ini menggunakan sumber sebagai politisi, pejabat atau polisi. Walaupun tipe hubungan ini dapat saja dibenarkan lewat keberhasilan bertemunya kebutuhan publik lewat organisasi media, ini juga menimbulkan konflik dengan harapan independensi kritis dan norma profesi. (Murphy 1976, Chibnall 1977, Fishman 1980)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Humas dan Manajemen Berita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Molotch and Lester menujukkan bagaimana berita dapat dikontrol oleh posisi humas dan manajemen berita untuk mengatur publikasi. Seringkali terdapat kurang lebih hubungan kolusi antara politisi atau pejabat dan media dengan tujuan tertentu. Ini bisa dibuktikan dengan kampanye pemilu, yang menyewa mereka untuk mementaskan ”event semu" dari konferensi pres untuk meliput pernyataan kebijakan atau demonstrasi (Swanson dan Mancini 1996). Dalam beberapa ruang asimilasi antara news media dan sumber sangat komplit terlihat. Politik, pemerintah dan penegakan hukum adalah tiga contoh utamanya.&lt;br /&gt;Asimilasi yang dimaksud dalam konteks ini merupakan aktifitas profesional sebagaimana layaknya agensi humas. Terdapat keterkaitan fakta-fakta untuk menyatakan bahwa pemasok informasi yang terorganisir dapat lebih efektif dan bahwav sebuah perjanjian yang baik mengenai apa yang dipasok oleh agensi humas ke media dapat digunakan. Studi Baerns (1987) menemukan bahwa laporan politik dalam One German Land sejak awal didominasi bahan dari konferensi pers dan rilis media. Penelitian Schultz (1998 : 56) juga menunjukkan gejala serupa dimana setengah dari isi berita media besar Australia ditulis berdasarkan press release. Ini menggambarkan bahwa para jurnalis menyerahkan sumber beritanya pada sumber resmi dan birokrasi (see Fishman, 1980). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-3612811688418247712?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3612811688418247712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3612811688418247712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/struggle-over-acces-antara-media-dan.html' title='The Struggle Over Acces antara Media dan Masyarakat'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SU33Djzy6hI/AAAAAAAAAH4/FeI-H_dW-a8/s72-c/Carbonfilament.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-6154967171733114800</id><published>2008-12-14T06:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T22:51:39.383-08:00</updated><title type='text'>Perubahan Paradigma Dalam Kebijakan Media</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUieBBq-hBI/AAAAAAAAAGw/W54d8VA-1aE/s1600-h/kebijakan+media.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280644303557657618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 262px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUieBBq-hBI/AAAAAAAAAGw/W54d8VA-1aE/s320/kebijakan+media.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Van Cuilenberg dan McQuil (2003), selama beberapa dekade perkembangan ilmu komunikasi, terdapat tiga tahap mengenai kebijakan komunikasi :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; fase lahirnya kebijakan industri komunikasi (emerging communication industry policy). Mulai sejak abad ke-19 sampai Perang Kedua Kedua. Dalam fase ini tidak ada tujuan kebijakan yang saling bertautan antara perlindungan kebijakan strategis dari pemerintah dan negara dengan sosialisasi pengembangan industri dan ekonomi sistem ekonomi baru. (telepon, kabel, wireless telegrap, radio, dll)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; pelayanan publik (public service). Diawali dengan pengakuan akan pentingnya membuat peraturan penyiaran. Namun kesadaran terhadap manfaat social bagi politik, social, dan budayanya hanya sebatas berada pada tahap medium saja. Komunikasi dilihat hanya sebatas pada kemampuan teknologi semata.&lt;br /&gt;Ide baru tentang ”communication wellfare” mulai diperkenalkan dan berkembang lebih jauh daripada kebutuhan untuk mengontrol alokasi frekuensi langka. Kebijakan sebenarnya sangat positif dalam mempromosikan tujuan budaya dan sosial sebagaimana juga negatif dalam mengancam kerusakan pada ”lingkungan”.&lt;br /&gt;Pada fase ini untuk pertama kalinya pers mulai masuk dalam kebijakan publik, dalam hal untuk membatasi kekuatan monopoli pemilik dan membangun ”standar” untuk menghadapi tekanan komersial. Fase ini mencapai puncaknya di Eropa pada 1970 dan sejak itu semakin menghilang.&lt;br /&gt;Ketiga, semakin berkembang tren yang sebenarnya sudah lama dibicarakan, yaitu internasionalisasi, digitalisasi, dan kombinasi antar keduanya. Pada periode ini juga ditandai dengan semakin kuatnya inovasi, berkembang dan berkompetisi dalam skala global.&lt;br /&gt;Kabijakan masih eksis, namun dengan paradigma baru dengan mengadopsi tujuan dan nilai yang ada. Kebijakan masih menjadi pandu bagi tujuan politik, sosial, dan ekonomi, akan tetapi sudah diterjemahkan dan dikemas ulang. Tujuan ekonomi lebih didahulukan ketimbang masalah sosial dan politik.&lt;br /&gt;Kunci prinsip : kebijakan komunikasi publik adalah kebebasan, akses dan pelayanan universal, akuntabilitas, kebijakan internal media dengan kontrol luar yang ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sistem Media dan Sistem Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diskusi tentang kebijakan dan regulasi media kebanyakan berputar pada masalah jaringan kekuatan antara media masa dengan sistem politik nasional. Namun hal ini bukan alasan bahwa media selalu dalam posisi subordinat dari politikus atau pemerintah. Hubungan keduanya seringkali disimbolkan dengan konflik dan kecurigaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunther and Mugham (2000) mengatakan hubungan antara sistem politik dan media menunjukkan sebuah perbedaan yang sangat besar. Namun demikian, dalam setiap kasus hubungannya terkait dengan struktur, pengelolaan, dan tampilan/kemasan. Walau demikian selalu ada aturan hukum, regulasi, dan kebijakan di setiap negara yang bisa dinegosiasikan dengan sistem politik. Di mana hukum tersebut dapat berupa sebuah jaminan hak dan kebebasan, bahkan sampai pada batasan bagaimana media dapat bergerak di dalam ruang publik.&lt;br /&gt;Di beberapa negara, ada sektor publik dari media (biasanya broadcast) yang menjadi kewenangan khusus dari pemerintah, dan ada beragam cara untuk mengatur wilayah tersebut dari kepentingan politik, walau mereka punya otonomi sendiri.&lt;br /&gt;Pemilik dari media umum biasanya berani untuk mengeluarkan uang dan strategi untuk dapat mempengaruhi pembuatan keputusan. Tak jarang mereka juga memiliki dari ideologi dan ambisi tertentu.&lt;br /&gt;Konten media biasa didominasi oleh masalah politik. Hal tersebut dikarenakan banyak menarik perhatian dan merupakan hal yang baru dan terus berkembang. Bahkan dapat dikatakan bahwa politik tak dapat berjalan tanpa media, sebaliknya media lebih mampu bertahan tanpa adanya politik. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-6154967171733114800?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/6154967171733114800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/6154967171733114800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/perubahan-paradigma-dalam-kebijakan.html' title='Perubahan Paradigma Dalam Kebijakan Media'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUieBBq-hBI/AAAAAAAAAGw/W54d8VA-1aE/s72-c/kebijakan+media.bmp' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-9193240520910312549</id><published>2008-12-14T05:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T22:24:37.381-08:00</updated><title type='text'>Media Economics and Governance (Media tidak semata-mata  bisnis)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUiaHfjR0pI/AAAAAAAAAGo/KKNWBD_CmRA/s1600-h/globe2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280640016611136146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUiaHfjR0pI/AAAAAAAAAGo/KKNWBD_CmRA/s200/globe2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Perspektif bagaimana memandang media massa tergantung pada konteks lingkungan media itu berada. perspek berbeda diantara perspektif ekonomi-industrial, perspektif ekonomi politik kritis, perspektif kepentingan publik, dan perspektif profesional.&lt;br /&gt;Dalam lingkungan yang berbeda-beda media digambarkan berada ditengah dimana aktivitasnya dipengaruhi oleh tiga kekuatan besar, yaitu teknologi, ekonomi, dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media tidak semata-mata bisnis, tetapi sangat terkait dengan struktur ekonomi- politik yang melingkupinya, oleh sebab itu, sebagai bisnis ,media memiliki corak yang khas diantara bentuk-bentuk bisnis lainnya. Perkembangan internasionalisasi media akibat perkembangan teknologi, privatisasi/deregulasi media sebagai perkembangan ekonomi-politik, dan konglomerasi bisnis media adalah isu-isu yang dapat dijadikan kajian sejauh mana peran teknologi, ekonomi, dan politik mempengaruhi media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Struktur Media&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Struktur media dapat dilihat dari sistem media dan sector media sehigga media dapat dilihat pada level analisis yang berbeda. Sistem media sendiri ada tiga macam, yaitu free-enterprise media, dimana media terlepas dari negara seperti di Amerika, state-run media dimana media dibawah control negara seperti di Cina, dan banyak negara berlaku mixed system yang merupakan perpaduan diantara dua sistem tadi.&lt;br /&gt;Berbagai bentuk media seperti koran, televisi, radio, music, internet, dan sebagainya disebut sebagi sector media dimana bentuk distribusinya bisa berbeda-beda.&lt;br /&gt;Stuktur media dan level analisis seperti yang dimaksudkan di awal adalah:&lt;br /&gt;· Media internasional&lt;br /&gt;· Sistem media&lt;br /&gt;· Perusahaan multimedia&lt;br /&gt;· Sektor media&lt;br /&gt;· Sirkulasi/distribusi media&lt;br /&gt;· Saluran media (koran, televise)&lt;br /&gt;· Produk media (buku, film, lagu, dsb)&lt;br /&gt;Prinsip Ekonomi dalam Struktur Media&lt;br /&gt;Sebagai institusi bisnis media akan menjalankan prinsip ekonomi, yaitu adanya orientasi pada keuntungan dari bisnis yang dijalankannya. Keuntungan bisnis media diperoleh dari penjualan media itu sendiri, iklan, sponsorship, dan public relation yang dimuat didalam media.&lt;br /&gt;Proporsi mana yang lebih besar memberikan keuntungan, apakah dari penjualan ataukah dari pemasukan akan menimbulkan implikasi yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-9193240520910312549?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/9193240520910312549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/9193240520910312549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/media-economics-and-governance-media.html' title='Media Economics and Governance (Media tidak semata-mata  bisnis)'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUiaHfjR0pI/AAAAAAAAAGo/KKNWBD_CmRA/s72-c/globe2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-5858458738775263426</id><published>2008-12-14T05:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T22:11:44.822-08:00</updated><title type='text'>Media Ownership dan Control</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUiX78QjUdI/AAAAAAAAAGg/_IK96Xs5n6c/s1600-h/HArry_Tanoe_lepas_CMNP_220708.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280637619135533522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 357px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUiX78QjUdI/AAAAAAAAAGg/_IK96Xs5n6c/s400/HArry_Tanoe_lepas_CMNP_220708.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal mendasar yang harus dipahami dari struktur media adalah pertanyaan mengenai kepemilikan dan bagaimana kekuasaan dari pemilik digunakan. Pendapat yang mengatakan bahwa pemiliklah yang akhirnya menentukan sifat dari media tidak hanya Marxist teori namun sebenarnya aksiom pemikiran yang sama juga disimpulkan dalam Altschull (1984), hukum kedua dari jurnalis : “Isi dari media selalu merefleksikan kepentingan dari orang-orang yang membiayai media”. Tidak heran , ada beberapa bentuk yang berbeda dari kepemilikan media yang berbeda, dan bagaimana kekuasaan dari pemilik digunakan dengan cara yang berbeda pula.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Termasuk di dalam pernyataan Altshull, bahwa tidak hanya kepemilikan yang diperhitungkan, ada pertanyaan yang lebih meluas mengenai siapa yang sebenarnya membeli produk dari media. Walaupun ada media yang pemiliknya membayar secara personal untuk memperoleh hak istimewa dalam mempengaruhi isi, kebanyakan media hanya menginginkan untung dan kebanyakan media dibiayai dari sumber yang berbeda. Disini termasuk jangkauan dari private investor (diantara perusahaan media mereka), advertisers, consumers, publik yang beraneka macam, para pembeli subsidi, dan pemerintah. Hal ini membuat garis dari pengaruh dari pemilik seringkali tidak langsung dan kompleks – dan ini jarang sekali hanya berupa satu garis dari pengaruh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebanyakan dari media mengacu kepada satu dari tiga kategori dari kepemilikan ; perusahaan commercial, badan usaha publik non-profit, dan public sector. Walaupun begitu , setiap kategori dari ketiganya adalah bagian yang penting. Untuk kepemilikan media ini akan menjadi sangat relevan apakah perusahaan adalah umum atau private, rangkaian media yang luas atau konglomerat, atau kecil yang berdiri sendiri. Inilah yang juga menjadi masalah apa tidak , perusahaan media dimiliki oleh media tycoon atau mogul, yang dilambangkan sebagai seseorang yang ingin menggunakan kepentingan pribadi dalam kebijakan editorial (Turnstall dan Palmer,1991) Badan usaha non-profit dapat dipercaya netral, dibentuk untuk melindungi kebebasan dalam beroperasi atau badan-badan usaha dengan dengan budaya yang spesial atau untuk kepentingan sosial semacam partai-partai politik, masjid , dan lainnya.&lt;br /&gt;Kepemilikan publik juga datang dengan bentuk yang beraneka ragam, menjangkau secara langsung administrasi untuk memperluas dan mebuat beraneka ragam konstruksi untukk memaksimalkan kebebasan pengambilan keputusan mengenai isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;The Effecs of Ownership&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Untuk komunikasi massa, permasalahan utama adalah selalu berkaitan dengan keputusan akhir untuk mempublikasikan. Teori liberal berasumsi bahwa kepemilikan media secara efektif harus terpisah dari kontrol dan editorial decisions. Keputusan yang lebih besar mengenai sumber daya, strategi bisnis, dan kesukaan dapat diambil oleh pemilik atau para pemegang saham, sedangkan editor dan pengambil keputusan yang lain dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan yang profesional mengenai isi media berdasarkan keahlian mereka. Dalam beberapa situasi dan di beberapa negara ada lembaga penengah yang sudah ditetapkan (semacam UU editorial) yang dibuat untuk menjaga integritas dari kebijakan editorial dan kebebasan jurnalis. Sebaliknya, professionalism, kode etik, public reputation (sejak media selalu dalam pengawasan publik), dan common sense mengharuskan untuk memperhatikan permasalahan yang tampak dan tidak pantas untuk dipegaruhi oleh pemilik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Eksistensi dari check and balance tidak dapat, walaupun begitu, mengaburkan beberapa fakta kehidupan operasi media. Salah satunya adalah fakta bahwa, commercial media , harus menghasilkan keuntungan untuk tetap dapat bertahan hidup, dan hal ini sering melibatkan pengambilan keputusan yang langsung mempengaruhi isi (seperti menghemat biaya, tutup, penggantian staf, selidiki atau tidak, dan operasi gabungan). Pada dasarnya pemilik media tidak akan jauh dari pemikiran ekonomi yang berimbang. Ini juga merupakan fakta bahwa kebanyakan private media memiliki kepentingan pribadi yang tetap dalam sistem kapitalis dan cenderung memberikan dukungan yang nyata kepada partai politik defenders-conservative. Besar sekali dukungan koran-koran di Amerika memuat berita calon presiden dari partai Republik selama bertahun-tahun (Gaziano 1989), dan fenomena yang serupa juga terjadi di beberapa negara di Eropa, mungkin merupakan akibat dari perubahan dan kebijakan alami yang mungkin tidak sama.&lt;br /&gt;Banyak cara nyata yang sedikit banyak sama dalam kecenderungan yang berlaku, tidak lain adalah tekanan dari para pengiklan. Media yang dimiliki oleh publik (public sector ) berpikiran netral dan seimbang terhadap tekanan semacam ini. Teori Kebijakan Liberal Konvesional menyatakan bahwa cara terbaik atau satu-satunya jalan keluar dari permasalahan semacam ini adalah terletak pada keberagaman dari kepemilikan pribadi. Situasi ideal bila salah satu perusahaan baik kecil atau menengah berkompetisi dengan yang lain untuk menarik perhatian publik dengan menawarkan secara luas ide-ide, informasi dan berbagai tipe budaya. Kekuatan yang dimiliki oleh para pemilik media tidak seburuk kelihatan namun dapat menjadi buruk bila konsentrasi dan penggunaannya secara selektif untuk membatasi atau mencegah akses. Posisi ini cenderung merendahkan tekanan fundamental diantara ukuran kriteria pasaar, keuntungan , dan kriteria kualitas dan pengaruh. Mereka tidak akan mudah untuk saling dipertemukan. Perhatian utama dari isi terpusat pada debat teoritikal&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan dari Media Ownership dan Control&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bentuk Utama dari kepemilikan terdiri dari : Commercial firms, Nonprofit Body, Public Control&lt;br /&gt;Kebebasan dalam press mendukung kebebasan pemilik dalam menentukan isi berita Bentuk dari kepemilikan memiliki pengaruh kepada isi berita Kepemilikan yang beraneka ragam dan kompetisi yang bebas adalah cara terbaik Ada check and Balance didalam sistem, yang bertujuan membatasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Competition and Concentration&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Didalam teori dari struktur media, perhatian utama diarahkan kepada pertanyaan mengenai keseragaman dan perbedaan. Kebanyakan teori sosial menaruh perhatian pada kepentingan publik sebagai nilai dari perbedaan, dan selalu ada dimensi ekonomi yang mengikutsertakan monopoli melawan kompetisi. Kompetisi yang bebas, perlu dicatat seharusnya mengarahkan keberagaman dan untuk mengganti struktur dari media, walaupun sebagai kritikan sebaliknya bahkan memungkinkan lahirnya monopoli atau paling tidak oligopoli (hal yang tidak diinginkan dalam ekonomi sama halnya dalam dasar sosial) (Lacy dan Martin 2004). Media secara ekonomis menjadi perhatian, ada tiga aspek utama yang menjadi pertanyaan. Intermedia competition, intramedium competition, dan interfirm competition. Intermedia competition, utamanya sangat bergantung apakah produk media dapat saling digantikan satu dengan yang lainnya (Contohnya news di internet untuk news di televisi atau di surat kabar) dan pada apakah iklan dapat digantikan dari medium yang satu ke yang lainnya. Kedua pergantian itu sangat dimungkinkan, namun keduanya terjadi pada saat-saat tertentu. Selalu saja ada tempat bagi medium khusus yang memiliki kelebihan (Dimmick dan Rothenbuhler, 1984). Semua tipe dari media terlihat dapat memberikan beberapa keuntungan khusus kepada para pemasang iklan meliputi : bentuk pesan, durasi, tipe dari audiens, konteks penerimaan dll. (Picard, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Horizontal versus Vertical Concentration&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Secara umum, dikarenakan satuan/unit dari sektor medium yang sama cenderung lebih mudah untuk digantikan dibandingkan between media, fokus perhatian sering diarahkan kepada kompetisi diantara intramedium. Contoh : satu surat kabar dengan yang lain dalam segmen pasar yang sama, sama secara geografis, atau sama berdasarkan kategori lain. Ini dimana konsentrasi memiliki banyak kecenderungan mengembangkan sektor medium yang sama (ini juga merupakan sebagai bagian dari akibat kebijakan publik yang membatasi cross-media monopoly).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Secara umum pemusatan media dibagi berdasarkan horizontal dan vertikal. Konsentrasi vertikal mengacu kepada pola kepemilikan yang merupakan perluasan terusan dari tingkatan yang berbeda dari produksi dan distribusi (sebagai contoh : pemiliki studio film juga memiliki sebuah bioskop) atau secara geografi (dapat dikatakan apabila salah satu perusahaan media nasional membeli surat kabar lokal didaerah). Konsentrasi horizontal mengacu kepada Merger didalam pasar yang sama (sebagai contoh , dua surat kabar yang bersaing atau dua perusahaan tepon dan kabel). Kedua proses ininsering terjadi dalam skala yang besar di beberapa negara, walaupun efeknya telah dimodifikasi dengan terus memilih intermedia dan perkembangan dari media-media baru. Keberagaman sering dilindungi oleh kebijakan publik dalam melawan cross-media ownership (media yang berbeda dioperasikan oleh perusahaan yang sama, terutama sama secara geografis dan pasarnnya). Media juga dapat terlibat dalam konsentrasi horizontal melalui mergernya perusahaan dari industri yang berbeda, dengan begitu surat kabar atau televisi dapat dimiliki oleh perusahaan non media. Ini tidak akan secara langsung mengurangi keberagaman media namun dapat menambah kekuasaan media massa dan memiliki implikasi yang luas buat dunia iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Other Types of Concentration Effect&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang relevan dengan pembagian berdasarkan tipe concentration (De Ridder, 1984), sangat berkaitan erat dengan pada tingkatan mana media muncul. De Ridder membagi antara publisher/concern (ownership), editorial dan tingkat audience. Yang pertama mengacu pada meningkatnya kekuasaan dari pemilik (contohnya : perkembangan dari rentetan yang meluas dari surat kabar yang terpisah seperti yang terjadi di Amerika dan Kanda) atau stasiun televisi (seperti yang terjadi di Itali setelah deregulasi). Hal seperti ini membuat perusahaan media tetap bebas secara editorial (sejauh keputusan mengenai isi yang menjadi pusat perhatian), walaupun rasionalisasi dalam bisnis dan organisasi sering diarahkan kepada pembagian tugas khusus dan mengurangi perbedaan diantara mereka. Di kasus tertentu, ada pertanyaan terpisah mengenai apakah editorial concentration sebagai ukuran dari jumlah hak independen, meningkat atau berkurang sejalan dengan konsentrasi terhadap publisher. Derajat kebebasan editorial adalah hal yang sulit untuk ditaksir/diperkirakan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Isu ketiga adalah tentang audience concentration – yang mengacu kepada konsentrasi pada audience market share, yang mana memerlukan penilaian/penaksiran secara terpisah. Perubahan yang relatif kecil dalam kepemilikan dapat menyebabkan peningkatan yang luar biasa audience concentration (dalam konteks proporsi/bagian dikontrol oleh publishing group). Banyak judul berita di harian surat kabar independen tidak memiliki batasan sendiri tentang kekuasaan media atau menjamin banyak pilihan nyata jika kebanyakan audiens konsentrasi pada satu atau dua judul, atau yang disediakan 1 atau 2 perusahaan. Kondisi dari sistem sangat tidak beraneka ragam dalam kasus itu. Alasan untuk memperhatikan masalah ini sangat terkait dengan 2 poin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Degree of concentration&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Derajad dari pemusatan media biasanya diukur melalui tingkat perusahaan besar dalam mengontrol produksi, karyawan, distribusi, dan audien, walaupun tidak ada batasan dari pernyataan yang menyatakan bahwa dejarat sangat tak diinginkan, berdasarkan Hukum Picard mengenai thumb threshold of acceptability, dimana empat besar dalam industri mengontrol lebih dari 50 % atau delapan perusahaan top lebih dari 70 %. Ada beberapa media yang menjadi contoh dari terlampauinya atau mendekati treshold itu. Seperti halnya daily newspaper press di Amerika, daily newspaper press di inggris, Jepang dan Perancis, televisi di Itali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Situasi dari concentration dapat diubah dari perfect competition menjadi complete monopoly, dengan berbagai macam kadar diantaranya. Media yang berbeda menempati tempat yang berbeda juga dalam kesatuan ini, dengan berbagai macam alasan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perpect Competition sangat jarang, namun tingkat persaingan yang tinggi telah terjadi dibeberapa negara melalui penerbitan buku dan majalah. Televisi dan surat kabar nasional umumnya merupakan pasar yang oligopoli, dimana monopoli yang sebenarnya sekarang sudah sangat jarang. Salah satu contoh kasus yang luar biasa dari natural monopoly contohnya dalam cable dan telecommunication. Sebuah natural monopoly dimana konsumen dilayani dengan baik, dalam hal biaya dan efisiensi, dengan adanya suplier tunggal. Kebanyakan dari monopoli semacam itu dihapuskan oleh gelombang privatisasi dan deregulasi dalam telekomunikasi.&lt;br /&gt;Alasan peningkatan aktivitas pemusatan media dan integrasi sama halnya dengan bidang bisnis lainnya, terutama pencarian dari skala ekonomi dan kekuatan yang besar dari pasar. Dalam kasus media, hal ini sangat terkait dengan keuntungan melakukan integrasi vertikal sejak keuntungan lebih banyak dihasilkan dari distribusi dibandingkan dengan produksi. Ada juga dorongan bagi perusahaan media agar media belajar mempertahankan cash flow seperti halnya dilakukan oleh televisi konvesional dan surat kabar harian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keuntungan semakin meningkat dengan adanya sharing services dan memungkinkan untuk berhubungan dengan sistem distribusi yang berbeda dan pasar yang berbeda. Ini yang disebut dengan sinergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Policy Issues Arising&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tren mengarah ke pemusatan media yang lebih besar lagi, bersifat nasional dan internasional, mengakibatkan berkembangnya tiga jenis isu dari kebijakan publik. Salah satunya adalah yang berhubungan dengan pricing, kemudian yang behubungan dengan product, dan yang ketiga yang berhubungan dengan posisi dari kompetitor. Isu utama mengenai pricing berkaitan dengan perlindungan terhadap konsumen, sejak adanya monopoli, kekuatan dari provider menentukan harga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Isu utama mengenai produk berkaitan dengan monopoli pelayanan isi dari media, terutama mengenai kualitas yang memadai dan pilihan, baik bagi konsumen dan bagi media itu sendiri.&lt;br /&gt;Isu ketika fokus pada kompetitor, mengacu pada menggerakan kompetitor sebagai hasil dari gambaran ekonomi, mengambil kesempatan di dalam pasar iklan yang mencakup populasi yang padat, atau menggunakan kekuatan finansial untuk digunakan dalam kompetisi yang membinasakan/menghabiskan harta benda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk semua alasan yang diberikan, pasti ada penelitian yang diarahkan pada konsekuensi dari concentration (baik itu baik atau buruk), terutama untuk sektor surat kabar, dimana concentration disektor ini yang paling besar. Hasil dari penelitian ini disimpulkan secara tidak menyakinkan, sebagian disebabkan oleh kompleksitas melalui untuk fakta dari concentration biasanya hanya satu aspek dari situasi pasar yang dinamik. Perhatian utama telah fokus kepada konsekuensi untuk isi, dengan referensi khusus terpenuhinya local news dan informasi, penampilan dari fungsi politik dan pembentukan opini dari media, tingkat akses untuk suara yang berbeda, dan tingkatan dan jenis pilihan dan keanekaragaman. Sementara itu berdasarkan definisi, concentration media selalu mengurangi pilihan dibeberapa hal, ini memungkinkan keuntungan monopoli dapat dapat dikembalikan kepada konsuen atau komunitas dalam bentuk media yang lebih baik. Keuntungannya juga dapat disalurkan kepada shareholders. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-5858458738775263426?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/5858458738775263426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/5858458738775263426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/12/media-ownership-dan-control.html' title='Media Ownership dan Control'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SUiX78QjUdI/AAAAAAAAAGg/_IK96Xs5n6c/s72-c/HArry_Tanoe_lepas_CMNP_220708.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-2703688529016453187</id><published>2008-09-08T21:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T22:06:28.134-07:00</updated><title type='text'>POLITISI VS PENJUAL OBAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SMYArF2v15I/AAAAAAAAAFE/WhPCU7wsmkA/s1600-h/gantenginjrgdt0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 221px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SMYArF2v15I/AAAAAAAAAFE/WhPCU7wsmkA/s400/gantenginjrgdt0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243879556425701266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan ilmuwan politik hanya sibuk melihat struktur serta rasionalitas politik namun dalam pandangan saya, antara analisis politik dan kultural sangat berbeda. Pendekatan politik terlampau banyak berkutat pada aspek kelembagaan baik berupa partai politik, institusi, hingga mekanisme dan hubungan antar lembaga. Pendekatan ini tidak banyak membahas manusia sebab berasumsi bahwa manusia adalah objek dari sebuah struktur, yang prilakunya akan mengikuti tata nilai yang lazim dalam struktur tersebut. Inilah yang membuat analisis kultural menjadi menarik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika selama ini politik hanya dipahami sebagai arena di mana terjadi kontestasi dan pergulatan demi kemaslahatan bangsa dan negara, maka di level kultural, semuanya bisa diobrak-abrik. Perilaku manusia tidak selamanya dibimbing oleh nilai-nilai yang ideal atau adiluhung tersebut. Prilaku manusia justru bergerak karena perkara remeh-temeh, yang boleh jadi dipandang tidak penting oleh orang banyak. Misalnya saja, keinginan untuk kian mengepulkan asap dapur atau keinginan untuk punya mobil baru. Semuanya adalah hal yang manusiawi dan berada di level kultural yang jarang dijamah para ilmuwan politik. Persoalan itu dianggap tidak penting, padahal itu bisa menjadi awal dari pagelaran besar bernama partai politik dan demokrasi di negara ini. Hehehehe….. Itulah uniknya manusia. Itulah enaknya membedah politik dengan pendekatan kultural sebab analisisnya tidak melangit, melainkan membumi.&lt;br /&gt;TULISAN Emanuel Subangun di Kompas , Selasa (15/4), yang berjudul “Pemasaran Partai Politik” sangat inspiratif. Salah satu penggagas pandangan post-modernisme di Indonesia itu memaparkan tesis yang sungguh menarik tentang bagaimana fenomena mereka yang sibuk di partai politik. Baiklah, saya kutipkan bagian dari penjelasan Subangun yang bikin saya terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam buku teks ilmu politik lazim disebutkan, berpolitik adalah perjuangan untuk duduk dalam jabatan publik nan politik (public office). Jabatan ini dimaksudkan sebagai sarana merumuskan dan menjalankan kebijakan publik (public policy) demi kemaslahatan rakyat banyak. Akan tetapi, jika mengingat keadaan sekarang di mana pengangguran kaum terdidik di Indonesia amat tinggi karena ekonomi sedang macet, mencari ”jabatan publik” dapat berubah mencari pekerjaan dalam hubungan dengan lowongan kerja. Maka, menjadi pengurus partai tak ubahnya melamar pekerjaan. Kini, dalam pasar kerja yang sempit, duduk di pemerintahan adalah jaminan bahwa upah akan berlimpah karena negara kita subur. Seperti orang muda bermimpi bekerja di perusahaan asing karena gaji dibayar dengan dollar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca bagian ini, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Sebelumnya, saya sudah menyadari fenomena ini. Namun Subangun seakan membuka mata saya untuk melihat lebih terang bahwa politik di negeri ini bukanlah perkara bagaimana mengejawantahkan cita ideal demi mensejahterakan masyarakat. Ternyata, politik tidak lebih dari sebuah pasar kerja di mana banyak pedagang yang menjajakan barang. Mekanisme demokrasi dan ketatanegaraan hanyalah sebuah aturan atau rambu-rambu yang berlaku di pasar. Partai politik dan para fungsionarisnya tidak lebih dari pedagang-pedagang yang sibuk menawarkan barang dengan beragam cara. Pembelinya adalah rakyat Indonesia yang boleh jadi terbagi atas beberapa kategori, mulai dari yang acuh, sampai yang sinis melihat realitas politik. Kata Subangun, ranah politik ibarat sebuah pameran lowongan kerja di mana banyak orang akan sibuk berbondong-bondong masuk ke dalam antrian. Tema-tema kerakyatan serta kesejahteraan menjadi jurus ampuh untuk memikat pencari kerja. Maka, berdirilah banyak partai politik baru dengan para personel yang berharap dapat tambahan penghasilan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, analisis itu hanya tepat bagi mereka yang pengangguran dan ingin masuk partai politik demi penghasilan baru. Lantas, bagaimana dengan mereka yang udah kaya? Jawabannya ada dua hal. Pertama, mereka ingin tambah kaya sebab akan mendapatkan insentif dari semua proyek pembangunan yang ada di daerahnya. Kedua, mereka ingin melestarikan kekayaannya dengan cara membangun dinasti politik yang kelak mengamnkan semua aset dan kekayaannya. Itulah politik Indonesia. Masih tak beranjak dari urusan perut dan arena pamer kekuasaan.&lt;br /&gt;Saya merasa geli karena selama ini saya termasuk orang yang kadang terjebak arus dan suka mensakralkan politik. Sering saya terkagum-kagum saat melihat para politisi sibuk kampanye dan memberi janji-janji kepada warga. Saya kadang terjebak juga dengan kekaguman banyak orang karena seorang kandidat di pilkada punya baliho paling cantik. Saya pernah juga tersentuh dengan janji-janji yang katanya hendak mensejahterakan orang banyak. Padahal, sebagaimana diisyaratkan Subangun, para politisi itu tidak lebih dari penjual obat yang sedang sibuk menawarkan dagangan. “Pokoknya, barangnya laku dulu. Persoalan apakah obat itu manjur atau tidak, itu adalah urusan belakangan,” demikian kata penjual obat di kampungku saat kutanya rahasianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan persoalan ideologi partai? Ah... itu semua Cuma strategi marketing saja kok. Persoalan ideologi itu tak ada bedanya dengan teriakan yang mengabarkan sejauh mana kecanggihan obat tersebut. Semuanya hanya persoalan bagaimana agar “jualan” tersebut dengan gampang terjual ke publik. Makanya, analisis yang memetakan kekuatan nasionalis dan islami itu hanyalah analisis yang lucu-lucuan, tanpa melihat konteks apa yang sesungguhnya terjadi. Hari ini, saya baca Kompas, dan menemukan analisis serupa dilontarkan pengamat politik Indra J Piliang dan Sukardi Rinakit. Mereka menganalisis kemenangan kader PKS dan PAN di Pilkada Jabar. “Suara kubu nasionalis terpecah jadi dua. Makanya, kubu Islam bisa melenggang dan jadi pemenang,” kata Indra.Ini analisis terlucu yang pernah saya dengar. Bayangin, mereka berpikir bahwa realits nasionalis dan Islami seolah-olah itu adalah realitas yang sejati atau real. Apakah ada realitas itu? Ah saya tidak yakin. Saya rasa, batas-batas realitas itu sudah kabur dan harus diperdebatkan. Padahal, itu cuma persoalan bungkus saja. Itu cuma persoalan kemasan yang hendak ditawarkan kepada orang banyak. Kemasan yang sama saja dengan gaya retorik penjual obat yang sedang berteriak, “Obat ini didatangkan langsung dari Jerman, Lihat saja bentuknya seperti rudal yang akan langsung membom penyakit bapak-bapak. Makanya beli obat saya,” katanya. Yah.... inilah politik. (MYD)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-2703688529016453187?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/2703688529016453187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/2703688529016453187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/09/politisi-vs-penjual-obat.html' title='POLITISI VS PENJUAL OBAT'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SMYArF2v15I/AAAAAAAAAFE/WhPCU7wsmkA/s72-c/gantenginjrgdt0.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-4764902009412422263</id><published>2008-09-08T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T20:49:27.429-07:00</updated><title type='text'>Alifian Mallarangeng dan Oportunisme Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SMXyMvN9QyI/AAAAAAAAAEk/CAeN8VjgPAo/s1600-h/3070.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SMXyMvN9QyI/AAAAAAAAAEk/CAeN8VjgPAo/s400/3070.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243863641790169890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Saya mengenal sosok Alifian sudah cukup lama &lt;i&gt;(sementara ia sendiri sama sekali tidak mengenalku).&lt;/i&gt; Di tahun 1998, ia datang ke Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk menjadi dosen setelah menyelesaikan pendidikannya di satu universitas di Amerika Serikat (AS). Menurut informasi, ia menuntaskan pendidikan S1-nya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kedatangannya di Unhas membersitkan rasa kagum dari banyak mahasiswa termasuk saya yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Saya kagum karena sering melihatnya ikut dalam diskusi di koridor kampus atau di lantai di Baruga Andi Pangerang Pettarani, selain melihatnya tampil di TV tentunya. Bagiku, Alifian adalah sosok yang cerdas, dan sangat merakyat sebab bersedia duduk di lantai kotor untuk membagikan pengetahuannya kepada mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di saat mahasiswa Unhas berdemonstrasi dalam bara reformasi, Alifian ikut menemani mahasiswa untuk turun ke jalan. Pernah, saya melihatnya ikut menemani mahasiswa Unhas yang berjalan kaki sekitar enam kilometer dari kampus Unhas menuju kantor Gubernur Sulsel untuk menentang kebijakan pemerintah. Saat itu, Alifian adalah sosok yang sempurna sebagai akademisi yang rela turun gunung demi mendengungkan suara intelektual untuk perubahan. Ia juga membuka pintu rumahnya di kawasan Pengayoman, Makassar, untuk berdiskusi dengan siapa saja mengenai tema politik, khususnya tema otonomi daerah. Pendeknya, Alifian adalah dosen yang sangat membanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, saya terkejut ketika mendengarnya meninggalkan Unhas. Ia merasa kecewa karena sebagai dosen, ia tidak menerima banyak fasilitas sebagaimana layaknya dosen yang ada di luar negeri. “Bagaimana saya mau betah mengajar. Masak, meja kecil untuk saya duduk dan meletakkan foto istri saya tidak disediakan pihak kampus,” katanya dengan penuh nada protes. Memang, di Unhas tak banyak fasilitas buat dosen. Mereka tak punya ruangan pribadi dan ada meja serta buku-buku. Mereka hanya duduk-duduk di aula dosen untuk menunggu waktu mengajar. Ternyata, Alifian merasa kecewa. Tapi menurut informasi yang beredar di kampus Unhas, ia meninggalkan kampus bukan karena kecewa. Ia menerima tawaran yang menggiurkan yaitu menjadi pengajar senior di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) dan mendapatkan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan Unhas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita itu, kekagumanku langsung memudar. Jika itu benar, artinya naluri selebriti dan duit lebih mendarah daging dalam dirinya, ketimbang berada di lapangan (field) untuk mencari tantangan, berdialog dengan komunitas, serta menyaksikan langsung denyut nadi perubahan. Ia tak tahan menceburkan diri di tempat yang jauh dari kekuasaan. Sebagai dosen IIP, ia tak lama mengajar. Selanjutnya ia menjadi anggota KPU, yang kemudian menjadi batu loncatan bagi kariernya kelak. Ia cukup sukses menggelar Pemilu demokratis yang bersejarah bagi bangsa Indonesia yaitu Pemilu 1999. Pada awal tahun 2000, masa jabatannya di KPU berakhir. Ia sempat menjadi pemandu talkshow yang populer bersama sosiolog Imam Prasodjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Alifian memasuki gelanggang partai dan bergabung dengan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (Partai PDK) di bawah pimpinan Ryaan Rasyid. Maka mulailah petualangan Alifian di jalur politik. Dalam setiap kampanye Partai PDK, nama dan fotonya selalu dipasang berdampingan dengan foto Ryaas Rasyid. beberapa kali kunjungannya ke Makassar. Ia sering menemui ulama di Sulsel dan meminta restu kalau dirinya hendak menjadi presiden. Saat difoto wartawan, ia langsung mencium tangan ulama sambil berjanji bahwa &lt;i&gt;siri’na pacce &lt;/i&gt;atau harga diri orang Bugis akan dijunjungnya tinggi-tinggi. Suatu janji yang belakangan dilupainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi caleg untuk daerah pemilihan Jakarta. Sayang sekali, namanya tenggelam. Hasil pemilu 2004 hanya sedikit mencatat perolehan suaranya. Meski cukup populer, ia tidak dipilih oleh rakyat sehingga gagal memasuki gelanggang Senayan. Namun Alifian tak kehabisan akal. Di ajang pemilihan presiden, ia berbalik haluan. Ketika Ryaas dan Partai PDK memilih dukungan ke Wiranto, Alifian justru berbeda pendapat. Ia mengemukakan penolakannya. Alasannya, Wiranto adalah seorang militer yang justru bisa menghambat proses demokratisasi. Ia mengesankan dirinya seolah-olah anti militer. Dan publik terkejut ketika ia memilih mendukung SBY yang nota bene juga berasal dari kalangan militer. Ketika SBY menang, ia keluar dari Partai PDK sehingga membuat orang-orang di partai itu marah-marah. Kata Ryaas, “Itu si Daeng Anto (nama panggilan Alifian di Parepare), bohong besar kalau alasannya keluar dari PDK karena isu Wiranto. Sejak dulu dia mau keluar karena masih mau jadi selebritis dan selalu tampil di tivi. Dia merasa mati karier kalau sama kita. Makanya dia suka bohong. Dasar!! Tidak konsisten!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryaas merasa kesal dengan sikap Alifian. Dalam banyak kesempatan saat ke Makassar, Ryaas selalu mengatakan itu. Namun Alifian tetap tidak bergeming. Terbukti, pilihannya mendukung SBY dirasanya tepat, sebab SBY kemudian memenangkan pilpres. Ia lalu ditunjuk sebagai jubir presiden. Ia memilih meninggalkan semua teman-temannya baik di Unhas, IIP, kemudian Partai PDK. Dan ia selalu tidak mau menyinggung-nyinggung masa lalunya itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sebgai JUBIR presiden&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya melihatnya &lt;i&gt;udah keterlaluan menjilatnya.&lt;/i&gt; Mungkin, ia sedang menjalankan tugasnya dengan efektif sebagai seorang jubir, namun bagiku ia adalah seorang intelektual yang semestinya bisa lebih proporsional dalam melihat permasalahan. Mestinya, ia juga mengakui kelemahan di berbagai sisi, kemudian menjelaskan proses-proses politik yang terjadi sehingga mempengaruhi berbagai keputusan pemerintah. Kelemahan adalah perkara yang sangat manusiawi dan melalui kelemahan itu, manusia kian tertantang untuk mengembangkan pemikiran serta strategi kebudayaan untuk mengubah masalah menjadi titian melangkah. Sayang sekali, dalam dialog itu Alifian selalu melihat pemerintah sebagai sosok Superman yang selalu sempurna. (*MYD*)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-4764902009412422263?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/4764902009412422263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/4764902009412422263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/09/alifian-mallarangeng-dan-oportunisme.html' title='Alifian Mallarangeng dan Oportunisme Politik'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SMXyMvN9QyI/AAAAAAAAAEk/CAeN8VjgPAo/s72-c/3070.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-78100472739206812</id><published>2008-09-06T09:04:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T21:11:41.962-07:00</updated><title type='text'>ANTARA DIRIKU, DIRINYA DAN DIRINYA (Its About Love, Hate and Everythings Between"</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:courier new;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Skenario&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;01.  INT.  KAFE: AFTERNOON&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Soundtrack : Blowers Daughter’s “Damien Rice”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding kafe menunjukkan pukul 17.15 wib. Kafe ini lumayan ramai dari penGunjung, perlahan-lahan jalanan depan kafe mulai dipadati oleh lalu lintas kendaraan.&lt;br /&gt;Beberapa pelayan sibuk melayani para pengunjung, ada yang menuangkan softdrink ke dalam gelas, membersihkan meja dan ada yang lagi menawarkan menu. Di sisi lain beberapa pengunjung sedang menikmati suasana kafe. Tiga orang bapak-bapak sedang tertawa sambil merokok, sepasang muda-mudi lagi foto bareng pake Hp, seorang eksekutif cewek lagi mengetik pake laptop, seorang cowok melamun sendirian, sepasang muda- mudi lagi ngobrol di selingi canda dan tawa. Seorang cowok berambut botak bertubuh kekar sedang tersenyum-senyum mencuri-curi pandang ke salah seorang pelayan cewek yang manis. Di sudut lain seorang cowok berambut cepak bertubuh gempal juga memberikan senyuman kepada pelayan tadi.&lt;br /&gt;Sang pelayan membalas senyuman mereka….&lt;br /&gt;Di sebuah meja dekat pintu masuk mengarah keluar Seorang cowok yang akan kita kenal dengan nama Bimo duduk ditemani oleh dua orang cewek di dalam sebuah kafe. Bimo duduk menghadap kursi kosong, di samping kanan ada seorang cewek yang akan kita kenal dengan nama Mutiara dan di samping kirinya juga ada seorang cewek yang akan kita kenal dengan nama Sheila.&lt;br /&gt;Jari telunjuk kanan Bimo bergoyang-goyang mengetuk-ngetuk tiang kursi yang disandarnya. Bimo mengenakan kaos putih bercelana kargo coklat bersepatu converse, Mutiara memakaijilbab warna biru dipadu dengan gamis terusan warna senadadan Sheila memakai dalaman tanktop warna putih dialut semi gaun warna biru tembus pandang dibalut dengan celana jeans warna biru muda, rambut panjangnya dibiarkan tergerai.&lt;br /&gt;Di atas meja terdapat 3 gelas minuman, sebuah asbak dan vas bunga. Bimo dengan green sands, Mutiara dengan juice melonnya, dan Sheila dengan cappucino float.&lt;br /&gt;Mutiara menatap sayu ke pada Bimo. Bimo tak membalas tatapannya, pandangannya masih lurus ke depan menembus jendela ke arah jalanan. Sheila menatap Mutiara lalu mengarah ke bimo. Bimo tetap diam. Dengan tatapan kosong. Sheila memperbaiki posisi duduknya sembari membenarkan rambut polemnya yang terjatuh menutupi wajahnya. Mutiara menatap Sheila lalu ke arah Bimo. Bimo menatap Mutiara kemudian Sheila.&lt;br /&gt;Seorang Eksekutif cewek yang sedang sibuk dengan keyboard laptop sejenak menatap ke arah mereka, mengerutkan dahinya, tersenyum tipis lalu melanjutkan kembali aktivitasnya. Bimo menarik nafas mencoba menenangkan dirinya, ia memegang sudut belakang bawah telinga kanannya lau menggaruk garuk bagian belakang kepalanya. Sheila menatap ke Mutiara lalu ke arah Bimo. Bimo berusaha tenang menatap ke luar kafe.&lt;br /&gt;Bimo Menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari menyadarkan diri di kursi…. &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Fade out&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Black screen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;  BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;hidup ini di mulai dengan kita memilih...&lt;br /&gt;Fade In&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;02. INT. KAMAR BERSALIN: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Latar Musik dengan Bit Sedang&lt;br /&gt;Atmosphere Sound : Suasana&lt;br /&gt;Seorang Ibu sedang di USG. Di monitor kita bisa melihat pergerakan bayi. Sang Ibu tersenyum melihatnya.&lt;br /&gt;Seorang Ibu yang lain sedang dalam proses melahirkan ditemani oleh seorang bidan dan suaminya.&lt;br /&gt;Bayi mungil yang baru saja lahir menangis di tangan seorang Bidan. Bidan tersenyum, ayah dan ibunya ikut tersenyum bahagia, tangisan bayi semakin mengeras.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Sejak dalam kandungan kita sudah diberi pilihan, memilih untuk lahir ke dunia atau tidak dengan segala konsekuensinya.&lt;br /&gt;Tapi Tuhan, Shang yang, God, Brahma, Allah atau apapun namanya sebagai pencipta tidak pernah memberikan kita kesempatan memilih untuk terlahir dari rahim siapa&lt;br /&gt;Latar Musik Dengan Bit Cepat&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;03. EXT. ANGKASA: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;04. EXT. JALAN RAYA: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;05. EXT. TROTOAR: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;06. INT. KANTOR: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;07. INT. PASAR: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Dalam sehari kita telah banyak melakukan pilihan.......&lt;br /&gt;Seorang Ibu sedang memilih berbagai macam sayuran&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;08. INT. KAMAR BIMO: PAGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Sound Track : Kuliah Pagi “Harapan Jaya”&lt;br /&gt;Jarum jam yang dari tadi berdetak kemudian tepat berhenti di angka enam pagi. Jam berbunyi. Bimo yang masih tertidur tiba-tiba terbangun, mengambil jam weker tersebut dan memasukkannya ke tempat sampah yang di dalamnya ternyata terdapat banyak bangkai jam weker.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;Memilih bangun di pagi hari&lt;br /&gt;Memilih untuk mandi atau tidak&lt;br /&gt;Memilih untuk memakai satu jenis shampo&lt;br /&gt;(gambar Bimo sedang mandi di bawah shower dengan latar berbagai jenis shampo  ).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;Memilih untuk memakai jenis sabun mandi&lt;br /&gt;(gambar Bimo mengambil sabun dan memakainya)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O)&lt;/strong&gt; :&lt;br /&gt;Deodorant&lt;br /&gt;(gambar Bimo sedang memakai Dedorant)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Memilih baju yang akan kita pakai&lt;br /&gt;(gambar Bimo memilih berbagai baju di gantungan lemarinya Cut to Bimo&lt;br /&gt;memakai baju)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Celana&lt;br /&gt;(gambar Bimo mengancingkan Resleting Celana kargonya lalu memutar-mutar badannya di depan cermin memandangi bagian belakang celananya)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Parfum yang semakin hari menipiskan lapisan ozon bumi dengan gas Freon yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;(gambar Bimo parfum yang mengandung  CFO)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Minyak rambut&lt;br /&gt;(CU tangan Bimo mencolek minyak rambut gel dengan minyak rambut tersebut ia  menata rambutnya sesuai dengan  Trend masa kini)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIMO (V.O) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;             Memilih jenis sepatu&lt;br /&gt;Gambar FS Bimo mengikat sepatu Insert Bimo memasukkan Kamera SLR&lt;br /&gt;           Bahkan memilih Hobby&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;09. INT. RUANG MAKAN: PAGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bimo memeriksa Menu sarapan yang tersaji di meja makan ia kurang bergairah dengan menu di pagi itu, hanya Mie Goreng dan Telor ceplok Dan memilih hanya meneguk Teh manis hangat yang juga tersaji, sebagai menu sarapan pagi itu.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Memilih untuk sarapan atau tidak&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Ext. TROTOAR : DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Latar Musik : Bit Cepat&lt;br /&gt;Bimo berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali memotret Objek gedung&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11. JALANAN MACET : DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang eksekutif muda yang terjebak macet membeli Koran dari pedagang asongan dan membuka buka setiap halamannya seolah olah ingin mencari sesuatu yang menraik di situ.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;              Membaca koran,&lt;br /&gt;Insert : Bimo Memotretnya, eksekutif muda tersebut.(Frezz)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12. INT.TAMAN SEKOLAH: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di kursi Taman duduk berjejeran&lt;br /&gt;1 orang siswa SMU sedang membaca komik.&lt;br /&gt;1 orang siswi SMU sedang membaca novel.&lt;br /&gt;1 orang mahasiswi sedang membaca majalah.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;komik, novel, majalah,&lt;br /&gt;CUT TO:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;13. INT. MALL: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Latar Musik : Spionase&lt;br /&gt;Bimo sedang berdiri di pagar pembatas lantai atas sebuah Mall mencari Objek yang menarik dengan lensa tele kameranya spontan ia menangkap sesosok mahluk manis yang sedang memilih milih baju pada sebuah Butik di lantai Bawah, Lensa kamera Bimo mencari focus dan komposisi lalu Klik bimo memotretnya (frezz)&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Memilih gaya hidup&lt;br /&gt;CUT TO:&lt;br /&gt;Musik Menghilang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;14. INT. BIOSKOP 21: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;Seorang cowok tanpa teman juga pacar, sedang memandangi poster Film (dengan judul: you stupid man)&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Memilih menonton film apa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO CUT :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;19. INT. RUANG KELUARGA: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1 orang pembokat ditemani kucing sedang nonton&lt;br /&gt;telenovela.&lt;br /&gt;1 orang anak band sedang nonton MTV.&lt;br /&gt;1 orang banci sedang nonton infotainment.&lt;br /&gt;1 keluarga sedang nonton sinetron.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Telenovela, videoklip, infotainment (junkfood news) yang telah mengekspos kehidupan selebriti lebih dari 52 jam per minggu di 11 stasiun TV&lt;br /&gt;Memilih menonton sinteron yang jarak antara dunia imajinasi dan relitas semakin dipersempit.&lt;br /&gt;CUT TO:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;20. INT. RENTAL KOMPUTER: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;Seorang mahasiswa sedang mengcopy paste tugas mid temannya.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Memilih mencopy paste tugas-tugas kuliah.&lt;br /&gt;Skripsi&lt;br /&gt;Desertasi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;strong&gt;21. INT. RUANG KULIAH: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adegan mencontek di ruang ujian.&lt;br /&gt;Salah seorang mahasiswa memberi contekan kepada teman yang ada di belakangnya, kemudian temannya memberikan contekan lagi kepada teman di belakangnya dan temannya lagi memberikan contekan kepada dosen pengawas yang berdiri dib belakang mengawasi gelagat curang mereka.&lt;br /&gt;(insert CU : wajah kaget sang mahasiswa)&lt;br /&gt;Soundtrack : Selingkuh “kangen band”&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Memilih untuk jujur atau tidak,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;22. INT. TAMAN: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang cowok sedang tertawa terbahak-bahak sambil menelepon dengan HP di bangku sebuah taman di seblahnya Sepasang muda-mudi sedang bertengkar, tiba tiba sang cowok pergi setelah mengibaskan tangan sang cewek yang menahannya untuk tidak pergi. akhirnya sang cewek berdiri sendiri dan menangis -camera Track in perlahan-&lt;br /&gt;ATMOSFER – daun-daun berguguran.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Tertawa, Marah, menangis&lt;br /&gt;CUT TO:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;23. EXT.BAWAH POHON RINDANG: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang cowok frustasi menggantungkan dirinya dengan seutas tali namun tali tersebut putus membuatnya jatuh terduduk di tanah.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Ataupun Memilih mengakhiri hidup&lt;br /&gt;CUT TO BACK:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;24. INT. LARON KAFE: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertengakaran kecil terjadi antara salah satu dari pasangan muda-mudi di kafe, sang cewek menangis sang cowok berusaha membujuknya agar berhenti menangis. Para pengunjung menatap ke arah mereka. Bimo, Mutiara dan Sheila juga.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak pernah lepas dari hidup ini adalah masalah......&lt;br /&gt;kita selalu berhadapan dengan masalah.&lt;br /&gt;Kita nggak perlu lari dari masalah atau bahkan sampai mencari masalah.&lt;br /&gt;CUT TO:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;26. EXT. HALTE BUS: NITE&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Seorang cowok berkaca mata tebal berdiri sendiri di Halte menunggu Bus, tiba-tiba saja di rampok oleh tiga orang preman.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Cukup tenang saja dan percaya diri masalah akan datang menghampiri....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;strong&gt;27. EXT. DEPAN RUMAH SEORANG CEWEK: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Cowok berkaca mata tebal membawa bunga mawar putih hendak mengapeli cewek pujaannya, pada saat tiba di pintu pagar Rumah gadis dia harus menyaksikan sebuah kenyataan pahit yang mana sang pujaan sedang bermesraan dengan lelaki lain di teras rumahnya. Melihat semua itu sang cowok hanya bisa berdiri terpaku di pintu pagar and don’t know what supposed to do hanya berdiri dengan tubuh yang bergetar dan mata yang berkaca kaca, lalu petir menyambar nyambar, Hujan Turun, sebuah mawar putih terjatuh ke tanah, sebuah kaki menginjaknya dan perlahan lahan terkubur oleh tanah bercampur air.&lt;br /&gt;Sound Track : Menghapus Jejakmu “ Peter Pan”&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan&lt;br /&gt;Sebuah keinginan yang tidak terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;strong&gt;28. INT. KAMAR COWOK : NITE&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Cowok berkaca mata tebal sedang bersedih. Sambil menuliskan sebuah cerita dari pengalaman hidupnya di depan komputer.&lt;br /&gt;BIMO (V.O) :&lt;br /&gt;Dan Masalah terkadang menjadi sebuah kesempatan untuk mengerahkan kemampuan terbaik dari diri kita&lt;br /&gt;yang menghadirkan sebuah inspirasi  dalam berkarya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;strong&gt;29. INT. PRESS CONFERENCE/ LAUNCH PELUNCURAN BUKU: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cowok berkaca mata tebal memamerkan sebuah novel dengan judul “JOMBLO ANTARA PILIHAN DAN KETIDAKMAMPUAN” di hadapan pers.&lt;br /&gt;Next shot : Cowok berkaca mata tebal sibuk melayani permintaan tanda tangan oleh para penggemar bukunya yang menginginkan sampul dalam Bukunya ditanda tangani oleh sang pengarang. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;30. INT. LORONG GANG: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Latar Musik Bit Cepat&lt;br /&gt;Seorang anak kecil sedang berjalan tergopoh gopoh melewati sebuah gang, ketika ia melewatinya, ia di hadang dari depan dan belakang oleh segerombolan anak kecil lainnya yang menunjukkan gelagat sedang mengincar dirinya. Akhirnya ia memanjat tembok pagar untuk menghindar, sehingga dikira mencuri mangga oleh pemilik rumah. Akhirnya ia melompat kembali ke tengah Gang tadi dan menjadi bulan-bulanan dari beberapa anak kecil yang mengincarnya. Fade in Black screen dari suara rame tiba-tiba senyap fade out : anak kecil berjalan sendiri di tengah gang dengan rambut dan wajah berantakan,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIMO (V.O) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalah cenderung memaksa kita untuk mengambil sebuah pilihan.&lt;br /&gt;tiba-tiba dari atas pagar muncul pemilik mangga tadi dan melempari anak tersebut dengan sandal yang tepat mendarat di wajahnya, POV kamera subjektif - Black Screen-&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CUT TO BACK:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;31. INT. LARON KAFE: DAY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;CU Bimo menempelkan kedua telapak tangan di depan wajahnya seolah olah sedang merapal mantra dan kedua siku bertumpu ke meja perlahan Kamera menjauh dari bimo. memperlihatkan Mutiara dan juga Sheila.&lt;br /&gt;Saat ini, Aku berada di titik tengah dari sebuah persimpangan. Aku tidak ke kanan juga tidak ke kiri. Aku benar benar stuck, Stuck in the middle.&lt;br /&gt;CU Ekspresi dingin Sheila kemudian Mutiara.&lt;br /&gt;Ini tentang rasa sayang, rasa benci dan hal-hal kecil yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;CUT TO:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;32. EXT. KAMPUS: DAY&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Soundtrack : She “ Elvis Costello”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Mutiara dan kawan-kawannya sedang menggalang dana bantuan buat korban bencana alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Mutiara...adalah wanita terbaik yang pernah kumiliki..baginya hidup ini adalah bagaimana menjadi yang terbaik buat semua orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;33.INT. LOKET PEMBAYARAN SPP : DAY&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ia ibarat malaikat yang muncul disaat kau butuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Salah seorang cowok sedang keringat dingin mencari cari sesuatu di kantongnya dan dompetnya, duitnya kurang buat bayar SPP dan mendapat protes dari petugas dan orang yang antri di belakangnya .Tiba-tiba saja Mutiara yang kebetulan sedang melakukan pembayaran di loket seblah menawarkan bantuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Soundtrack Mengecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;MUTIARA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“duitnya kurang ya??”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;COWOK:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“eh ya tapi tadi ada sih ada saya taro di kantongku.. gmana nih duitku gak cukup buat bayar SPP mana hari ini terakhir lagi”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;MUTIARA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;(mengeluarkan sesuatu dari isi dompetnya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“nih pake aja dulu, gantinya ntar aja”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;COWOK:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“aduh mbak makasih banyak yah!! Tapi ini gak pa pa kan kalo aku balikin kapan kapan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;MUTIARA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“gak dibalikin juga gak pa pa koq, kita kan satu jurusan sante aja”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;COWOK:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“ooh untung ada mbak, kalo tidak,  saya gak tau apa kata orang tuaku di kampung kalau tau sebenarnya sebahagian uang SPP yang telah dia berikan saya gunakan untuk mentraktir cewek cewek nonton!!!!, makasi yah...makasi....” Mbak MuTiara ibarat Dewi Kwan Im bagiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;MUTIARA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tersenyum maklum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“ah biasa saja....”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Insert Tiara pergi meninggalkan loket diiringi tatapan kagum oleh beberapa mahasiswa yang sedang mengantri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;itulah yang selalu keluar dari mulutnya ketika ada orang lain yang memujinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Mutiara senantiasa hadir bila ada orang mengalami kesusahan atau membutuhkan bantuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;dan disitulah pertama kali aku melihatnya......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soundtrack :Accidently in Love “Counting Crows”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Mutiara sedang mengikuti Bakti sosial di sebuah daerah kumuh dan pada saat yang bersamaan Bimo sedang Hunting  foto juga di daerah tersebut. Secara tak sengaja ia tertarik pada objek Mutiara hingga memotretnya berkali kali  secara ekstrim. Insert Gambar Mutiara mendapati dirinya sedang menjadi target lensa kamera Bimo dan ia hanya melemparkan senyum tipis membuat Bimo seperti orang yang terkena peluru nyasar dan terjungkal ke  dalam kanal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;cut to Gambar Mutiara sedang memberi handuk kepada bimo dan memberi satu stel pakaian untuk BAKSOS kepada Bimo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;34. INT. KANTIN: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sound Track : Sally “Peter Pan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Seorang cewek membawa pesanan makanan menuju sebuah meja. Seorang cewek berbalik mengarah ke kamera setelah menjelaskan sesuatu kepada sahabatanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ini dia cinta pertamaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Namanya.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ada seorang cewek yang memanggil namanya. Ia berbalik dan mereka langsung cipika-cipiki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CEWEK I:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“Sheila..!!!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sheila berbalik dan tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SHEILA :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“hai..!!!! pa kabar???, dari mana aja koq gak pernah muncul??”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Si cewek langsung duduk disamping Sheila.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CEWEK I:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;(sambil meletakkan tasnya di atas meja)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“biasa sibuk skripsi, ntar lagi kan ujian meja”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;baginya hidup ini hanya sekali jadi harus dinikmatin... satu hal yang membuatku tidak bisa melupakannya yaitu dengan seringanya kami melakukan hal-hal yang gila.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;35. INT. RUMAH BERNYANYI: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Karaoke bareng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;36. INT. GAMEZONE: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Main game&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;37. INT. DIATAS GEDUNG: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Nongkrong bareng di atas gedung melihat sunset&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tunggu dulu.........aku kenalan pertama kali dengan Sheila di......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Musik Menghilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;38. INT. VIDEO EZY: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimo terburu-buru masuk di sebuah rental vcd, ia mencari film the inside man. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;BIMO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“mbak! The inside mannya ada??”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PELAYAN VCD:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;(sambil menunjukkan ke samping kanan bimo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“nih baru aja dipinjem sama mbaknya”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tepat disamping bimo, seorang cewek berparas cantik (Sheila) sedang menunggu film-filmnya. Ditangannya telah ada kaset the inside man. Bimo terkejut dan.......adegan demi adegan...pun terjadi..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sheila ternyata juga seorang gila film. Koleksi film-film di raknya lumayan, mulai dari yang bajakan hingga yang asli. Mulai dari film hollywood hingga film bollywood. Salah satu sutradara favoritnya adalah spike lee yang juga sama denganku. Really i’dont believe it!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Setelah melakukan negosiasi akhirnya ia mendahulukan aku meminjamnya. Tapi dengan syarat, harus menjawab tiga pertanyaan darinya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SHEILA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“siapa sutradara dari film ini?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;                VO Bimo :Dan tentunya aku sudah tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;BIMO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“spike lee, next question!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SHEILA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“dari mana asalnya?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;BIMO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“afro-amerika, last question??”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SHEILA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“mmm....sebutkan salah satu filmnya yang mendapat pengahargaan di......?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;VO Bimo : Saya nggak menyangka Sheila begitu tau tentang sutradara ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;BIMO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“ok...film ini juga yang.............judulnya do the right thing!!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sheila hanya tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;VO Bimo : Bingo!!! Dan sejak peristiwa ini, aku dan Sheila sering jalan bareng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dan sejak persitiwa ini aku harus membagi waktu antara Mutiara dan Sheila.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;39. EXT. PERKAMPUNGAN KUMUH: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sound Track “ Kesalahan yang Indah “ Audi Feat Numata”    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimo dan Mutiara sedang berdua mengunjungi perkampungan kumuh dan memberi bantuan kepada orang-orang di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;40. EXT. KANTIN: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimo dan Sheila sedang berduaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;41. EXT. KORIDOR KAMPUS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimo sedang jalan sendiri, tiba-tiba muncul Mutiara dari arah kanan dan muncul Sheila dari arah kiri..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dan disinilah sumber dari kekacauan itu..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Karena hidup selalu memberikan kejutan baru..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;42. INT. LARON KAFE: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;kini mereka telah dipertemukan, sebuah pertemuan yang seharusnya jangan pernah terjadi buat tipe laki-laki sepertiku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;jika kau bertanya mengapa pertemuan ini terjadi aku tidak bisa menjawab...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Jantungku berdegup kencang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SE : Suara jantung yang berdetak kencang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;43. EXT. PACUAN KUDA: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;lebih kencang dari pacuan kuda .....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;44. INT. GAME ZONE: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;lebih kencang dari Roller coaster&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;45. EXT. SIRKUIT GP: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;moto gp,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;46. EXT. SIRKUIT F1: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;F1,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;47. insert film&lt;/span&gt; flash gordon sedang berlari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“hingga flash gordon”  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO BACK:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;48. INT. LARON KAFE: DAY&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ini adalah bagian terberat dalam hidupku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimbang, ragu, gelisah, takut, sayang, benci, cinta, harapan, ibarat adonan kue yang diaduk dengan MIXER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Seorang KOKI kafe sedang menggunakan MIXER.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;pikiranku terpecah belah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;(seorang pelayan sedang membelah semangka)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;mereka telah mengambil 1/3 bagian isi dari kepalaku....(seorang pelayan sedang mengeluarkan isi Alpokat untuk dijadikan Juz)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;hidupku jadi berantakan...(Alpokat dimasukkan ke dalam blender dan dibuat hancur berantakan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;membuat isi kepalaku ingin meledak....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Cut To          “plushshshshs....!!!!!!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;BCU botol minuman soda terbuka, seorang pelayan baru saja membukanya dan menuangkannya ke dalam gelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku terdiam....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;kami terdiam....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;hening...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;tenang...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sepi dan sunyi....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi setelah ini...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;mencoba berpikir jernih....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;mengedepankan logika....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;membunuh perasaan....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku kehabisan kata-kata...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;tak bisa bicara.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;menatap mereka silih berganti....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku merasa aku menjadi bagian dari the death of social.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku nggak tahu apa yang ada di isi kepala Mutiara, juga Sheila....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sepertinya mereka marah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sangat marah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sepertinya mereka membenciku.....sangat benci..seperti aku membenci MLM, penjual bazar, stiker, kalender, dosen yang sibuk menjadi selebritis dan jarang masuk ngajar (insert Republik Mimpi CU effendi gazali) mati kiri, , sweeping kendaraan yang merangsang polisi untuk korupsi berjamaah,(insert suasana sweeping)hingga duduk di kursi pembicara dalam sebuah Angkot (insert Bimo sedang duduk di kursi pembicara dalam sebuah angkot sembari ditatapi semua penumpang dan ada di antara mereka yang berbisik bisik seolah olah membicarakan Bimo -BCU ekor mata Bimo menangkap gelagat tersebut)   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cut To :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kafe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;BCU Ekor mata Bimo memandang Mutiara dan Sheila secara bergantian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Mutiara tetap terlihat dewasa.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sheila tetap anggun......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Dan aku semakin hancur...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kini tiba saatnya aku harus memilih.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“Aku cukup sadar, bahwa aku tak mungkin memiliki keduanya, Aku juga tak bisa jika tidak memilih....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Black screen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Yang kupilih adalah yang terbaik buat kita semua”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sound effects&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tamparan di pipi 2x&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;bunyi lemparan air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;suara kursi yang digeser&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;sound track : “ aku cinta kau dan dia” Ahmad Band&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sheila kemudian pergi di susul oleh Mutiara. Ekspresi bimo menahan sakit dan sedih. Para pengunjung kafe dan pelayan menatap tajam ke arahnya. Tiba-tiba Sheila balik dan menamparnya sambil menghabiskan minumannya lalu pergi kembali. Bimo semakin terpuruk. Tiba-tiba pelayan datang sambil menyerahkan bon kepada bimo. Bimo berdiri dan membanting meja yang ada di hadapannya melihat gelagat itu pelayan memberi Bon baru sebagai pengganti kerusakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;49. EXT.DI ATAP GEDUNG: AFTERNOON&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;bimo seorang diri terdiam dan merenungi nasibnya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;C&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;55. EXT. JALAN RAYA: NITE&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;1.  kesibukan lalu lintas jalan raya menjelang malam hari.(mobil, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;   motor dan orang-orang yang lewat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;2.  lampu merah jalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;3.  papan-papan reklame&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;4.  neon box yang mulai menyala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;5.  deretan lampu jalanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;56. EXT. JEMBATAN PENYEBRANGAN: NITE&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimo berdiri sendirian diatas jembatan penyebrangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;CUT TO:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Bimo turun dari jembatan penyebrangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;VO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;2 hal penting yang harus aku lakukan sejak semuanya ini berakhir melanjutkan hidupku dan mengambil pelajaran dari semua ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;kita tidak pernah tau, bahwa mungkin orang-orang yang kita jumpai setiap hari selama ini salah satu diantaranya adalah jodoh kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sound Track : I’LL Be “ Eric B.Mclain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;Black screen Credit Title&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-78100472739206812?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/78100472739206812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/78100472739206812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/09/antara-diriku-dirinya-dan-dirinya-its.html' title='ANTARA DIRIKU, DIRINYA DAN DIRINYA (Its About Love, Hate and Everythings Between&quot;'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-6793615546283477584</id><published>2008-09-05T01:18:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T01:19:06.107-07:00</updated><title type='text'>PILKADA DEMOKRASI YANG MEMBUNUH BANGSA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;coming soonn...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-6793615546283477584?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/6793615546283477584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/6793615546283477584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/09/pilkada-demokrasi-yang-membunuh-bangsa.html' title='PILKADA DEMOKRASI YANG MEMBUNUH BANGSA'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-445451654706258300</id><published>2008-09-03T22:58:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T01:14:47.678-07:00</updated><title type='text'>Menafsir Politik, Menyingkap Makna (Bravo Bung Syaiful ) * taken from MYD</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SL97V69YhZI/AAAAAAAAAEU/XyNibNPJF_U/s1600-h/SM.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SL97V69YhZI/AAAAAAAAAEU/XyNibNPJF_U/s400/SM.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242044107816732050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;SAIFUL Mujani di mataku adalah pengamat politik yang hebat. Cara berpikirnya jernih dan tidak mau terjebak dengan fenomena politik yang gampang berubah. Fenomena yang gampang berubah itu, hanyalah di permukaan dari realitas yang sebenarnya. Jika potongan fenomena politik itu diibaratkan sekeping &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;puzzle,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; maka Saiful sanggup menautkan semua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;puzzle&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; itu menjadi satu bangunan yang jelas dipahami. Ia bisa menyingkap makna dan membuka mata publik apa sesungguhnya yang terjadi.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya menarik kesimpulan itu setelah menyaksikan komentarnya dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Today’s Dialogue&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Metro TV  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;beberapa malam yang lalu, setelah sebelumnya aku pernah melihatnya mengajar sebagai dosen tamu pada program komunikasi politik UI.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;acara dialog pada malam itu menghadirkan pembicara dari PDI (saya lupa namanya), Fahri Hamzah (PKS), serta Priyo Budi Santoso (Golkar). Sejak awal, saya sudah jenuh dan muak ketika masing-masing pembicara itu membahas rencana koalisi. Semua berapi-api membahas fenomena kedatangan Taufik Kiemas ke hajatan Golkar, kemudian Kiemas ke PKS. Semua pembicara itu sama mengatakan bahwa rencana koalisi itu demi membentuk pemerintahan yang stabil, demi menguatkan agenda kepentingan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang paling bersemangat adalah Fahri Hamzah dari PKS. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Sudah saatnya kita meninggalkan kategorisasi politik yang sudah usang dari antropolog Clifford Geertz yang melihat abangan santri dan priyayi. Kategori aliran ini kemudian diterjemahkan Herbert Feith menjadi Islam, nasionalis, serta moderat. Kategori ini sudah usang dan memecah-belah kekuatan politik kita. Buktinya, PKS yang berhaluan Islam bisa duduk bersama Golkar serta PDIP yang berhaluan nasionalis. Marilah kita melakukan redefinisi dan membumikan kategori politik tersebut. Buktinya, kekuatan politik bisa bersatu,”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; katanya dengan semangat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Saya agak tertegun mendengar komentarnya. Saya rasa semakin ia mengkritik Greetz, semakin ia terjebak dalam kategori yang diciptakan Geertz. Bahasanya mengkritik, namun sesungguhnya hanyalah sebuah afirmasi atau pembenaran tentang watak politik kita yang terbelah dalam beberapa kekuatan. Tiba-tiba ia bicara tafsir koalisi.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa komentar Saiful? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Saya kira itu cuma permukaan saja. Partai politik kita suka kumpul-kumpul tanpa agenda yang jelas. Mereka suka bikin kerumunan, tanpa tahu hendak di bawa ke mana bangsa ini. Jujur saja, mereka cuma mau dagang sapi saja kok. Saya kira, wacana koalisi itu berawal dari kekhawatiran bahwa mereka akan kalah dalam Pemilu mendatang. Mereka mau menyatukan kekuatan demi menantang SBY dalam pemilihan mendatang,”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Tapi Pak Saiful, PKS punya agenda dan warna yang jelas demi meningkatkan kesejahteraan umat,”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; kata Fahri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Ah, itu kan cuma menjadi jargon saja di permukaan. Selalu saja ada jarak antara visi ideal dan praksisnya di lapangan. Hari ini menyatakan mendukung wacana ekonomi kerakyatan, tiba-tiba besoknya mendukung kebijakan pemerintah yang menerima kenaikan harga BBM. Itu kan sama saja bohong kepada publik. Trus pernyataan yang mengatakan partai politik duduk bersama, itu makin menunjukkan tidak jelasnya partai. Kalau semua sama, ngapain bikin partai beda. Mendingan dibubarkan saja dan gabung dalam satu bendera. Mestinya visi dipertegas dalam tindakan,”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; kata Saiful&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Koalisi ini bukan untuk kepentingan pragmatis. Kami mau membangun rencana jangka panjang,” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;kata Priyo dari Golkar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Sebagai rakyat, kita tidak pernah menyaksikan koalisi yang permanen dan bertahan lama. Pemilu lalu, Golkar mendukung Mega sebagai presiden. Tiba-tiba, begitu Mega kalah dan SBY yang menang, Golkar berbalik haluan dan mendukung SBY. Sebagai rakyat, kita terus saja dibohongi partai politik yang sibuk kumpul-kumpul tanpa agenda yang jelas. Saya kira semuanya didorong oleh kepentingan pragmatis dan sesaat untuk Pemilu saja,”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; kata Saiful.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Yang paling jelas adalah PDIP. Kami menolak kenaikan BBM dan menolak impor beras,” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;kata tokoh partai PDIP.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;“Saya kira sama saja. Pada zaman Mega jadi presiden, harga BBM juga dinaikkan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt; Tapi waktu itu kan tidak seberapa,” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;lanjut tokoh PDIP itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“Sama saja kok. Malah, sekarang rakyat dapat kompensasi. Sementara dulu sama sekali tidak ada. Saya kira anda semua cuma bermain pada retorika saja kepada rakyat. Mendingan, koalisi ini buka-bukaan saja. Kalian terus-terang saja apa maunya. Kalau Golkar mau majukan ketuanya sebagai presiden, yah dikomunikasikan saja sama PDIP. Demikian pula PDIP, kalau mau ngincar Pak Kalla jadi wapres, buka-bukaan saja. Nggak usah berlindung di balik retorika kepentingan rakyat. Saya kira itu lebih fair kepada rakyat,”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; kata Saiful.(*MYD)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-445451654706258300?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/445451654706258300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/445451654706258300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/09/menafsir-politik-menyingkap-makna-bravo.html' title='Menafsir Politik, Menyingkap Makna (Bravo Bung Syaiful ) * taken from MYD'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SL97V69YhZI/AAAAAAAAAEU/XyNibNPJF_U/s72-c/SM.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-5164075118422160466</id><published>2008-06-06T01:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:44:22.055-08:00</updated><title type='text'>JAVANESE VOTERS (Review Atas Penelitian Affan Gaffar)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SEj4T_WCYAI/AAAAAAAAAD0/3i98WxEYRpc/s1600-h/10_23_012905_iraq2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208685991359045634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 209px; CURSOR: hand; HEIGHT: 252px" height="359" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SEj4T_WCYAI/AAAAAAAAAD0/3i98WxEYRpc/s400/10_23_012905_iraq2.jpg" width="279" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Indonesia memulai sistem demokrasi perwakilan melalui pemilu pertama 1955. Pemilu ini diikuti banyak partai namun tidak ada parpol yang dapat meraih suara mayoritas yang penting dalam membentuk pemerintahan. Tiga pemilu berikutnya 1971, 1977, 1982 di bawah rejim Orba, partai pemerintah Golkar muncul sebagai mesin politik yang mendominasi seluruh proses politik di Indonesia. Sayangnya, dari fakta yang ada pemilu semasa Orba diselenggarakan dalam atmosfir yang tidak demokratis, yang diwarnai banyak intimidasi dan pelecehan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namun yang menarik, di sejumlah daerah di Jawa, masyarakatnya secara konsisten bertahun-tahun mendukung partai non-pemerintah. Mengapa bisa demikian? Apa faktor pendorong yang mempengaruhi dan menuntun pembuatan keputusan individual masyarakat di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerangka Analisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Model Barat bisa dipakai untuk menjelaskan pola umum perilaku individu dengan memperhatikan basis sosialnya, seperti agama, kelas, pekerjaan, dan sejenisnya (Sosiologi Politik), juga dengan meneliti perkembangan psikologis individu yang terkait dengan perilaku memilih (Psikologi Politik). Untuk kasus perilaku politik Indonesia terdapat dua tipe analisis. Analisis pertama yang implisit adalah pola orientasi sosio-relijius-nya Geertz (1960; 1965) yang menemukan pola santri-abangan; kedua, yang eksplisit, pola hubungan pemimpin dan pengikut-nya Jackson (1978; 1980) melalui penelitian mengenai keterlibatan individu dalam Darul Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Perspektif Aliran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di pedesaan Jawa, sebagaimana di negara Dunia Ketiga, stratifikasi sosial yang berdasarkan kelas tidak dikenal. Orang Jawa hanya mengenal dua lapisan individu: wong cilik (“orang kecil”) dan wong gedhe (orang yang menduduki jabatan birokrasi atau priayi).&lt;br /&gt;Geertz menjelaskan pengertian aliran sebagai berikut: Desa di Jawa kebanyakan terbentuk dalam pola aliran. Aliran terdiri dari parpol yang dikelilingi oleh organisasi2 yang secara formal atau informal terhubung dengannya dan memiliki arah dan pendirian ideologi yang sama. Aliran lebih daripada parpol atau sekadar ideologi. Ia sudah menjadi suatu pola integrasi sosial. Konsep aliran mengacu pada cara berpikir orang Jawa khususnya yang didasarkan pada pola relijius-kultural yang dinyatakan dalam trikotomi santri, abangan, dan priayi.&lt;br /&gt;Santri adalah orang yang orientasi hidupnya adalah seperangkat keyakinan, nilai, dan simbol2 yang utamanya didasarkan pada ajaran Islam. Abangan adalah orang yang bersandar pada tradisi Jawa yang dipengaruhi elemen jaman pra-Islam atau dikenal dengan nama Kejawen. Priyayi sebenarnya termasuk dalam kelas sosial masyarakat Jawa yang berkarakter birokratis dan tidak banyak berada di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Otoritas Tradisional&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Paternalisme merupakan fenomena umum dalam masyarakat Jawa. Menurut analisis Jackson, konsep otoritas tradisional ialah: praktek kekuasaan personalistik yang terakumulasi melalui pengaruh masa lalu dan sekarang yang mengambil peran sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai, dan pemegang status yang tinggi dalam hubungan ketergantungan yang telah diciptakan. Jackson menjelaskan otoritas tersebut sebagian dengan merujuk pada hubungan patron-klien dalam masyarakat yang vertikal, diadik, dan asimetris. Disebut tradisonal karena praktek tersebut telah berlangsung turun-temurun.&lt;br /&gt;Analis politik Indonesia, Harry Tjan Silalahi, mengkonkretkan konsep di atas. Menurutnya, salah satu faktor utama yang menjelaskan sikap pemilih Indonesia ialah dominasi peran otoritas tradisional yang dinyatakan dalam bentuk paternalisme “bapakisme” (1977). Hubungan ini pada dasarnya adalah pertukaran hak dan kewajiban, yaitu antara perhatian dan perlindungan yang diharapkan dari bapak untuk anak2nya, dan- karenanya- hak bapak mendapatkan hormat dan kepatuhan dari mereka. Ia membedakan tiga tipe pemimpin di pedasaan yang berperan signifikan dalam pemilu, yaitu: pemimpin formal, tradisional, dan agama. Karena pemimpin formal bisa juga sekaligus pemimpin agama, dalam pengklasifikasian kepemimpinan lebih tepat digunakan konsep aliran-nya Geertz. Sebab loyalitas dan kepatuhan pengikut menuruti garis aliran, yang membuat seorang santri, misalnya, hampir tidak mungkin mematuhi perintah pemimpin abangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Variabel Memilih di Pedesaan Jawa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Keyakinan Sosio-relijius.Kaum akan mendukung dan memilih parpol Yang secara ideologi berasaskan Islam, dan kaum abangan mendukung parpol non-Islam Identifikasi Partai dan Pilihan Partisan. Di Jawa, proses &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;sosialisiasi berlangsung dalam keluarga sebab anak2 Jawa sangat d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ilindungi keluarga dan kerabatnya. Kaum abangan cenderung &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;terlibat dalam aktivitas yang merefleksikan dunia Jawa-Hindu dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;organisasi nasionalis secular. Kaum santri cenderung beraktivitas d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;i dunia Islam dengan memasuki pesantren atau orsospol Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;- Pola Kepemimpinan. Di pedesaan Jawa, tipe karismatik (yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;menurut Weber, didapat dari keyakinan bahwa pemimpin memiliki &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;kekuatan batin dan kualitas istimewa yang tidak dipunyai orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;biasa, seperti kekuatan supranatural) disediakan oleh pemimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;formal di dalam birokrasi seperti lurah dan di luar birokrasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;seperti kyai, guru, atau dukun. Pemimpin formal tidak memiliki &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;kualitas kepemimpinan dan –karena itu- pengaruh setinggi pemimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;informal. Kelas dan Status Sosial. Menurut Sartono kartodirdjo (1972) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;stratifikasi sosial Jawa terbagi berdasarkan kepemilikan tanah: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;kuli kenceng (tuan tanah), kuli setengah kenceng (petani &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;penyewa), kuli ngindung tlosor (buruh tani), dan wong ngindung &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(yang hidup di tanah orang). Pengaruh kelas tidak banyak, namun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;merupakan dimensi penting dalam hubungannya dengan birokrasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Semakin besar individu menguasai tanah, semakin ia tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;tergantung pada birokrasi dan karenanya tidak tunduk pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;intimidasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Hasil Penelitian Perilaku Memilih Orang Jawa&lt;br /&gt;Negara Otoritarian dan Sistem Kepartaian Hegemonis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Lingkungan politik adalah hal pertama yang perlu diatasi pemilih sebelum membuat keputusan mendukung dan memberi suara kepada partai tertentu. Para peneliti berpendapat sama bahwa pemerintahan Orde Baru adalah rejim yang tidak demokratis. Kalaupun pemilu diselenggerakan, itu hanya dijadikan sebagai ajang legitimasi kekuasaan. Setelah Golkar- partai yang disponsori militer- meraih mayoritas suara pada pemilu 1971, rejim Orba beroleh kesempatan besar untuk menjalankan sistem kepartaian hegemonis. Sedangkan Golkar menjadi mesin politik utama yang mengontrol seluruh spektrum politik di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat faktor yang berkontribusi menciptakan sistem kepartaian hegemonis itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Penciptaan aparatus represif untuk mengamankan stabilitas politik. Aparat yang termasuk di dalamnya ialah Kopkamtib, Bakin, OPSUS, dan Dirjensospol.&lt;br /&gt;2. Proses depolitisasi komunitas untuk mengimplementasikan kebijakan pembangunan ekonomi. Termasuk di dalamnya aplikasi loyalitas tunggal pegawai negeri dan kebijakan massa mengambang di pedesaan.&lt;br /&gt;3. Pengebirian parpol dan restrukturisasi parpol&lt;br /&gt;4. Penciptaan UU pemilu dan proses pemilu yang mengamankan partai pemerintah agar tetap menjadi pemenang dalam tiap pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perilaku Memilih dari Perspektif Aliran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aliran sangat penting di kehidupan politik Indonesia karena ia merupakan sumber fragmentasi politik dan sosial di negara yang kaya dengan beragam etnis, bahasa, dan agama ini. Sistem multipartai yang dicoba pada tahun 1950-1959 melibatkan partai2 yang diorganisasikan berdasarkan garis aliran. Periode berikutnya yang tidak lagi menganut sistem kepartaian, di bawah Demokrasi Terpimpin-nya Soekarno, konsep Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme) dijadikan pilar utama. Dan sejak 1971 ketika Golkar muncul sebagai partai hegemonis, restrukturisasi partai masih dialaskan pada prinsip aliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Santri-Abangan dan Perilaku Politik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada satu ekstrim, kaum abangan yang kuat memahami Islam hanya sebagai aktivitas seremonial dalam suatu komunitas. Menurut abangan ini, ummat atau komunitas Islam dan organisasi Islam dipandang lebih seperti musuh daripada sekutu. Sementara di ekstrim lainnya, kaum santri yang kuat memahami Islam bukan hanya sebagai sistem kepercayaan, melainkan juga sebagai ajaran yang diperlukan untuk mengatasi dunia modern. Menurut mereka kaum abangan-priyayi mirip seperti orang kafir.&lt;br /&gt;Penelitian di Brobanti menunjukkan peran lembaga agama seperti masjid dan langgar sangat kuat di antara kaum santri dan sebaliknya berlaku di kalangan abangan. Lembaga agama adalah unit paling dasar dalam pendidikan kaum santri. Sementara kaum abangan tidak memiliki lembaga semacam itu. Bahkan mereka enggan pergi ke pertemuan2 di langgar atau masjid karena mereka menganggap langgar sebagai milik komunitas santri. Dalam lembaga ini terjadi ikatan yang erat antara pemimpin agama (kyai, haji) dengan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Orientasi Sosio-Relijius dan Perilaku Memilih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian di Brobanti, 72% responden yang mengidentifikasi diri dengan partai Islam mengatakan bahwa orangtua mereka juga mengidentifikasi diri dengan partai yang sama, dan 74% yang dengan non-partai Islam memperlihatkan kecendrungan serupa. Hal ini diterjemahkan ke dalam pilihan partisan dalam pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi ini terutama menjelaskan bahwa di pedesaan Jawa, orang cenderung memilih berdasarkan keyakinan sosiorelijius. Yakni kaum santri lebih memilih partai Islam, dan abangan, partai yang tidak menganjurkan keyakinan Islam, seperti PDI. Dari pemilu 1971 dan 1977 dilaporkan kecenderungan yang sama perihal pilihan responden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alasan Memilih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara pemilih PDI, tampaknya tidak terdapat alasan ideologis yang jelas. Sekitar 32% responden memilih PDI dengan alasan karena tidak suka PPP dan Golkar. Maka ada kecenderungan di antara pemilih PDI yang anti kemapanan pemerintah dan partai Islam. Alasan lainnya memilih PDI karena tekanan pertemanan, yaitu untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain. Alasan ketiga, karena warisan kejayaan Soekarno masih popular di kalangan pemilih PDI.&lt;br /&gt;Alasan utama responden memilih Golkar karena citranya sebagai partai pemerintah. Data di Brobanti menunjukkan hampir 40% responden memilih Golkar karena mengikuti jejak pemimpin mereka, yakni lurah, kepala dukuh, dll. Mereka ingin mengidentifikasikan diri dengan pemimpin mereka. Peran kepala dukuh sangat besar dalam memobilisasi massa, sebab 22% pemilih Golkar mengatakan mereka diminta untuk itu. Golkar juga diuntungkan karena diasosiasikan dengan Sultan Yogyakarta, yang adalah ketua Golkar Yogyakarta.&lt;br /&gt;Pengikut partai Islam (PPP) adalah responden yang terlihat paling ideologis. Hampir 33% responden memilih PPP karena merasa memilih partai Islam merupakan keharusan selaku Muslim. Sepertiga pemilih PPP juga mengatakan mereka memilih karena diminta pemimpin mereka. Pemimpin Islam mampu meyakinkan pengikutnya bahwa memilih partai Islam itu bagian dari ibadah. Alasan lainnya mereka memilih karena mengikuti tradisi keluarga. Sekitar 22% pemilih memiliki orangtua yang berasal dari kelompok Muslim santri yang taat, yang secara tradisional memilih partai2 Islam, dari Masyumi ke Parmusi lalu ke PPP, atau dari NU ke NU lagi dan kemudian ke PPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepemimpinan dan Perilaku Memilih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 68% responden yang terikat pada pejabat desa akan lebih memilih partai pemerintah (Golkar), dan sekitar 53% mereka yang terikat pada pemimpin agama akan lebih mendukung partai Islam (PPP). Bila orientasi sosio-relijius dijadikan faktor kontrol dalam analisis ini, sekitar 86% responden abangan yang terikat pada pejabat desa memilih Golkar, dan hampir setengah jumlah santri dari kategori yang sama memilih PPP. Makin jelas lagi, 59% santri yang terikat pada pemimpin agama memilih PPP&lt;br /&gt;Di Sukamulya yang pemimpin informal-nya sangat berpengaruh, 71% santri yang terikat pada pemimpin Islam memilih partai Islam. Partai pemerintah tidak pernah dapat menembus komunitas santri di desa ini, karena itu Golkar tidak pernah menang. Di Sukaramai yang pemimpin formal-nya kuat berpengaruh dan mendukung Golkar, partai2 oposisi selalu kalah. Misalnya 61% santri yang terikat pada pemimpin agama memilih Golkar, dan di Sukadamai 72% santri yang terikat pada pemimpin agama memilih partai Islam. Di desa ini pula 63% santri yang terikat pada pejabat desa memilih Golkar. Mengapa demikian, karena mayoritas pejabat desa di tiga desa ini adalah santri juga. Jadi ideologi memainkan peran penting dalam menghubungkan perilaku antara pemimpin politik dan konstituennya. Temuan ini membantah argumen Karl Jackson tentang tidak adanya hubungan ideologi dalam hal itu, dan sekaligus menguatkan teori Geertz tentang aliran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-5164075118422160466?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/5164075118422160466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/5164075118422160466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/06/javanese-voters-review-atas-penelitian.html' title='JAVANESE VOTERS (Review Atas Penelitian Affan Gaffar)'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SEj4T_WCYAI/AAAAAAAAAD0/3i98WxEYRpc/s72-c/10_23_012905_iraq2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-7455755150495914082</id><published>2008-05-26T11:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:44:22.201-08:00</updated><title type='text'>KAJIAN KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF MARXISME</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDsCBPOw4_I/AAAAAAAAADk/07yJ_3j_-qE/s1600-h/km-fe.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204756014648321010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 176px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px" height="274" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDsCBPOw4_I/AAAAAAAAADk/07yJ_3j_-qE/s400/km-fe.jpg" width="228" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah satu perspektif yang momotret perkembangan masyarakat dan budaya modern secara kritis adalah kajian komunikasi yang bersumber dari ajaran Karl Marx (1818-1883), yang kemudian disebut Marxisme.Dalam perkembangannya, Marxisme diadopsi oleh beberapa kelompok intelektual untuk menganalis masyararakat kapitalis modern. Maka muncullah beberapa perspektif kritis dalam kajian komunikasi, diantaranya; teori ekonomi politik media, mazhab Frankfurt, hegemoni, dan cultural studies. Perspektif tersebut ada yang berada dalam tradisi marxis-materialis yang menekankan faktor ekonomi dan ada juga yang berusaha menjelaskan selubung ideologi (superstruktur) dalam komunikasi.Marxisme –kata ini dipopulerkan Friedrich Engels (1820-1895) rekan Karl Marx– sebenarnya mengandung interpretasi yang sangat luas. Hal ini disebabkan karena Marxisme selain merujuk langsung kepada pemikiran Karl Marx sendiri, juga karena Marxisme pada perkembangannya telah menjadi payung sekaligus identitas bagi sederet dinamika pemikiran kritis yang berada di bawah pengaruh Karl Marx. Menurut Franz Magnis Suseso Marxisme adalah ideologi atau teori tentang ekonomi dan masyarakat yang memuat apa yang dalam perlbagai aliran yang bernaung di bawahnya dianggap sebagai ajaran resmi dan definitif Marx. Maka Marxisme lebih sempit dari ajaran Marx. Dalam catatan Everet M. Rogers, sebagaimana dikutip Stephen W. Littlejohn dalam Theories of Human Communication, pada abad ke-20 ajaran Karl Marx telah memengaruhi hampir semua cabang ilmu sosial, meliputi sosiologi, pilitik, ekonomi, sejarah, filsafat dan termasuk di dalamnya ilmu komunikasi. Pengaruh Marx dalam kajian komunikasi terutama bersumber dari analisisnya mengenai industri kapitalis dimana terjadi pertentangan antara kaum proletar dan buruh. (Littlejohn, 2001:210)Secara teoritits salah satu ajaran Karl Marx menjelaskan relasi antara basis dan superstruktur (base-superstructure) dalam masyarakat. Basis material dari kegiatan manusia menurut Karl Marx yaitu ekonomi atau kerja. Sementara superstruktur kesadarannya berupa ideologi, ilmu, filsafat, hukum, filsafat, plitik, dan seni. Di antara dua entitas tersebut yang dominan dan menentukan adalah basisnya. Maka basislah yang menentukan superstruktur. Dalam bahasa lain, basis sebagai sebuah realitas menentukan kesadaran manusia. Dengan demikian perbedaan cara produksi niscaya menghasilkan perbedaan kesadaran. (Budi Hardiman, 2004: 241).Karl Marx melihat dalam masyarakat kapitalis dimana hak milik atas alat-alat produksi dikuasai oleh beberapa gelintir orang saja (kaum borjuis) terjadi dominasi kaum borjuis atas kaum proletar. Dalam kondisi inilah terjadi penghisapan manusia atas manusia lainnya. Individu-individu yang tertindas itu akhirnya merasakan keterasingan karena tidak memiliki hak milik atas barang. Bahkan menurut Marx individu bukan saja terasing dari lingkungannnya tapi juga dari barang yang diciptakannya. (McLelland, 1977: 78).Mengikuti alur pemikiran di atas, maka jika diandaikan dalam komunikasi dapat digambarkan bahwa media massa sebagai industri informasi yang hanya dikuasai oleh segelintir orang (pengusaha media massa) yang memiliki kepentingan ideologis, mengeksploitasi para pekerja media untuk menghasilkan informasi sesuai dengan ideologi pemiliknya. Maka para pekerja media kemudian akan terasing karena ia tidak memiliki atau hanya mendapatkan sedikit keuntungan dari industri tersebut. Selanjutnya masyarakat atau komunikan mau tidak mau mengkonsumsi media massa dan mereka hanya menjadi pembaca, pendengar atau penonton yang pasif sehingga ideologi yang dibawa oleh media merasuki masyarakat, dan masyarakat bertindak sesuai dengan apa yang digambarkan atau dicontohkan oleh media massa. Pada titik ini media sebagai realitas menentukan kesadaran masyarakat. Dan kesadaran yang dihasilkan oleh media massa adalah kesadaran palsu (false conciousness).Terkait dengan kajian komunikasi, khususnya kajian media, secara historis, pada zamannya, sebenarnya Marx belum menyaksikan media massa yang pengaruh dan dominasinya begitu kuat seperti yang terjadi pada masyarakat modern. Meski demikian bukanlah mustahil jika melalui teorinya dapat dilakukan penelitian secara kritis terhadap media massa. Dalam perspektif Marxian media massa dipandang sebagai alat produksi yang disesuaikan dengan tipe umum industri kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya. (McQuail, 1987: 63).Media sebagaimana telah dijelaskan di atas, cenderung dimonopoli oleh oleh kelas kapitalis untuk memenuhi kepentingan dan ideologi mereka. Mereka melakukan eksploitasi pekerja budaya dan konsumen secara material demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mempertahankan kedudukannya, mereka melarang adanya ideologi lain yang akan mengganggu kepentingannya. Contoh yang mudah adalah keluar/dikeluarkannya Sandrina Malakiano dari Metro TV karena mengenakan jilbab. Mobilisasi kesadaran semacam itu dihindari oleh kaum kapitalis, karena itu mereka menerapkan kebijakan yang ketat dan terorganisir secara rapi. Dalam kerangka pikir ini, media massa sebagai alat dari kelas yang dominan untuk mempertahankan status quo yang dipegangnya dan sebagai sarana kelas pemilik modal berusaha melipatgandakan modalnya. Media yang cenderung menyebarkan ideologi dari kelas yang berkuasa akan menekan kelas-kelas tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh Marx dan Engels :The ideas of the ruling class are in every epoch the ruling ideas, i.e. the class which is the ruling material force of society, is at the same time its ruling intellectual force. The class which has the means of material production at its disposal, has control at the same time over the means of mental production, so that thereby, generally speaking, the ideas who lack the means of mental production aresubject of it (Marx and Engels dalam Storey [ed],1995 : 196).Pandangan yang dijelaskan di atas terkesan mereduksi segala sebab persoalan kepada masalah ekonomi. Pandangan ini sering disebut ekonomisme. Ekonomisme sendiri memang kata kunci yang penting untuk memahami Marxisme ortodoks. Dalam ekonomisme basis ekonomi masyarakatlah yang menentukan segala hal dalam superstruktur kesadaran masyarakat seperti sosial, politik dan kesadaran itelektual. Ekonomisme terkait dengan determinisme teknologi. Marx sering menginterpretasikan bahwa penguasaan terhadap teknologi berarti menguasai ekonomi dan karena itu bisa mendeterminasi kesadaran masyarakat.(DanielChandler, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.aber.ac.uk/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.aber.ac.uk&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;, 1994)Pada perkembangannya pandangan ini mendapat kritik dari Lois Althusser. Marxis Althusserian memandang praktek ideologi dalam media massa relatif otonom dari determinasi ekonomi (lih. Stevenson 1995: 15-16). Menurutnya yang lebih dominant adalah ideologi itu sendiri, bentuk ekspresi, cara penerapan dan mekanisme dijalankannya untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korban dan membentuk alam pikiran mereka. (McQuail, 1987: 63).Tradisi pemikiran itulah yang akhirnya diambil oleh Struart Hall dan kawan-kawannya dalam kajian kultural studies. Mereka menolak formulasi basis dan superstruktur karena ada dialektika antara realitas sosial dengan kesadaran sosial. (DanielChandler, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.aber.ac.uk/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.aber.ac.uk&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;, 1994) Demikianlah segelintir gagasan tentang perspektif Marxisme dalam kajian komunikasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku :Hardiman, Budi, Filsafat Modern Dari Machiavelli Sampai Noetzsche, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hardiman, Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif, Kanisius, Yogyakarta, 1993&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Magnis Suseno, Franz, Pemikiran Karl Marx; dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.McLelland, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;David, Karl Marx Selected Writings, Oxford University Press, Oxfrod, 1977.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yusuf Lubis, Akhyar, Dekonstruksi Epistemologi Modern; Dari Postmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme hingga Cultural Studies, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta, 2006.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Adorno, T.W dan Max Hokheimer, Dialectic of Enlightment, Allen, Lane, London, 1973.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mc Quail, Dennis, Teori Komunikasi Massa (terj), Penerbit Airlangga, Jakarta, 1986&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Littlejohn, Stephen W, Theories of Human Communication, 7th Edition. Wadsworth Publising Company, Belmont, 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-7455755150495914082?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7455755150495914082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7455755150495914082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/05/kajian-komunikasi-dalam-perspektif.html' title='KAJIAN KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF MARXISME'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDsCBPOw4_I/AAAAAAAAADk/07yJ_3j_-qE/s72-c/km-fe.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-3312497971585337462</id><published>2008-05-19T14:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:44:22.433-08:00</updated><title type='text'>IKLAN POLITIK VS MONEY POLITIK</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDHvigYTQCI/AAAAAAAAACg/o7kT05Dwbu8/s1600-h/header.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202202420676083746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 466px; CURSOR: hand; HEIGHT: 92px; TEXT-ALIGN: center" height="79" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDHvigYTQCI/AAAAAAAAACg/o7kT05Dwbu8/s400/header.jpg" width="456" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;indonesia telah berada di era pemilihan langsung yang sangat mengandalkan politik citra dari para kandidat. Pengalaman selama ini menunjukkan dalam arena pertarungan Pilkada ataupun pilpres kalah menangnya seorang kandidat semua bergantung pada pencitraan dirinya di mata publik. Hal serupa dtiunjukkan oleh para kandidat presiden pada Pemilu 2004 yang mana mereka menciptakan budaya politik baru di Indonesia yakni Budaya Politik Populis. Terlihat dari gencarnya iklan politik dari para kandidat di media cetak maupun elektronik. Sehingga jargon-jargon seperti “bersama kita bisa”, menjadi sesuatu yang lazim di tengah masyarakat. Pemasangan Iklan politik di media massa banyak memiliki kelemahan dan kekurangan. Selain tidak banyak mengandung unsur pendidikan politik bagi masyarakat, iklan politik kurang memperhatikan fungsi iklan dalam setiap kegiatan politik. Parahnya lagi Iklan politik kita mengalami consumerisme akibatnya politik citra dalam pemilu 2004 lebih ditentukan oleh (kombinasi, akumulatif): seberapa banyak dana kampanye yang dimiliki &amp;amp; seberapa hebat sebuah tim sukses menyusun pesan-pesan yang emosional yang menjadikannya sebagai selebritas politik (sementara kehebatan mesin-mesin politik/ political machine sudah diprediksi akan tergerus pesona citra individu) akibatnya iklan, poster, lagu dan lain-lain terpasang di mana mana dan relatif (baru) merupakan communication without substance or image over substance mereka lebih merupakan political marketing daripada political communication bahayanya: suka cita janji besar-besar tanpa detail, membuat semua perasaan bergejolak (semua ada, apa pun bisa), ekspektasi menjadi melambung jauh begitu tinggi di tengah politik citra, apalagi dengan jarak yang terasa begitu jauh antara janji-janji nan indah dengan kenyataan kerasnya kehidupan rakyat.&lt;br /&gt;Nah jika dilihat dari segi etika komunikasi maka seharusnya sebuah Perhatian utama iklan politik adalah memberi pemilih suatu sudut pandang yang disampaikan oleh partai politik atau seorang kandidat. Namun yang sering terjadi adalah komersialisasi politik tanpa mengindahkan etika politik. Seperti pemanfaatan teknologi untuk memanipulasi diri demi tampilan palsu atau teknik editing (penyuntingan, berupa penambahan atau pengaturan naskah atau pengubahan dan penyusunan kembali suatu adegan untuk menciptakan impresi palsu, dramatisasi visual, penampilan, make-up, warna rambut, kilauan senyum manipulasi teknologis tersebut menghalangi kemampuan informed electorate untuk membuat pilihan rasional. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sebagai The Market Places of Idea tereduksi oleh adanya komersialisasi politik berwujud iklan. Bagaimana tidak kesempatan untuk mengemukakan gagasan di dominasi oleh mereka yang memiliki dana yang cukup besar, tak heran pada Pemilu 2004 baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden, hanya mereka yang memiliki dana yang cukup besar untuk membeli durasi iklan di Tv yang dapat muncul sesering mungkin, Sementara mereka yang bermodal cekak hanya bisa gigit jari. Jika melihat penjabaran di atas pertanyaan yang kemudian muncul adalah : apa yang membedakan antara money Politik dan Iklan Politik ? tentu yang membedakannya adalah legalitas di bidang hukum, namun pada tingkat esensi Money politik dan Iklan politik sama saja, yakni penyampaian gagasan ditentukan oleh berapa banyak rupiah di dalam tas koper kita. Survei Nielsen Media Research seperti dikutip pada buku Iklan dan Politik (2008) menunjukkan, selama masa kampanye Pemilu 2004, PDI-P dan Partai Golkar paling banyak beriklan. PDI-P mengeluarkan dana Rp 39,25 miliar untuk satu bulan kampanye, sedangkan Partai Golkar membelanjakan Rp 21,75 miliar. belum lagi dana pembuatan iklan belum termasuk iklan di radio, pemasangan baliho, spanduk, poster dan lain lain. Maka bisa kita bayangkan berapa banyak dana yang harus disiapkan oleh kandidat atau parpol demi memenangkan Pemilu. kebutuhan akan biaya iklan politik yang tidak sedikit ini mau tidak mau memaksa bagi setiap parpol maupun kandidat untuk melakukan upaya ekstra keras untuk memenuhi pundi-pundi mereka demi mendapatkan durasi ataupun ruang pada media elektronik maupun cetak. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan mereka melakukan kolusi dengan para cukong. Maka dengan demikian amat sangat sulit bagi parpol maupun kandidat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat yang selalu didengungkannya pada saat berkampanye, melainkan yang paling utama adalah dia harus membela kepentingan para cukong tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada pemilu 2009 yang tinggal beberapa saat lagi belanja untuk iklan politik diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan belanja iklan politik menjelang Pemilu 2004. Belanja iklan politik ini sudah mulai terlihat dengan munculnya para tokoh untuk memaparkan visi dan misinya, terlepas dari apa pesan yang disampaikannya, namun biaya yang harus dikeluarkannya untuk iklan tersebut tidaklah sedikit . taruhlah dana yang digunakan untuk beriklan tersebut dibelanjakan untuk memperbaiki bangunan sekolah SD, yang kini banyak yang rusak di seluruh Indonesia, dan menewaskan murid-muridnya akibat kejatuhan atap, atau dana tersebut digunakan untuk membeli susu bagi para Balita di Nusa Tenggara Timur maka tak akan ada cerita Balita yang mengalami gizi buruk, atau dana tersebut digunakan untuk memberi bea siswa kepada murid yang tidak mampu maka tak akan ada cerita di mana seorang murid sekolah dasar melakukan bunuh diri karena malu tidak mampu membayar biaya SPP. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis di tengah kondisi kesulitan ekonomi yang dialami oleh sebagian masyarakat kita, di satu sisi ada pihak yang mengatas namakan pembela rakyat miskin, pengayom rakyat miskin, menggunakan uangnya yang nota bene jika penghasilan seluruh orang miskin selama sebulan di Indonesia dikumpulkan, tak akan mampu menandingi biaya yang dikeluarkan untuk politik pencitraan tersebut, maka rakyat mana yang dibelanya ? Meski beriklan di televisi bukanlah sebuah tindakan kriminal. Apalagi uang yang dibelanjakan adalah dana yang legal, Bahkan bagi kalangan pelaku bisnis media akan menjadi rahmat menggembirakan, namun secara etika hal tersebut sangat sulit dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;penulis adalah :&lt;br /&gt;Sekretaris BAPILU Partai Karya Perjuangan&lt;br /&gt;Dan saat ini sedang menempuh pendidikan pasca Sarjana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di Program Magister Komunikasi Politik Universitas Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-3312497971585337462?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/3312497971585337462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=3312497971585337462&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3312497971585337462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/3312497971585337462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/05/iklan-politik-vs-money-politik.html' title='IKLAN POLITIK VS MONEY POLITIK'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDHvigYTQCI/AAAAAAAAACg/o7kT05Dwbu8/s72-c/header.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-2321840248399203757</id><published>2008-05-19T08:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:44:22.574-08:00</updated><title type='text'>CHAPTER ३ Little John Edisi 8 TRADISI DALAM  TEORI ILMU KOMUNIKASI</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDGg9QYTQBI/AAAAAAAAACY/sT47g0akeC0/s1600-h/41TiOQxLx8L__SL500_AA240_.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202116018818990098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDGg9QYTQBI/AAAAAAAAACY/sT47g0akeC0/s400/41TiOQxLx8L__SL500_AA240_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagaimana yang telah dibahas pada chapter 1 little John Edisi 7 bahwa Craig telah membagi bidang kajian dalam tradisi Ilmu komunikasi menjadi tujuh bagian yaitu : (1) Tradisi Semiotika (2) Tradisi Fenomonologi (3) Cybernetic (4)sosialpsicholigical (5) Budaya Sosial (6) aliran kritis dan (7) retorika.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari semua bidang kajian dari ilmu komunikasi yang disebutkan di atas saling terpaut antara satu dengan yang lainnya । untuk itu ada baiknya penulis mebahas satu persatu dari 7 tradisi dalam bidang kajian ilmu komunikasi yang tersebut di atas : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;1. TRADISI SEMIOTIKA&lt;br /&gt;A. Apa Itu Semiotika&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semiotika adalah ilmu tentang tanda। Gambar atau simbol adalah bahasa&lt;br /&gt;rupa yang bisa memiliki banyak makna. Suatu gambar bisa memiliki makna tertentu bagi sekelompok orang tertentu, namun bisa juga&lt;br /&gt;tidak berarti apa-apa bagi kelompok yang lain. language”. Bahasa dalam hal ini dibaca sebagai “teks” atau “tanda”. Dalam konteks ini “tanda” memegang peranan sangat penting dalam kehidupan umat manusia Tandatanda yang bersifat verbal adalah obyek-obyek yang dilukiskan, seperti obyek manusia binatang, alam, imajinasi atau hal-hal lain yang bersifat abstrak lainnya टांडा terdapat dimana-mana : ‘kata’ adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera dan sebagainya। Struktur karya sastra, struktur film, bangunan (arsitektur) atau nyanyian burung dapat dianggap sebagai tanda. Segala sesuatu dapat menjadi tanda. Charles Sanders Peirce menegaskan bahwa manusia hanya dapat berfikir dengan sarana tanda. Tanpa tanda manusia tidak dapat berkomunikasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;बीDasar Pemikiran Tradisi Semiotika&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi terdapat banyak teori komunikasi yang berangkat dari pembahasan seputar simbol. Keberadaan simbol menjadi penting dalam menjelaskan fenomena komunikasi.Simbol merupakan produk budaya suatu masyarakat untuk mengungkapkan ide-ide, makna, dan nilai-nilai yang ada pada diri mereka. Mengkaji aspek ini merupakan aspek yang penting dalam memahami komunikasi.&lt;br /&gt;Diantara sekian banyak pakar tentang semiotika ada dua orang yaitu Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure yang dapat dianggap sebagai pemuka-pemuka semiotika modern Kedua tokoh inilah yang memunculkan dua aliran utama semiotika modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;C.. Varian Dalam Tradisi Semiotika&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semiotika dapat dibagi menajdi 3 area kajian yaitu semantic (bahasa), Sintagmatic dan paradigmatic.&lt;br /&gt;C.a. Semantic (bahasa) merujuk pada bagaimana hubungan antara tanda&lt;br /&gt;dengan objeknya atau tentang keberadaan dari tanda itu sendiri. Semantic terbagi kepada dua hal yaitu hal tentang apa yang dipikirkan dan hal tentang tanda itu sendiri. Dan mengkorelasikan kedua hal tersebut. Kapan saja ketika muncul pertanyaan dari kita untuk apa tanda itu ada ? kita berada adalah bagian dari dunia kata . sebagai contoh dalam kamus dia menginformasikan kita tentang apa arti dari kata itu atau apa yang dimaksud. Teori ini merupakan pendekatan kaum semiotika ini hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal) yang digunakan dengan sadar oleh mereka yang mengirimkannya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya (si penerima). Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan, melainkan berusaha untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;C.b. sintagmatic&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;atau kajian tentang hubungan antar tanda . tanda hampir tidak dapat berdiri sendiri. Dia selalu menjadi bagian dari system yang lebih besar. Tanda seperti itu biasanya lebih dikenal sebagai kode. Sebuah kode di organisir berdasarkan aturan , jadi tanda yang berbeda dapat menghasilkan pemikiran yang berbeda pula dan tanda bisa saja diletakkan hanya pada wilayah tertentu saja. Semiotika pada teori ini menganggap bahwa tanda akan dapat dipahami apabila ada hubungannya dengan tanda yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.c. Paradigmatic&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;pada teori ini tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. mengungkapkan bahwa sebuah komunikasi terjadi apabila terjadi kontak antara adresser (asal) dan adressee (tujuan).Makna yang disampaikan adresser harus berbentuk sebuah kode (code) sehingga adresser harus melakukan encode terhadap makna tersebut agar menjadi kode. Kemudian kode ini akan diterima adresse dengan melakukan decode. Proses coding Konteks budaya menjadi satu acuan yang tidak bisa dilepaskan begitu saja . Pria berkuda yang memberikan memiliki konotasi kejantanan, kegagahan belum tentu sesuai dengan konteks budaya suatu kelompok masyarakat tertentu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. TRADISI FENOMENOLOGI&lt;br /&gt;A. Apa Itu Fenomenologi &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana proses yang berlangsung dalam diri khalayak.. Kajian tentang proses resepti (reception studies) yang berlangsung dalam diri khalayak menjadi penting.Pendekatan etnografi komunikasi menjadi penting diterapkan dalam tradisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Dasar Pemikiran Tradisi Fenomenologi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada tiga prisnsip dasar dari fenomenologi menurut Stanley Deetz yang pertama adalah pengetahuan adalah kesengajaan makasudnya pengetahuan bukanlah didapat dari pengalaman akan tetapi didapat dari bagaimana menjadikan pengalaman tersebut menjadi sebuah pelajaran. Yang kedua berisi potensi dari diri. Yang ketiga adalah bahasa adalah kendaraan dari pikirian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Varian dari Tradisi Fenomenologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;kajian fenomenologi terbagi menajdi tiga bagian yaitu : (1) fenomenologi Klasik (2) Fenomenologi Persepsi dan (3) Hermenetik fenomnelogi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.a. Fenomonelogi Klasik&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;dipelopori oleh Edmund Husserl penemu Fenomenologi Modern Husserl percaya kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan pengalaman, tapi kita harus bagaimana pengalaman kita bekerja. Dengan kata lain kesadaran akan pengalaman dari setiap individu adalah jalur yang tepat untuk memahami realitas. Hanya melaui kesadaran dan perhatian maka kebenaran dapat diketahui. Bagaimanapun kita harus mengesampingkan penyimpangan kita. Kita harus mengesampingkan segala pemikiran dan kebiasaan untuk melihat pengalaman lain untuk dapat mengetahui sebuah kenyataan. Pada alur ini dunia hadir dengan sendirinya dalam alam sadar kita. Dalam artian menurut husser kita dapat memaknai suatu pengalaman secara objektif dengan tanpa membawa pemahaman kita sebelumnya terhadap pengalaman itu dalam artian kita harus objektif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.b. Fenomenologi&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persepsi berlawanan dengan Husser yang membatasi fenomenologi pada objektivitas marleu ponty menjelaskan manusia adalah kesatuan dari mental dan fisik yang mengartikan atau mempersepsikan dunia. kita mengetahui berbagai hal hanya melalui hubungan kita ke berbagai hal tersebut. Sebagaimana pada umumnya manusia, kita dipengaruhi oleh dunia akan tetapi kita juga mempengaruhi dunia terhadap pengalaman tersebut.&lt;br /&gt;berbagai hal tidak bertahan dan berdiri sendiri terlepas dari bagaimana mereka dikenal. melainkan orang-orang memberi arti kepada berbagai hal di dunia, dan pengalaman fenomenologi adalah suatun hal yang subjective. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.c. Fenomenologi&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hermeneutik aliran ini selalu dihubungkan dengan Martin Heidegger dengan landasan filosofis yang juga biasa disebut dengan Hermeneutic of dasein yang berarti suatu “interpretasi untuk menjadi”. Yang paling utama bagi Heidegger adalah pengalaman tak dapat terjadi dengan memperhatikan dunia. Menurut Heidegger pengalaman sesuatu tak dapat diketahui melalui analisa yang mendalam melainkan pengalaman seseorang yang mana diciptakan dengan penggunaan bahasa dalam keseharian. Apa yang nyata dan apa yang yang sekedar pengalaman melalui penggunaan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. TRADISI CYBERNETIC&lt;br /&gt;A. Apa Itu Cybernetic&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tradisi cybernetic berangkat dari teori sistim yang memandang terdapatnya suatu hubungan yang saling menggantungkan dalam unsur atau komponen yang ada dalam sistim. Hal lain yang penting adalah sistim dipahami sebagai suatu sistim yang bersifat terbuka sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistim.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B। Dasar Pemikiran Tradisi Cybernetic&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Teori informasi berada dalam kontek ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi .&lt;br /&gt;teori ini mengagumkan sangat padu dan konsisten, dan mempunyai suatu dampak yang utama pada banyak bidang, yang mencakup tentang komunikasi. pada sistem banyak berkaitan dengan komputer dan mesin, pikiran manusia dan kehidupan sosial manusia dapat dipahami dengan penggunaan system ini secara baik. Seperti hasilnya Tradisi Cybernetic tidak hanya berimplikasi pada perkembangan teknolig informasi akan tetapi juga pada ilmu sosial dan ilmu komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Varian Tradisi Cybernetic&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita mengenal ada tiga macam Teorin dalam Tradisi Cybernetic yaitu Basic System Theory, General System Theory dan second order Cybernetic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.a. Basic System Theory&lt;/strong&gt; : ini adalah fromat dasar , pendekatan ini melukiskan seperti sebuah struktur yang nyata dan bisa di analisa dan diamati dari luar. Dengan kata lain kita dapat melihat bagian dari system dan bagaimana mereka saling berhubungan. Kita dapat mengamati secara obyektif mengukur antara bagian dari system dan kita dapat mendeteksi input maupun output dari system. Lebih lanjut mengoperasikan atau memanipulasi system dengan mengganti input dan tanpa keahlian karena semua diproses melalui mesin. sebagai alat bantu bagi bagi para professional seperti system analyst, konusltan manajemen, dan system designer telah membangun sebuah system analisa dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.b. General System Theory teori&lt;/strong&gt; ini diformulasikan oleh Ludwig Von Bertalanffy seorang biologist. Bertalanffy menggunakan GST sebagai sarana pendekatan multidisiplin kepada ilmu pengetahuan. System ini menggunakan prinsip untuk melihat bagaiaman sesuatu pada banyak bidang yang berbeda menjadi selaras antara satu dengan yang lain. Pembentukan sebuah kosa kata untuk mengkomunikasikan lintas disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.c. Second Order Cybernetic&lt;/strong&gt; dikembangkan sebagai sebuah alternative dari dua tradisi Cybernetic sebelumnya. Second order Cybernetic membuat pengamat tak dapat melihat bagaimana sebuah system bekerja di luar dengan sendirinya dikarenakan pengamat selalu ditautkann dengan system yang menjadi pengamatannya. Melalui perspektif ini kapanpun kita mengamati system ini maka kita akan saling mempengaruhi. Karena hal ini memperlihatkan bagaimana sebuah pengetahuan sebuah produk menjerat antara yang mengetahui dan yang diketahui.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;4. TRADISI PSIKOLOGI SOSIAL&lt;br /&gt;A. Apa Itu Psikologi Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. Psikologi Sosial memberi perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu. Aktivitas komunikasi merupakan salah satu fenomena psikologi sosial seperti pengaruh media massa, propaganda, atau komunikasi antar personal lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;B. Dasar Pemikiran Tradisi Psikologi Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia. Proses komunikasi manusia merupakan proses yang berlangsung dalam diri manusia. Selanjutnya dalam komunikasi antar personal juga akan banyak dijelaskan dengan teori-teori dari tradisi psikologi sosial. Misalkan manusia dalam membuat suatu pesan dilatari faktor-faktor tertentu seperti motiv, kebutuhan, dan sebagainya. Demikian pula terlibatnya faktor prasangka, streotip, skema pemikiran, dan sebagainya yang mempengaruhi dalam komunikasi antar personal. Beberapa konsep penting disini dapat disebutkan seperti judgement, prejudice, anxienty, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;d. Varian Tradisi Psikologi Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tradisi Psikologi sosial dapat dibedakan menjadi tiga cabang yaitu : (1) Behavioral (2) Koginitif (3) Bilogikal&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D.a. Behavioral&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;pada cabang ini kita dapat melihat bagaimana orang&lt;br /&gt;bertindak dalam sebuah stuasi komunikasi. Tipikal dari teori ini adalah kepada hubungan apa yang kita katakana dan apa yang kita lakukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;d.b. Koginitif&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;cabang ini cukp banyak digunakan saat ini berpusat pada pola pemikiran cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan dan memproses informasi dengan cara yang arah tingkah laku yang keluar . dengan kata lain apa yang kamu lakukan dalam berkomunikasi tidak hanya tergantung pada stimulus response tapi juga proses mental untuk memaknai suatu informasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.c. kemudian biological&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; cabang ini berupaya mempelajari manusia dari sisi Biologikalnya &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;5. TRADISI SOSIAL BUDAYA&lt;br /&gt;A. Apa Itu Tradisi Sosial Budaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi berlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Konsep kebudayaan yang dirumuskan Clifford Geertz tentu saja menjadi penting. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Dasar Pemikiran Tradisi Sosial Budaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan interaksi simbolik, konstruktivisme merupakan hal yang penting disini. Interaksi simbolik menekankan pada bagaimana manusia aktif melakukan terhadap realitas yang dihadapi. Hal ini dapat membantu menjelaskan dalam proses komunikasi antar personal. Sedangkan konstruktivisme menekankan pada proses pembentukan realitas secara simbolik. Maka komunikasi baik bermedia maupun antar pribadi sesungguhnya dapat dilihat sebagai proses pembentukan realitas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Varian Tradisi Sosial Budaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya semua tradisi tradisi sosial budaya memiliki 3 varian yaitu Interaksi symbolic, kontruksionis, dan sosial lingustik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.a. Interaksi symbolic&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam ilmu sosiologi oleh George Herbert Mead dan ZHerbert Blumer yang menekankan pentingnya pengamatan dalam studi komunikasi sebagai cara untuk dari menyelidiki hubungan sosial. gagasan dasar dari teori ini diadopsi dan ditekuni oleh banyak ilmuwan social dan saat ini disatukan dalam bidang studi kelompok, emosi, diri, politik, dan struktur sosial &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.b. Konstruksi Sosial&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;pada cabang ini menginvestigasi bagaimana pengetahuan manusia dikosntruksi melalui interaksi sosial. Identitas dari sesuatu dihasilkan dari bagaimana kita membicarakan suatu objek , bahasa yang digunakan untuk menampung konsep kita dengan cara di mana group sosial berorientasi pada pengalaman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.c. Sosial Linguistik&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ludwig Wittgenstein seorang filosof Jerman memulai perkerjaan ini dengan mengusulkan bahwa arti dari bahasa tergantung pada penggunaannya. bahasa, yang digunakan dalam hidup sehari hari., bahasa adalah suatu permainan sebab orang-orang mengikuti aturan untuk berbuat berbagai hal dengan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;6. TRADISI KRITIS&lt;br /&gt;A. Apa Itu Tradisi Kritis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi masyarakat yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Dasar Pemikiran Tradisi Kritis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis.Bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah. Bahwa paradigma ini disatu sisi tergolong positivistik karena bersifat empiris mengenai realitas yang tersusun atas kelompok berkuasa dan kelompok yang dikuasai. Pada sisi lain, paradigma kritis tidak bersifat objektif sebagaimana prasyarat dalam paradigma positivistik. Paradigma kritis sedari awal melakukan keberpihakan terhadap kalangan yang dikuasai. Ini yang disebut ilmuwan tidak hanya menjadi pengamat tetapi juga terlibat dalam melakukan emansipasi terhadap kalangan yang lemah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Varian Tradisi Kritis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Kritis diawali oleh friedich engels dan karl marx . marxisme merupakan peletak dasar dari tradisi kritis ini . Marx mengajarkan bahwa ekonomi merupakan dasar dari segala struktur sosial. Dan menganggap kapitalis merupakan penindasan terhadap buruh dan kelas pekerja. Maka dari itu theory marx disebut sebagai kritik dari politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.a. Kritik Politik ekonomi&lt;/strong&gt; pandangan ini merupakan revisi terhadap Marxisme yang dinilai terlalu menyederhanakan realitas kedalam dua kubu yaitu kalangan penguasa dan kalangan tertindas berdasarkan kepentingan ekonomi. Sebaliknya, mereka yang mencoba tetap&lt;br /&gt;menggunakan asumsi Marxist namun memandang bahwa dalam realitas sosial yang komplek sesungguhnya terjadi pertarungan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.b. aliran Frankfurt&lt;/strong&gt; mengarah kepada filosof jerman, sosiologis, dan pakar&lt;br /&gt;ekonomi. Frankfurt school merupakan yang mulai memeprkenalkan tradisi kritis dalam ilmu sosial. Aliran ini memperkenalkan bahwa aliran kritis . dalam rangka mempromosikan suatu filosofi sosial teori kritis mampu menawarkan suatu interkoneksi dan pengujian yang menyeluruh perubahan bentuk dari masyarakat, kultur ekonomi, dan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.c. Posmodernisme&lt;/strong&gt; merupakan masa setelah modernisme. Ditandai dengan&lt;br /&gt;sifat relativitas, tidak ada standarisasi nilai, menolak pengetahuan yang sudah jadi dan dianggap sebagai sesuatu yang sakral (grand narative). Menghargai hal-hal yang lokal, keunikan, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.d. Cultural studies&lt;/strong&gt; suatu ideologi yang mendominasi suatu kultur tetapi&lt;br /&gt;memusatkan pada perubahan sosial dari tempat yang menguntungkan dari kultur itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.e. Post strukturalis&lt;/strong&gt; yakni pandangan yang memandang realitas merupakan sesuatu yang komplek dan selalu dalam proses sedang menjadi. Realitas tidak sebagaimana pandangan kalangan strukturalis yang melihat sudah bersifat teratur, tertata, dan terstruktur. Realitas merupakan suatu proses pembentukan yang berlangsung terus menerus dengan melibatkan banyak kalangan dengan identitas masing-masing. Yang menonjol adalah terdapatnya proses artikulasi dari masing-masing kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.f. Post Colonial&lt;/strong&gt; mengacu pada semua kultur yang dipengaruhi oleh proses&lt;br /&gt;imperial dari masa penjajahan sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Tradisi Retorika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Apa Itu Tradisi Retorika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek proses pembuatan pesan atau simbol. Prinsip utama disini adalah bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;B। Dasar Pemikiran retorika&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tradisi retorika berpusat pada lima pengaturan atau lebih dikenal dengan five canon of rhetoric yang mencakup Penemuan, pengaturan gaya, penyerahan dan memori.&lt;br /&gt;Penemuan yang dimaksud di sini adalah mengacu pada konsepsi pada konsepsiluasisasi sebuah proses melalui pemaknaan pada data melalui interprestasi, pada sebuah pengakuan dari sebuah fakta yang tidak dapat dengan mudah kita hadirkan tapi kita menginterpretasikan sesuai khalayak yang kita hadapi dalam artian kita menyesuaikan apa yang kita bicarakan sesuai dengan khalayak yang kita hadapi.&lt;br /&gt;Pengaturan adalah sebuah proses untuk mengatur symbol-symbol mengatur penyampaian dalam hubungannya dengan orang, dengan melibatkan konteks dan symbol. Gaya sangat diutamakan dalam teori ini.&lt;br /&gt;Penyerahan Tradisi menjadikan symbol sebagai sarana untuk mempengaruhi mencakup pemilihan bahasa nonverbal dalam berbicara, menulis, atau menyampaikan suatu pesan.&lt;br /&gt;Pengingatan tidak lagi pada pengingatan yang sederhana dalam berbicara tetapi pengingatan keseluruhan merupakan cara jitu dalam mempengaruhi dan memproses suatau informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Varian Tradisi Semiotika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Retorika diartikan berbeda pada setiap zaman kita mengenal ada tujuh masa perkembangan dari retorika yaitu, klasik, abad pertengahan, masa renaissance, penerangan , kontemporer dan post modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.a. Era Klasik didominasi oleh aliran seni dalam berbicara kaum sophist&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;sebagai pelopor aliran ini berkeliling mengajarkan retorika tentang bagaimana berargumen dan memenangkan sebuah kasus pada masa awal di mana retorika baru diperkenalkan. Plato sangat tidak menyukai aliran sophist ini dan menjuluki kaum sophis ini karena mereka berorientasi bagaimana menang dalam berdebat karena menurut plato yang nota bene beraliran filosof bahwa retorika digunakan untuk alat berdialog untuk mencapai kebenaran yang absolute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.b. Abad Pertengahan study tentang retorika berfokus pada pengaturan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;gaya . namun retorika pada abad pertengahan dicela sebab dianggap sebagai ilmu kaum penyembah berhala dan tidak perlu dipelajari sebab agama Kristen dapat memperlihatkan kebenarannya dengan sendiri. Pada abad ini bisa dikata sebagai the end of retorika. Sebelum agustine seorang guru retorika mengatakan dalam buku doktrin Kristen bahwa retorika dibutuhkan bagi seorang pendeta untuk dapat menerangkan retorika dan menyenangkan umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;C.c. Renaissance masa ini dianggap sebagai kelahiran kembali retorika&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;sebagai suatu seni. Para sarjana humanis member perhatian dan concern pada semua aspek untuk kemanusiaan, penelitian kembali text-text retorika klasik dalam rangka memahami manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;C.d. Abad Pencerahan selama masa ini para pemikir seperti Rene Descartes&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;dalam rangka menentukan apa yang bisa disebut sebagai suatu yang absolute dan objective pada pikiran manusia। Francis Bacon mengatakan retorika menggerakkan imajinasi pada pergerakan yang lebih baik. Logika atau pengetahuan merupakan bagian dari bahasa , dan retorika menjadi sarana untuk mengetahui suatu atau menyampaikan suatu kebenaran. Hal ini menjadikan retorika kembali menjadi citra yang baik seperti saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;C।c. Pada masa Retorika kontemporer&lt;/strong&gt; diringi dengan tumbuhnya minat retorika seperti jumlah dan macam symbol meningkat. Apalagi dengan kehadiran media massa maka penyampaian pesan disampaiakn secara visual dan verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.e. Retorika Postmodern&lt;/strong&gt; tidak lagi berpaku pada gaya retorika yang dikembangkan oleh barat dia menyesuaikan retorika sesuai dengan budaya tempat di mana pesan disampaikan. Aliran ini merupakan alternative yang dimulai dari asumsi yang berbeda, nilai nilai acuan yang berbeda, untuk menghasilkan suatu retorika yang berbeda pula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-2321840248399203757?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/2321840248399203757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=2321840248399203757&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/2321840248399203757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/2321840248399203757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/05/chapter-little-john-edisi-8-tradisi.html' title='CHAPTER ३ Little John Edisi 8 TRADISI DALAM  TEORI ILMU KOMUNIKASI'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SDGg9QYTQBI/AAAAAAAAACY/sT47g0akeC0/s72-c/41TiOQxLx8L__SL500_AA240_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-7796070178008359020</id><published>2008-05-16T11:43:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:44:22.810-08:00</updated><title type='text'>KERANGKA AKUNTABILITAS MEDIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SC3WggYTP_I/AAAAAAAAACE/5QnuImYlK0A/s1600-h/images+f.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201048998618808306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SC3WggYTP_I/AAAAAAAAACE/5QnuImYlK0A/s320/images+f.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Kerangka Akuntabilitas Media merupakan tindakan menangani dugaan-dugaan, mengemukakan tanggung-jawab dan bagaimana tuntutan-tuntutan diekspresikan. Kerangka juga memberikan indikasi untuk menyeleksi klaim-klaim yang layak diselesaikan / ditangani. Banyaknya jenis klaim yang potensial terjadi terhadap publikasi media kemudian mengkondisikan sejumlah alternatif pendekatan dalam menerapkan kerangka akuntabilitas media menurut Dennis Mc. Quail’s:&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;strong&gt;Law &amp;amp; Regulation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Regulasi formal membangun dan menentukan struktur perusahaan media (elektronik &amp;amp; cetak) yang jelas agar efektif menjalankan fungsinya dengan baik. &lt;i&gt;Keunggulan&lt;/i&gt; menggunakan alternatif ini adalah ;&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, media mempunyai kekuatan hukum yang jelas dalam menghadapi klaim, karena di ‘back up‘ oleh regulasi, hukum, dan kebijakan yang kuat. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, juga terdapat kontrol yang demokratis melalui sistem politik, yang menyudahi dan menjadi alat memeriksa penyalahgunaan kekuasaan. &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;kejelasan ruang lingkup regulasi yang membatasi dan menghindari penyimpangan kebebasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Kendala&lt;/i&gt; dari menggunakan alternatif&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;pendekatan Law &amp;amp; Regulation; &lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; rentan konflik, terutama antara itikad menjaga kebebasan berekspresi dan membuat akuntabilitas media. Kekuatiran terhadap sanksi hukum/regulasi berjalan seiring sensor internal meskipun hal ini tidak dibenarkan. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, lebih mudah diterapkan dalam struktur daripada dalam &lt;i&gt;conten &lt;/i&gt;ketika definisi sulit dibentuk dan munculnya kebebasan berekspresi. &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;umumnya menguntungkan pihak berkuasa dan pemodal. &lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;hukum dan regulasi selalu sulit untuk ditegakkan, sulit memprediksi efek jangka panjangnya serta sulit dirubah jika sudah ‘out of the &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;strong&gt;The Market Frame&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Adalah penjelasan singkat dari sistem Suply dan Demand. Media memberikan publikasi berdasarkan apa yang sedang diminati oleh publik. Publik bebas memilih dan pilihan mereka memberikan ‘sign’ atau pertimbangan-pertimbangan bagi media dengan tujuan efisiensi. &lt;i&gt;Keunggulan&lt;/i&gt; dari market frame, Media dituntut untuk kreatif dan peka terhadap kepentingan publik. &lt;i&gt;Kendala &lt;/i&gt;dari menggunakan alternatif market frame ; &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, media mempunyai otoritas melakukan sistem regulasi sendiri, yang sangat memungkinkan komersialisasi media. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, sangat potensial memunculkan monopoli media, golongan dengan power/finansial yang kuat akan semakin berpeluang menguasai pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;strong&gt;The Frame of Public Responsibility&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Karena media&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;merupakan sebuah intitusi sosial maka media seharusnya bertugas menjaga hubungan langsung dengan publik. Dalam hal ini media berperan sebagai wadah penyaluran aspirasi masyarakat. Selain itu, Organisasi media juga merupakan intitusi sosial tempat bertemunya banyak komitmen profesional (baik secara sukarela maupun sebaliknya) yang bertujuan untuk mencapai tujuan bersama perusahaan, memperoleh keuntungan dalam bisnis media. &lt;i&gt;Keunggulan&lt;/i&gt; dari alternatif ini; &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, memberi kesempatan kepada publik untuk menyuarakan aspirasi secara langsung sehingga publikasi akan lebih demokratis dan objektif. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, membuka peluang kerja.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Kendalanya adalah, banyak media yang menolak statusnya sebagai ‘wakil’ masyarakat dengan mengatasnamakan kebebasan media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;strong&gt;The Frame of Profesional Responsibility&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Akuntabilitas yang muncul dari kebutuhan adanya ‘self-respect’ dan kode etik dikalangan professional media. Yang kemudian kebutuhan pembuatan standar kinerja yang baik diantara kalangan professional tersebut. Standar tersebut termasuk prosedur untuk mendengarkan dan menilai sebuah tuntutan dan keluhan terhadap suatu kegiatan/publikasi media. Umumnya berurusan dengan potensi kerugian/bahaya yang muncul dari aktifitas media terhadap individu/kelompok masyarakat tertentu. Profesionalisme dalam media seringkali didukung oleh pemerintah, lembaga publik lainnya serta pengembangan pendidikan/pelatihan media. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 18pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keunggulannya, akuntabilitas media dapat bekerja dengan baik menginggat pekerja media akan dipandu dan dapat bekerja dengan tanggung-jawab professional. Pendekatan ini mengakomidir unsur kerelaan&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;kaum professional maupun unsur kepentingan perusahaan media. Sehingga tidak bersifat koersif dan menyemangati pengembangan kompetensi / kepribadian individu professional. Kendalanya, profesionalisme sulit berkembang karena pada umumnya pekerja media mempunyai sedikit otonomi dalam manajemen media. Pengambilan kebijakan publikasi media secara signifikan masih belum bisa dipengaruhi oleh profesionalisme, tetapi lebih didominasi oleh pemilik media. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-7796070178008359020?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/7796070178008359020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=7796070178008359020&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7796070178008359020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/7796070178008359020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/05/kerangka-akuntabilitas-media_16.html' title='KERANGKA AKUNTABILITAS MEDIA'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SC3WggYTP_I/AAAAAAAAACE/5QnuImYlK0A/s72-c/images+f.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-8824647638835266095</id><published>2008-05-16T11:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T01:44:22.926-08:00</updated><title type='text'>JURGEN HABERMAS DAN FRANKFURT SCHOLL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SC3VSwYTP-I/AAAAAAAAAB8/imh2NR0Gd2A/s1600-h/Habermas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SC3VSwYTP-I/AAAAAAAAAB8/imh2NR0Gd2A/s320/Habermas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201047662883979234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;Kemunculan mazhab Frankfurt bisa diteropong dari realitas masa ketika sains mulai menakutkan dalam kehidupan manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagi mazhab Frankfurt, logos telah mengubah wataknya dari protagonis ke antagonis. Senjata nuklir menjadi mitos baru yang menakutkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan teori kritiknya, mazhab Frankfurt, melakukan pertautan teori dengan praksis sosial manusia. Pengetahuan manusia dan ekistensinya merupakan hal yang tak terpisah pada realitas eksistensi eksternal. Antara pengetahuan manusia dengan segala motif yang menyertainya merupakan konsekuensi logis yang mustahil terberi. Problem motivasi apa yang ada pada pengetahuan setiap manusia, itulah yang mestinya dicurigai, sebab perdebatan apakah pengetahuan itu bebas nilai atau tidak, merupakan perdebatan yang menghabiskan waktu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;Adalah Jurgen Habermas, salah seorang tokoh terkemuka Mazhab Frankfurt, yang kemudian mencoba meretas kebuntuan teori kritis pendahulunya. Dari sejumlah penelitian dan perhatiannya terhadap komunikasi, ia kemudian menemukan solusi atas kesalahan pendahulunya dalam menggagas teori kritik masyarakat. Karenanya, ia dikenal sebagai pembaharu teori kritis. Sebab ia tidak sekedar merefleksikan kesalahan epistemologis pendahulunya yang mengantarkan mereka ke jalan buntu dalam bentuk penilaian. Malah Habermas, menyuburkan kembali khasanah teori kritis dengan sebuah paradigma baru. Rasio instrumental yang menjadi bagian dari teori kritis mashab Frankfurt, digesernya ke dalam apa yang ia sebut sebagai rasio komunikatif.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;Habermas, memusatkan diri pada pengembangan piranti teori komunikasi dengan mengintegrasikan &lt;i&gt;linguistic-analysis&lt;/i&gt; dalam teori kritisnya. Teori kritis Habermas kemudian diperkenalkan dengan nama &lt;i&gt;The Theory of Communicative Action&lt;/i&gt;. Teori Tindakan Komunikatif yang di gagasnya, menandai usaha brilian untuk mendialogkan teori kritisnya dengan tradisi-tradisi besar ilmu-ilmu sosial modern.Dasarnya adalah distingsi tentang praksis. Praksis tidak hanya dipahami sebagai &lt;i&gt;arbeit&lt;/i&gt; melainkan juga sebagai komunikasi. Praksis, dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam kegiatan menaklukkan alam dengan kerja, melainkan juga dalam interaksi intersubjektif dengan bahasa keseharian.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Praksis merupakan konsep sentral dalam tradisi filsafat kritis. Praksis bukanlah tingkah-laku buta atas naluri belaka, melainkan tindakan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Praksis merupakan hal yang tak terpisahkan dengan teori. Sehingga pembahasan praksis dalam teori Habermas, merupakan upaya untuk mempertautkan teori dengan praktik yang telah dipisahkan oleh bangunan positivistik atas nama pemurnian pengetahuan, paham kebebasan nilai ilmu-ilmu sosial, sebagai efek dari duel peradaban anatar logos dan mitos. Ruh dari teori tindakan komunikatif Habermas, merupakan cita suci pencapaian konsesnsus melalui komunikasi bebas dominatif, di mana pelaku komunikasi berada pada ruang subyek dan memposisikan apa yang dikomunikasikan sebagai obyek. Pelaku komunikasi mesti berada pada titik kesetaraan sebagai hal yang niscaya, sebab makna sebuah teks mesti dipahami tanpa paksaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;Bagi Habermas, teori Kritis merupakan suatu metodologi yang berdiri pada ketegangan dialektis antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Teori Kritis hendak menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis, untuk menemukan kondisi yang bersifat transendental yang melampaui data empiris. Dengan demikian, Teori Kritis merupakan dialektika antara pengetahuan yang bersifat transendental dan yang bersifat empiris. Ini sekaligus sebagai penegasan tentang negasi ahistoritas ilmu pengetahuan yang dilancarkan saintisme atau positivisme sebagai serangan terhadap teori kritis. Sebab ilmu pengetahuan yang dipahaminya tidak menafikkan data pengalaman empiris. Teori kritis bermaksud membebaskan pengetahuan manuisa, bila terjatuh dan membeku pada salah satu ranah, entah transendental ataukah empirisme. Sebuah refleksi diri, &lt;i&gt;ideologiekritik&lt;/i&gt;. Sebuah kritik ideologi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;Meskipun istilah wacana &lt;i&gt;(discourse)&lt;/i&gt; sering dianggap sebagai sesuatu yang sederhana namun pada kenyataannya istilah ini cukup kompleks. Wacana (diskursus) merupakan wilayah kajian bahasa namun ia juga berkaitan langsung dengan praktek sosial dan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks bahasa, wacana didefenisikan sebagai cara tertentu dalam berbicara, menulis dan berpikir. Wacana adalah cara tertentu dalam menggunakan bahasa. Akan tetapi, wacana tidak hanya merupakan cara berbahasa, namun lebih penting lagi, ia berkaitan secara langsung dengan praktek berbahasa tersebut, dan relasi sosial dibelakang praktek tersebut. Sebagai satu bentuk praktek, wacana berkaitan dengan ‘sejarah’ dan ‘waktu’. Wacana berkaitan dengan penggunaan bahasa di dalam zaman, waktu dan tempat tertentu. Sebagai salah satu konsep penting dalam filsafat ‘post-strukturalisme’, wacana melihat pentingnya kajian tentang ‘sejarah’ dan ‘waktu’ di dalam perbincangan tentang bahasa prakteknya. Ini bertentangan dengan pandangan strukturalisme yang justru menolaknya karena mementingkan ‘struktur’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang melampaui kawasan sejarah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-8824647638835266095?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/8824647638835266095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=8824647638835266095&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/8824647638835266095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/8824647638835266095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/05/jurgen-habaermas-dan-frankfut-scholl.html' title='JURGEN HABERMAS DAN FRANKFURT SCHOLL'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ykJJJCXfl20/SC3VSwYTP-I/AAAAAAAAAB8/imh2NR0Gd2A/s72-c/Habermas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-225706515828474177</id><published>2008-05-09T09:03:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T09:04:06.544-07:00</updated><title type='text'>TRADISI KRITIS DALAM COMMUNICATOR</title><content type='html'>Review Liitle John Edisi 8&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Teori politik identitas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; memiliki kesamaan dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cara pandang kritikal tentang identitas dan memiliki implikasi penting bagi komunikator. &lt;b style=""&gt;Teori identitas&lt;/b&gt; berawal dari berbagai &lt;b style=""&gt;gerakan sosial&lt;/b&gt; yang berkembang di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;amerika serikat pada tahun &lt;b style=""&gt;1960-an&lt;/b&gt;, seperti, hak-hak sipil, black power/ hak-hak kulit hitam, gerakan perempuan dan gerakan gay dan lebian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Secara umum gerakan-gerakan ini memiliki beberapa &lt;b style=""&gt;kategori identitas&lt;/b&gt; : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;1. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Para anggota dari kategori&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;identitas membagi&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;analisa yang sama terhadap &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;tekanan bersama mereka &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;2. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tekanan bersama menggantikan semua kategori identitas yang lain &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;3. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Anggota-anggota kelompok identitas selalu saling bersekutu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Hal ini menimbulkan asumsi tentang bagaimana individu-individu yang terlibat dalam gerakan-gerakan ini melakukannya berdasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atas bagaimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka membangun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;identitas mereka. Inti dari asumsi ini adalah konsep identitas itu stabil, utuh, kategori kejelasan diri yang luas berbasis pada penanda seperti : sex, ras dan kelas – dimensi-dimensi tersebut bersifat individual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dugaan bahwa identitas itu tetap dan stabil telah membawa teori-teori ini untuk &lt;b style=""&gt;menekankan pada&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;keberbedaan&lt;/b&gt;. Tidak ada karakter yang esensial untuk mendefinisikan semua wanita atau semua pria atau semua orang asia atau semua orang latin. Ide tentang keberbedaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baru muncul ketika penanda-penanda identitas dapat mengkarakterisasikan ciri apa yang dibawa oleh seseorang tersebut. Terdapat tiga teori yang memudahkan kita dalam melihat tradisi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="SV"&gt;Teori Sudut Pandang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sandra Harding&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; dan &lt;b style=""&gt;Patricia Hill Collins &lt;/b&gt;yang merumuskan teori ini dalam ilmu sosial. &lt;b style=""&gt;Julia Wood&lt;/b&gt; dan &lt;b style=""&gt;Marsha Stanback Houston&lt;/b&gt; yang memasukan teori ini ke dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disiplin ilmu komunikasi. Teori ini fokus pada &lt;b style=""&gt;bagaimana keadaan kehidupan pribadi seseorang dapat mempengaruhi orang tersebut dalam memahami dan membangun dunia kemasyarakatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Untuk memahami pengalaman-pengaman tersebut bukan dimulai dari kondisi sosial, harapan peran, atau definisi gender tetapi dari &lt;b style=""&gt;perbedaan cara masing-masing orang&lt;/b&gt; membangun kondisi-kondisi tersebut dan pengalaman-pengalaman mereka dengan kesemuanya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Yang juga penting dalam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;teori ini adalah &lt;b style=""&gt;the notion of layered understanding&lt;/b&gt; / dugaan terhadap pemahaman berlapis. Maksudnya adalah kita memiliki identitas beragam yang tumpang tindih pada cara pandang kita yang unik, termasuk didalamnya interaksi ras, kelas, gender dan seksualitas dalam berbagai segi identitas. Pakar feminisme, &lt;b style=""&gt;Gloria Anzaldua&lt;/b&gt; memberikan contoh tentang identitas berlapis dirinya sendiri : feminis lesbian dunia ketiga dengan kecenderungan marksis dan mistis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Teori ini juga memperkenalkan tentang &lt;b style=""&gt;element of power to the issue of identity&lt;/b&gt;. Keterpinggiran atau keterkuasaan seseorang dilihat dari sudut pandang kekuasaan. Novel dari &lt;b style=""&gt;Nadine Gordimer&lt;/b&gt;, &lt;b style=""&gt;July’s People&lt;/b&gt;, adalah contoh yang baik menggambarkan keadaan ini. Juli seorang pembantu dari keluarga kulit putih di afrika selatan membawa keluarga majikannya ke kampung halamannya ketika revolusi meletus. Untuk pertama kalinya keluarga itu baru memahami tentang siapa pembantu mereka itu dan bagaimana mereka sangat tergantung kepadanya pada saat-saat seperti itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Marsha Houston&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, mengembangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudut pandang &lt;b style=""&gt;epistemology&lt;/b&gt; dari &lt;b style=""&gt;perspektif feminis afro-amerika&lt;/b&gt;. Dia mengartikulasikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesulitan-kesulitan dalam dialog diantara wanita kulit hitam dan putih, memberikan perbedaan-perbedaan epistemology dalam pengalaman hidup masing-masing. Dia juga menjelaskan &lt;b style=""&gt;budaya resisten adalah ciri dari kehidupan wanita kulit hitam&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="ES"&gt;Identitas sesuatu yang terbangun dan tertampilkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Untuk memahami identitas sebagai sebuah kategori yang berisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;identitas-identitas yang berhubungan, &lt;b style=""&gt;teori harus berada dibawah label politik identitas hari ini yang memiliki perhatian pada konstruksi dan tampilan dari kategori identitas&lt;/b&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Berdasar itu &lt;b style=""&gt;tidak ada identitas yang eksis diluar dari konstruksi sosial dari kebudayaan yang lebih besar.&lt;/b&gt; Kita mendapatkan identitas kita dalam bagian besar dari konstuksi yang mencakup bentuk identitas dari berbagai kelompok sosial dimana kita menjadi bagiannya, seperti : keluarga, komunitas, kelompok kebudayaan, dan ideologi dominan yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Jadi isu-isu : gender, kelas, ras dan seksualitas selalu terwujudkan dalam perlawanan mereka terhadap identitas-identias tersebut. Identitas kita selalu dalam proses menjadi, tidak pernah selesai, sebagai tanggapan kita pada konteks dan situasi disekitar kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Contohnya &lt;b style=""&gt;Barbara Ponse&lt;/b&gt; menjelaskan, tahap-tahap dalam perkembangan identitas lesbian sebagai &lt;b style=""&gt;kerja identitas&lt;/b&gt;. &lt;b style=""&gt;Shan Phelan&lt;/b&gt;, sebuah proyek bukan sekedar peristiwa. &lt;b style=""&gt;Gender Trouble &lt;/b&gt;dari &lt;b style=""&gt;Judith Butler&lt;/b&gt;, sebuah contoh yang yang bagus dalam kajian identitas dan sangat berpengaruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="SV"&gt;Teori Queer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karya Butler tidak hanya berpengaruh pada teori identitas tetapi juga pada teori queer. Teori ini tidak hanya menyangkut gender (maskulin / feminin) tetapi juga sex (male / female). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Menurut &lt;b style=""&gt;Butler&lt;/b&gt; : &lt;b style=""&gt;Gender ought not to be construed as a stable identity or locus of agency from wich various acts follow. Rather, gender is an identity tenuously constituted in time, instituted in an exterior space through a stylized repetition of acts.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Teori queer tertarik mengkaji kombinasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari berbagai kemungkinan dari tampilan gender. Kajian Queer adalah tentang proses, yang berfokus pada gerakan yang melampaui ide, ekspresi, hubungan, tempat dan keinginan yang menginovasi berbagai perbedaan cara penjelmaan di dunia. Para pakar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Queer melihat implikasi kekuatan sosial dari mengadopsi &lt;b style=""&gt;model queer sebagai kerangka kerja dalam mempelajari isu-isu gender, seksualitas dan politik identitas&lt;/b&gt;. &lt;b style=""&gt;Michael Jackson&lt;/b&gt;, menjadi ikon menarik untuk dikaji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Mereka bertujuan merubah cara pandang masyarakat terhadapisu-isu tersebut. Teori Queer selalu memiliki agenda politik untuk melakukan perubahan sosial. &lt;b style=""&gt;Point of resistance&lt;/b&gt; menjadi problematika terus menerus yang timbul. Bagi banyak aktivis, istilah Queer adalah label yang dilekatkan bersama untuk lesbian, gay, bisexual dan transgender, dalam politik misalnya penyatuan isu-isu tersebut menjadi penting.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Queers menjunjung &lt;b style=""&gt;segala cara yang digunakan dalam mengekspresikan sex dari semua kemungkinan, jarak, tumpang tindih, perselisihan dan resonansi, kehilangan dan kelebihan dari makna itu sendiri&lt;/b&gt;. Teori Queer merupakan contoh terbaik dari postmodernisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7225411089011293727-225706515828474177?l=pangerankatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pangerankatak.blogspot.com/feeds/225706515828474177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7225411089011293727&amp;postID=225706515828474177&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/225706515828474177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7225411089011293727/posts/default/225706515828474177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pangerankatak.blogspot.com/2008/05/tradisi-kritis-dalam-communicator.html' title='TRADISI KRITIS DALAM COMMUNICATOR'/><author><name>adi sulhardi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13494481556864525537</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7225411089011293727.post-108731489568061524</id><published>2008-05-09T08:56:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T08:57:37.216-07:00</updated><title type='text'>7  TRADISI DALAM  TEORI ILMU KOMUNIKASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Robert Craig mencoba menyebut adanya tujuh tradisi dalam kajian komunikasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;yaitu &lt;i&gt;semiotik, fenomenologi cybernetik, psikologi sosial, , sosial budaya, kritis,&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;retorika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 4.5pt; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tradisi Semiotik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dalam Littlejohn disebut secara lebih rinci landasan teoritis dari kalangan ahli linguistik seperti Ferdinand de Saussure, Charles S. Pearce, Noam Chomsky, Benjamin Whorlf, Roland Barthes, dan lainnya. Mencoba membahas tentang hakekat simbol. Jadi terdapat banyak teori komunikasi yang berangkat dari pembahasan seputar simbol. Keberadaan simbol menjadi penting dalam menjelaskan fenomena komunikasi.Simbol merupakan produk budaya suatu masyarakat untuk mengungkapkan ide-ide, makna, dan nilai-nilai yang ada pada diri mereka. Mengkaji aspek ini merupakan aspek yang penting dalam memahami komunikasi.Teori-teori komunikasi yang berangkat dari tradisi semiotik menjadi bagian yang penting untuk menjadi perhatian. Analisis-analisis tentang iklan, novel, sinetron, film, lirik lagu, video klip, fotografi, dan semacamnya menjadi penting. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tradisi Semiotika itu sendiri terbagi atas tiga Varian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; yaitu &lt;b style=""&gt;Semantic (bahasa)&lt;/b&gt; merujuk pada bagaimana hubungan antara tanda dengan objeknya atau tentang keberadaan dari tanda itu sendiri. &lt;b style=""&gt;sintagmatic&lt;/b&gt; atau kajian tentang hubungan antar tanda . tanda hampir tidak dapat berdiri sendiri. Dan yang terakhir &lt;b style=""&gt;paradigmatic&lt;/b&gt; yang melihat bagaiman sebuah tanda membedakan antara satu manusia dengan yang lain atau sebuah tanda bisa saja dimaknai berbeda oleh masing masing orang sesuai dengan latar belakang budayanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpLast" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-indent: -49.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Tradisi Fenomenologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana proses yang berlangsung dalam diri khalayak. Beberapa figur penting disini adalah James Lull, Ien Ang, dan sebagainya. Kajian tentang proses resepti (&lt;i&gt;reception studies&lt;/i&gt;) yang berlangsung dalam diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;khalayak menjadi penting. Maka proses resepsi sangat ditentukan oleh factor nilai-nilai yang hidup dalam diri khalayak tersebut. Pendekatan etnografi komunikasi menjadi penting diterapkan dalam tradisi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Adapun &lt;b style=""&gt;Varian&lt;/b&gt; dari &lt;b style=""&gt;tradisi Fenomonologi&lt;/b&gt; ini adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Fenomonelogi Klasik&lt;/b&gt; dipelopori oleh Edmund Husserl penemu Fenomenologi Modern Husserl percaya kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan pengalaman, tapi kita harus bagaimana pengalaman kita bekerja. Dengan kata lain kesadaran akan pengalaman dari setiap individu. kemudian &lt;b style=""&gt;Fenomenologi Persepsi&lt;/b&gt; berlawanan dengan Husser yang membatasi fenomenologi pada objektivitas dan yang terakhir adalah &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Fenomenologi Hermeneutik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; aliran ini selalu dihubungkan dengan Martin Heidegger dengan landasan filosofis yang juga biasa disebut dengan Hermeneutic of dasein yang berarti suatu “interpretasi untuk menjadi”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpLast" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Tradisi Cybernetik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Tradisi cybernetik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;berangkat dari teori sistim yang memandang terdapatnya suatu hubungan yang saling menggantungkan dalam unsur atau komponen yang ada dalam sistim. Hal lain yang penting adalah sistim dipahami sebagai suatu sistim yang bersifat terbuka sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistim. proses resepsi terhadap pesan yang berlangsung dalam diri khalayak. Beberapa figur penting disini adalah Wiener, Shannon-Weaver, Charles Berger, Guddykunts, Karl Deutch, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Adapun varian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; dari Tradisi Cybernetic ini adalah : &lt;b style=""&gt;Basic System Theory&lt;/b&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini adalah fromat dasar , pendekatan ini melukiskan seperti sebuah struktur yang nyata dan bisa di analisa dan diamati dari luar. Yang kedua adalah &lt;b style=""&gt;General System Theory&lt;/b&gt; System ini menggunakan prinsip untuk melihat bagaiaman sesuatu pada banyak bidang yang berbeda menjadi selaras antara satu dengan yang lain. Dan yang ketiga adalah &lt;b style=""&gt;Second Order Cybernetic&lt;/b&gt; dikembangkan sebagai sebuah alternative dari dua tradisi Cybernetic sebelumnya. Second order Cybernetic membuat pengamat tak dapat melihat bagaimana sebuah system bekerja di luar dengan sendirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 9pt; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;Psikologi Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. perhatian pada perubahan sikap (attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kasus lain seperti komunikasi persuasi. Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Teori-teori yang berangkat dari psikologi sosial ini juga dapat menjelaskan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima, manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berfikir, memahami, menggunakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan. Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Proses komunikasi manusia merupakan proses yang berlangsung dalam diri manusia. Beberapa konsep penting disini dapat disebutkan seperti judgement, prejudice, anxienty, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Adapun Varian dari Tradisi ini adalah : &lt;b style=""&gt;Behavioral&lt;/b&gt; Tipikal dari teori ini adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada hubungan apa yang kita katakana dan apa yang kita lakukan. Kemudian &lt;b style=""&gt;Koginitif &lt;/b&gt;cabang ini cukp banyak digunakan saat ini &lt;span style="color: black;"&gt;berpusat pada &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;pola pemikiran cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan memproses informasi dengan cara yang arah tingkah laku yang keluar . kemudian &lt;b style=""&gt;biological&lt;/b&gt; cabang ini berupaya mempelajari manusia dari sisi biologikalnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 9pt; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tradisi Sosial Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 9pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 9pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;berlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan kebudayaan suatu masyarakat. Konsep kebudayaan yang dirumuskan Clifford Geertz t
